Category: Tsaqofah

  • Shalat Tarawih Menghapus Dosa

    Shalat Tarawih Menghapus Dosa

     : قَالَ الإِمَامُ مُسلِمٌ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

    .مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

    Imam Muslim Rahimahimahullahu Ta’ala berkata :

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, ia berkata: Saya telah membacakan kepada Malik, dari Ibnu Syihab, dari Humaid bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

    (HR. Muslim no. 1266).

    Ma sya Allah, bulan Ramadhan merupakan bulan ibadah. Bulan ini memang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas spiritual. Dini hari menjelang Subuh, umat Islam disunnahkan untuk bangun dan segera santap sahur, dilanjutkan dengan shalat Subuh berjama’ah. Sepanjang waktu mereka diberikan kesempatan untuk lebih dekat dengan Allah baik dengan cara mengkhatamkan Al-Qur’an, bersedekah, dan berbuka puasa bersama (ifthar jama’i).

    Tidak puas dengan kegiatan ibadah siang, Allah membuka kesempatan kepada para hamba-Nya untuk lebih dekat lagi dengan melalui kesunnahan shalat tarawih berjama’ah. Ma sya Allah! Kaum muslimin pulang lebih awal dari biasanya agar bisa berbuka puasa di rumah bersama keluarga tercinta dan bisa mengikuti shalat tarawih berjama’ah. Ma sya Allah! Amboi… Indah nian!

    Jika hanya dipandang dari segi fisik, sebetulnya shalat tarawih itu berat. Bagaimana tidak! seharian lelah bekerja dan menahan lapar dan haus, seharusnya malam tinggal istirahat saja bahkan jika bisa langsung tarik selimut dan segera tidur lelap karena esok dini hari sudah bangun lagi untuk santap sahur. Tapi lagi-lagi semua itu tidak menjadi perhitungan bagi kaum muslimin yang tinggi semangat ibadah dan keikhlasannya. Lelah mungkin iya, tapi mereka menepis itu karena mereka mengejar ampunan Allah melalui shalat tarawih sebagaiman hadits di atas.

    Shalat tarawih hanya bisa dilakukan di malam bulan Ramadhan. Jika ada momen langka atau khusus, biasanya pedagang atau pebisnis membela mati-matian mengejarnya agar mendapat keuntungan berlipat. Begitupun shalat tarawih. Bagi mereka yang mengejar pahala dan ampunan tentu tidak mau ketinggalan sedikitpun. Pepatah jawa mengatakan “Mumpung padang rembulane, Mumpung jembar kalangane.”

    Jangan terpengaruh dengan kebiasaan yang ada sejak dulu, lebih baik kedepankan husnuzzhan saja. Tidak aneh, dimana -mana saja sama. Awal Ramadhan, biasanya jama’ah shalat tarawih di masjid atau mushalla selalu membludak (penuh) bahkan sampai pekarangan. Dalam hitungan 10 malam hingga 29 atau 30 malam, jama’ah tarawih terus berkurang hingga mungkin hanya mencapai dua shaff saja. Hal tersebut tidak usah mempengaruhi kita jadi ikut-ikutan malas shalat tarawih. Husnuzzhan saja, barangkali banyak jama’ah yang sudah pulang ke kampung halamannya masing-masing!

    Tidak perlu lagi ribut masalah jumlah raka’at shalat tarawih. Masalah itu sudah ada sebelum kita lahir. Mau yang 8 raka’at ditambah witir 3 rakaat yang semuanya menjadi 11 raka’at silahkan! Mau yang 20  ditambah 3 raka’at witir yang totalnya menjadi 23, silahkan! Yang mau 36 raka’at ya silahkan! bahkan yang mau dua raka’aat saja ya silahkan, lha wong fiqihnya bilang sah koq walaupun hanya 2 raka’at tok!

    Walahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

    Artikel disadur dari App. Hadis-hadis Ramadhan

    Terbitan : Pusat Kajian Hadis

    Link download : bit.ly/apphadisramadhan

  • Lupa Saat Puasa Ramadhan

    Lupa Saat Puasa Ramadhan

    Hadis-hadis Ramadhan: Lupa Saat Puasa Ramadhan

     

    حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا ابْنُ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Zurai’ telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Ibnu Sirin dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum”. (HR. Bukhari no. 1797).

    Salah satu bentuk kasih sayang Allah bagi orang yang berpuasa adalah rukhshah (keringanan) ketika ia makan dan minum karena lupa. Karena ketidak sengajaan itulah puasanya menjadi tidak batal. Rasulullah mengatakan di saat lupa itulah Allah memberinya rezeki berupa makanan atau minuman. Orang yang tidak sengaja makan dan minum tidak batal puasanya dan tidak ada kafarat atau qadha merupakan pendapat mayoritas ulama fiqh.

    Lalu bagaimana dengan jima’ karena lupa ? apakah sama dengan makan atau minum karena lupa ?

    Berikut pendapat para ulama :

    Imam Syafi’i dan Hanafi berpendapat bahwa orang yang jima’ saat puasa Ramadhan karena lupa, tidak batal puasanya. karena tidak batal, maka tidak ada qadha’ dan kafarat. Madzhab ini meng-qiyaskan dengan hukum bagi orang yang tidak batal puasanya  karena makan dan minum tanpa sengaja.

    Imam Malik berpendapat bagi yang berpuasa ramadahan kemudian berjima’, makan atau minum karena lupa, batal puasanya dan hanya wajib qadha’ saja tanpa kafarat.

    Imam Ahmad berpendapat, orang yang makan dan minum karena lupa, puasanya tidak batal. Adapun bagi yang berjima’ karena lupa, maka puasanya batal, wajib qadha’ dan bayar kafarat.

    Wallau A’lam.

    Ridwan Shaleh

  • Kecerdasan Anas Ibn Malik Dalam Menerima Hadis dan Menyampaikannya

    Kecerdasan Anas Ibn Malik Dalam Menerima Hadis dan Menyampaikannya

    Kondisi zaman dulu tentunya sangat jauh berbeda dengan sekarang. Untuk menyimak suatu pesan, pelajaran atau informasi, apalagi yang bersifat sangat penting, tentu audiens menyiapkan media pendukung agar pesan atau informasi mudah disimpan. Seorang wartawan ada yang menyiapkan kamera, HP atau paling tidak secarik kertas dan pulpen untuk menyimpan data dan tidak mau ambil resiko menghafal pesan atau info tersebut di otaknya untuk menghindari “salah hafal”.

    Hal ini tentu jauh berbeda dengan para sahabat ketika menerima hadis, baik yang langsung mereka terima dari Rasulullah atau melalui sahabat lainnya. Di zaman itu masih sangat sedikit yang mampu baca tulis, mereka mengandalkan hafalan tok ! Sekalipun bisa baca tulis, ada juga larangan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam untuk menulis hadis karena khawatir tercampur dengan ayat Al-Qur’an.

    Walau pun kondisinya seperti itu, tidak mengurangi semangat dan antusiasme para sahabat untuk menerima hadis dari Rasulullah dan berusaha menghafalnya dan menjaga agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an.

    Berikut satu contoh hadis yang cukup panjang tentang peristiwa Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh perawi pertama, Anas Ibn Malik Radhiyallahu Anhu. Mohon bersabar !

    حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِابْنَيْ الْخَالَةِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَيَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قَالَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا } ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ قَالَ فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ يَا رَبِّ خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ قَالَ فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً قَالَ فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ (رواه مسلم)

    Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya.” Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.” Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu. Dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, ‘Kamu telah memilih fitrah’. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanyakan lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutus? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutus.’ Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: ‘(Dan kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi darjatnya) ‘. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihissalam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawabnya, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan.” Beliau bersabda: “Ketika beliau menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa Alaihissalam, dia bertanya, ‘Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ‘ Beliau bersabda: “Shalat lima puluh waktu’. Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan menguji mereka’. Beliau bersabda: “Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku’. Lalu Allah subhanahu wata’ala. mengurangkan lima waktu shalat dari beliau’. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangkan lima waktu shalat dariku’. Nabi Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi’. Beliau bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya’. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan’. Aku menjawab, ‘Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya.” (HR. Muslim).

    Jika kita cermati hadis panjang di atas, secara berurutan menceritakan bebrapa poit :

    1. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam diberikan Buraq dan menceritakan bentuk Buraq.
    2. Rasulullah menunggangi Buraq (dari Masjid Haram) dan singgah di Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha) lalu mengikat Buraq di salah satu tiang masjid yang biasa dilakukan para Nabi terdahulu ketika mengikat binatang tunggangan mereka.
    3. Rasulullah memasuki masjid lalu shalat dua raka’at. Menurut riwayat lain yang masih juga dari jalur Anas Ibn Malik, Rasulullah mengimami para Nabi dalam shalat tersebut.
    4. Selesai Shalat, Jibril mendatangi Rasulullah dengan membawa dua minuman, arak dan susu lalu beliau memilih susu.
    5. Setelah itu Rasulullah bersama Jibril naik ke langit (mi’raj). Sesampai di pintu langit pertama, minta dibukakan oleh malaikat penjaga pintu langit dan setelah dibuka, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam As.
    6. Naik ke langit berikutnya sampai ke kangit tujuh dan bertemu beberapa Nabi dengan urutan : Isa dan Yahya As, Yusuf As, Idris As, Harun As, Musa dan terakhir Ibrahim As.
    7. Di langit ke-7 beliau melihat Nabi Ibrahim bersandar di Al-Bait Al-Ma’mur, ka’bah penghuni langit yang dithawafi oleh 70.000 malaikat setiah harinya.
    8. Setelah itu menuju Sidrat Al-Muntaha dan menceritakaan keindahannya.
    9. Menerima kewajiban secara langsung dari Allah Azza Wa Jalla untuk mendirikan Shalat 50 waktu.
    10. Turun dari Sidrat Al-Muntaha. Ketika bertemu kembali dengan Nabi Musa As terjadilah dialog yang intinya Nabi Musa mengusulkan agar Rasulullah meminta keringanan kepada Allah agar Shalat tidak dilaksakan 50 waktu.
    11. Rasulullah melaksanakan usul dari Musa As dan Allah menguranginya 5 waktu.
    12. Nabi Musa masih merasa keberatan dan meminta agar dikurangi lagi. Begitu seterusnya sampai Allah menetapkan menjadi 5 waktu yang pahalanya sebanding dengan 50 waktu.
    13. Nabi Musa tetap merasa keberatan dan menyarankan Rasulullah agar dikuragi lagi. Rasulullah merasa malu kepada Allah jika saran Nabi Musa dilaksanakan.

    Ma sya Allah, paling sedikit ada 13 poin yang dihafal secara langsung oleh Anas Bin Malik tanpa coretan pena di atas kertas sedikitpun ! Itulah perjuangan para sahabat belajar kepada Rasulullah dengan sangat sungguh-sungguh. Bagi mereka yang tidak sempat datng menghadiri Majlis Rasulullah, mereka selalu minta diajari oleh sahabat yang datang.

    Salah satu hikmah dari isi hadis di atas adalah betapa pentingnya mendirikan shalat lima waktu. Jika shalat adalah kewajiban biasa, untuk apa Rasulullah menembus langit untuk menerima perintah tersebut secara langsung dari Allah tanpa perantara malaikat ?

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

     

     

  • Riya’ Perusak Amal Paling Efektif

    Riya’ Perusak Amal Paling Efektif

    Salah satu penyakit paling popular yang sering kita dengar dari kecil hingga sekarang diantaranya adalah riya’. Tidak sulit mengartikan riya’. Dengan memperhatikan ayat 6 Surat Al-Ma’un saja kita sudah faham. Gampangnya riya itu pamer keta’atan karena semata ingin dipuji orang.

    Q.S. Al-Ma’un ayat 6 :

    ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ

    “Yang berbuat ria.”

    Al-Imam Muhammad Ibn Ahmad Ibn Abi Bakr Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-jami’ Li Ahkam Al-Qur’an menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut :

    الذين هم يراءون أي يري الناس أنه يصلي طاعة وهو يصلي تقية ; كالفاسق ، يري أنه يصلي عبادة وهو يصلي ليقال : إنه يصلي . وحقيقة الرياء طلب ما في الدنيا بالعبادة ، وأصله طلب المنزلة في قلوب الناس.

    “Orang-orang riya’ yaitu manusia melihat seorang yang sedang shalat (terlihat) taat padahal ia sedang berpura-pura, seperti orang fasiq yang terlihat shalat sebagai ibadah agar ia dikatakan ibadah. Hakikat riya’ adalah mencari duniawi dengan (casing) ibadah, padahal aslinya adalah mencari kedudukan di hati manusia.”

    Mudahnya, riya’ itu lawannya ikhlas. Orang yang riya’ tidak mau cari pahala ketika dia ibadah baik shalat maupun lainnya. Ia hanya ingin dipuji orang lain agar ia dinilai orang yang shaleh. Ibadah orang yang riya’ sudah pasti ditolak oleh Allah. Yang tidak riya’ saja belum tentu Allah terima, apalagi ibadah karena riya’. Ternyata,”caper” itu ada juga dalam hal ibadah ya ! Dan sudah pasti pelaku riya’ adalah pendusta agama !

    Umat Islam harus menghindari sifat riya; agar ibadahnya diterima oleh Allah. Jangan dibiasakan, riya’ itu berbahaya jika diidiamkan, bisa merusak amal ibadah kita.

    Riya’ Itu Ciri Munafiq.

    إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ يُخَٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ يُرَآءُونَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

    “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa : 142)

    Riya’ Itu Syirik Kecil

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

    عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً (رواه احمد)

    Dari Mahmud bin Labid berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: Apa itu syirik kecil wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Riya`, Allah ‘azza wajalla berfirman kepada mereka pada hari kiamat saat orang-orang diberi balasan atas amal-amal mereka: Temuilah orang-orang yang dulu kau perlihat-lihatkan didunia lalu lihatlah apakah kalian menemukan balasan disisi mereka?” (Ahmad)

     

    Gagal Pahala dan Masuk Neraka

    Allah berfirman :

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًا لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍ مِّمَّا كَسَبُوا۟ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ

    “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah : 264)

    Hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam :

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ أَيُّهَا الشَّيْخُ حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ و حَدَّثَنَاه عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ يَعْنِي ابْنَ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ تَفَرَّجَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَالَ لَهُ نَاتِلٌ الشَّامِىُّ وَاقْتَصَّ  الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ خَالِدِ بْنِ الْحَارِثِ

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib Al Haritsi telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij telah menceritakan kepadaku Yunus bin Yusuf dari Sulaiman bin Yasar dia berkata, “Orang-orang berpencar dari hadapan Abu Hurairah, setelah itu Natil, seorang penduduk Syam, bertanya, “Wahai Syaikh, ceritakanlah kepada kami hadits yang pernah kamu dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!” dia menjawab, “Ya, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisap pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan karena untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat? ‘ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Qur’an demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Qur’an agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang di beri keluasan rizki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya? ‘ dia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau ridlai.” Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

    Singkatnya, riya’ itu pekerjaan orang “caper”, munafiq. Pendusta agama, gagal pahala dan masuk neraka. Marilah kita jauhi perbuatan riya’ dan kita bertaubat jika memang dalam hidup kita pernah mengalaminya.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

     

     

  • Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Mengedepankan Solusi

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Mengedepankan Solusi

    Di saat tertentu, emosi kita bisa dengan mudah terpancing dan terkadang membawa kita untuk tidak bersabar dan melakukan hal-hal yang kurang patut. Di saat itulah sebenarnya kesabaran kita benar-benar diuji. Dengan stabilnya kesabaran, jiwa dan fikiran akan tetap jernih dan bisa mengatasi masalah dengan cepat dan benar. Dan tentunya, suatu peristiwa dalam hidup ang biasa kita sebut dengan pengalaman dapat menjadi hikmah untuk kita.

    Ada beberapa kasus menarik yang pernah terjadi di masa Rasulullah Shallalllahu Alaihi Wa Sallam. Kasus ini membuat kebanyakan sahabat hampir saja marah-marah karena tindakan seseorang yang dirasa keterlaluan. Berikut kisah tersebut yang termuat dalam hadis :

    حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ . (رواه البخارى و النسائ و احمد)

    Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud bahwa Abu Hurairah berkata, “Seorang ‘Arab badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepada mereka: “Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.” HR. Bukhari, Nasa’I dan Ahmad).

    Wajar saja jika para para Shabat Radiyallhu Anhum marah kepada Arab Badui tersebut karena perbuatannya dianggap terlalu. Rasulullah melarang para Shahabat untuk menghakimi orang itu. Jika dianalisa, dapat kita fahami :

    1. Rasulullah memaklumi bahwa orang Badui tersebut berasal dari daerah pedalaman yang notabene akses pendidikan tidak seleluasa di Madinah yang memang daerah perkotaan. Arab badui ini pasti belum memahami bahwa kencing di Masjid adalah perbuatan terlarang. Cara menegur orang yang belum faham dengan yang sudah faham tentu tidak sama.
    2. Rasulullah membiarkan orang Arab Badui tersebut menyelesaikan dulu hajatnya, setelah itu baru dinasihati. Andaikan Rasulullah membiarkan para Shahabat untuk memukulinya atau menghardiknya, bisa jadi Arab Badui tadi bisa merasakan kesakitan dan air kencingnya bisa berceceran kemana-mana.
    3. Ketimbang memperbesar masalah, Rasulullah justru memberikan solusi dan mengajarkan para Shahabat bagaimana cara membersihkan najis.

    Itulah Rasulullah, sosok jenius yang dapat menyikapi masalah dengan penuh bijaksana. Itulah yang namanya Fathanah, salah satu sifat wajib bagi Rasul yang artinya cerdas. Kacau sekali jadinya jika seorang Nabi tidak memiliki sifat ini.

    Ada juga kasus yag cukup menarik yang terjadi di masa beliau ketika ditemukan ludah pada dinding kiblat dan tidak diketahui siapa pelakunya. Berikut hadisnya :

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَبْصُقُ قِبَلَ وَجْهِهِ فَإِنَّ اللَّهَ قِبَلَ وَجْهِهِ إِذَا صَلَّى (رواه التسعة الا الترمذى)

     Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ludah di dinding kiblat, lalu beliau menggosoknya kemudian menghadap ke arah orang banyak seraya bersabda: “Jika seseorang dari kalian berdiri shalat janganlah dia meludah ke arah depannya, karena Allah berada di hadapannya ketika dia shalat.” (HR. Sembilan Imam Hadis kecuali Tirmidzi).

    Jika dilihat dari matan hadis, Rasulullah bisa saja marah dan meminta sahabat mencari tahu siapa orang yang meludah sembarangan. Bagaimana bisa ada ludah di dinding kiblat? Tapi ya tadi, bukanlah Rasulull jika tidak sabar dalam mendidik. Alih-alih marah, malah sebaliknya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam sendiri yang menggosok ludah tersebut dan mengajarkan kepada para sahabat agar tidak meludah ke arah kiblat ketika shalat. Rasulullah tidak mau menambah dan memperlebar masalah. Beliau lebih mengutamakan solusi, mengajarkan ! Satu lagi hikmah yang perlu kita garis bawahi. Hadis ini harus difahami baik-baik. Bukan diartikan boleh meludah ketika shalat di tempat yang berlantai keramik, marmer atau hamparan. Kebolehan meludah dalam hadis ini sangat dimungkinkan ketika lantai masjid saat itu masih pasir halus sehingga ludah sangat cepat terserap ! Untuk konteks saat ini, kebolehan meludah ketika shalat hanya dilakukan ketika tidak menggunakan hamparan, misalnya di atas tanah atau rumput saat berada di hutan atau kebun, Wallahu A’lam !

    Ada juga hadis singkat namun padat makna. Berikut hadisnya :

     عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ (رواه النسعة الا مالكا )

     Dari Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Sembilan Imam kecuali Malik)

    Semua ajaran Islam itu baik. Dalam hadis di atas Rasulullah menjawab pertanyaan bahwa berilslam yang baik itu adalah memberi makan dan menebarkan salam. Mengapa Rasulullah tidak menjawab bawa berislam yang paling baik adalah qiyamul lail atau puasa sunnah Daud misalnya ? Sangat dimungkinkan bahwa hadis ini diucapkan Rasulullah tatkala beliau belum lama tinggal di Madinah. Perkara penting di Madinah saat itu adalah masalah persatuan, persaudaraan dan syi’ar Islam. Ketika Beliau diitanya mengenai amalan dalam Islam yang paling baik, beliau menjawab sesuai dengan kebutuhan umat saat itu. Gemar sedekah makanan dan menyebarkan salam diantara mereka, baik kepada orang yang dikenal atau tidak,  tentu saja menjadi maslahat bagi penduduk Madinah asli (Anshar) dan pendatang (Muhajirin). Mereka semua melebur  dalam persaudaraan karena diikat oleh Islam. Luar biasa bukan? Itulah salah satu keistimewaan Rasulullah, berbicara singkat, namun padat makna dan tepat sasaran. Ya, Jawami’ Al-Kalim namanya !

    Yuk, biasakan menawarkan atau memberi solusi ketimbang memperlebar masalah ! Mau mengaku umat Rasulullah ? Silakan !

    Ridwan Shaleh

     

    Supprt dakwah Pusat Kajian Hadis melalui link berikut :

    http://Donasi.wordpress-1525011-5871863.cloudwaysapps.com

  • Samhan, Terpuji Dalam Bermua’malah

    Samhan, Terpuji Dalam Bermua’malah

    Manusia adalah makhluk sosial yang kesehariannya tidak lepas dari pergaulan. Dalam agama Islam, pergaulan atau interaksi sosial dikenal dengan istilah mu’amalah, yaitu hubungan sosial yang berlandaskan syariah. Artinya, walaupun ada unsur kebebasan untuk berinteraksi dengan siapa saja, termasuk kepada non muslim, tetap saja harus berlandaskan syariah yang tujuannya tidak lain adalah memperoleh maslahat.

    Yang namanya manusia, tentu memiliki karakter dan kebiasaan berbeda. Dalam kenyataanya, hubungan antar individu atau pun kelompok tidak lepas dari perselisihan, ketidak harmonisan, pertentangan, pertikaian dan sebagainya. Masalah-masalah tersebut bisa saja terjadi karena egoisme, arogansi, anarkisme dan sejenisnya. Karena merasa lebih atau paling hebat, seseorang berlaku zhalim terhadap orang lain. Agar manusia tetap berada pada fitrahnya sebagai makhluk terbaik, maka Islam membahas perkara-perkara mua’malah untuk kebaikan manusia itu sendiri, baik untuk seorang muslim maupun non muslim.

    Ada karakter yang semestinya dimiliki oleh setiap muslim dalam mu’amalah. Rasulullah Shallalllahu Alaihi Wa Sallam begitu indahnya menggambarkan individu yang memiliki karakter “As-Samh” dalam satu hadis berikut :

    حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا سَمْحًا إِذَا بَاعَ وَإِذَا اشْتَرَى وَإِذَا اقْتَضَى.

    “Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy telah menceritakan kepada kami Abu Ghossan Muhammad bin Muthorrif berkata, telah menceritakan kepada saya Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah merahmati orang yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli dan juga orang yang meminta haknya”. (HR. Al-Bukhari no.1934). Hadis semisal juga diriwayatkan oleh Ibn Majah no. 2194, Tirmidzi no. 1241, Ahmad 390 dan Malik no. 1193).

    Kata “Samhan” (سمحا) dalam hadis di atas adalah bentuk mashdar yang memiliki beberapa makna diantaranya adalah “Sahlan” yamg artinya kemudahan dan juga “Juudan” yang bermakna dermawan, hati yang lapang dan berjiwa mulia. Dengan demikian, Samhan (سمحان) adalah orang yang suka memberi kemudahan, berhati lapang, berjiwa mulia dan dermawan.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam memuji dan mendoakan agar Allah memberikan rahmat dan kasih sayang-Nya kepada orang yang “Samhan”, baik ketika posisinya sebagai pedagang, pembeli atau orang yang meminta haknya dikembalikan.

    Contoh berlaku samhan bagi penjual adalah tidak mematok harga terlalu tinggi, tidak mengeruk keuntungan terlalu banyak, tidak “jutek” kepada pembeli dan lain sebagainya.

    Samhan bagi pembeli adalah tidak terlalu banyak menawar apalagi dengan harga tawar yang “menyakitkan”, mencela barang yang akan dibeli, membatalkan transaksi dengan alasan yang tidak wajar dan tidak selalu merasa bahwa “Pembeli Adalah Raja”.

    Samhan bagi orang yang meminta haknya adalah tidak memaksa dalam menagih hutang. Sebisa mungkin memberi tenggang waktu tambahan bagi yang berhutang ketika memang belum bisa membayar, bahkan lebih baik lagi membebaskan hutang jika mampu melakukannya. Allah berfirman :

    وَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    “Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 280)”

    Apakah “Samhan” hanya terbatas pada tiga (hal) hal sebagaimana hadis di atas? Sepertinya tidak demikian. Bisa jadi Rasulullah tidak membatasi. Tiga hal di atas hanyalah contoh saja. Yang menjadi tekanan dalam hadis di atas adalah bagaimana seorang muslim harus memiliki karakter samhan dalam berinteraksi kepada siapa saja, terutama kepada sesama mu’min. Menjadi guru harus samhan, menjadi orang tua juga harus samhan, menjadi atasan juga harus samhan. Menjadi pemimpin atau penguasa juga haus samhan. Terhadap perbedaan furu’ juga harus samhan dan tidak seenaknya membid’ahkan amalan seorang mu’min yang juga belandaskan dalil !

    Mengapa Allah merahmati orang yang samhan? Ya tentu saja ! Orang yang samhan itu tidak “mentang-mentang” dan tidak merasa “di atas angin.” Dan tentunya orang yang samhan tidak arogan bin zhalim.

    Wallahu A’lam

    Ridwan Shaleh

    Referensi :

    • Al-Qur’an Al-Karim
    • Fath Al-Bari’
    • Hasyiyah Al-Sindi
    • Tuhfah Al-Ahwadzi
    • Al-Muntaqa Syarah Al-Muwattha’
    • Al Adab Al-Nabawi Li Al-Syaikh Muhammad Abd Al-Aziz Al-Khuli

     

     

     

  • Ingat Mati ? Penting !

    Ingat Mati ? Penting !

    Kita tidak bisa selamanya hidup di dunia dan terus menikmati fasilitas yang ada di dalamnya. Semua perkara ada batasnya. Kekayaan yang  dinikmati di dunia ada masanya, begitu juga dengan kemisikinan, juga tidak terus menerus dirasakan. Semua itu habis pada waktunya.

    Sekalipun kita diberikan umur panjang 200 tahun, apakah kenikmatan dunia bisa maksimal dirasakan ? Tidak ! Apakah kita bisa menikmati Sop Iga Bakar dengan punggung membungkuk, tangan gemetar dan gigi yang sudah raib semua ? Masih untung jika di usia tersebut sehat. Jika sakit, mungkin lebih memilh mati saja.

    Allah mengingatkan kita semua melalui salah satu firman-Nya :

    وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى ٱلْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ

    “Dan barangsiapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti?” (Q.S. Yasin : 68)

    Walaupun kematian tidak memberi kabar kepada kita secara langsung, namun ia mempunyai tanda-tanda dimana ajal sudah tidak lagi lama. Keriput, kendurnya otot, uban yang kian menutup kepala, lemahnya ingatan, lemahnya daya lihat, daya dengar dan daya-daya lainnya merupakan “Alarm Alami” bagi kita. Sangat elok jika kita melihat orang-orang tua yang sudah lanjut usia rajin ke masjid, rajin mengikuti Majlis Taklim walapun tidak selalu faham saat megikuti kajian. Selain pantas, semua itu dilakukan untuk menunggu mati. Beliau-beliau itu ingin mati dalam keadaan baik (Husnul Khatimah). Namun tidak sedikit jua yang sudah sepuh lupa dengan usianya. Ada yang masih hobi berjudi, mabuk, zina dan malas untuk menunaikan shalat, na’udzu billah ! Semoga Allah memberi hidayah, aamiin.

    Ingat Mati Itu Baik, Menjadi Motivasi Untuk Hidup Dalam Kebaikan.

    Orang yang selalu ingat mati tentu mempersiapkan kehidupan sesudah mati. Ia memahami bahwa ada lagi kehidupan setelah mati. Bekal kehidupan setelah kematian bukanlah harta melimpah, rumah mewah, perhiasan berkilo-kilo dan sejenisnya. Bekal yang hanya berlaku adalah “Amal Kebaikan”. Dengan begitu, orang ini rajin beribadah, bersedekah, menjalankan syari’ah dengan benar, tidak zhalim, tidak korupsi, tidak menipu, tidak judi, tidak zina. Orang seperti ini hidupnya bersih, tidak jorok dan kotor !

    Kematian Itu Bukan Akhir, Justru Awal Dari Kehidupan Panjang.

    Untuk mencapai surga atau neraka, ya mau tidak mau harus mengalami kematian terlebih dahulu, harus mengalami alam kubur terlebih dahulu, harus dikumpulkan dulu di Mahsyar, harus disidang dulu, harus melewati sirat dulu dan mengikuti rangkaian-rangkaian lainnya. Panjang ! Ya, Panjang ! Semua itu diawali dengan kematian terlebih dahulu. Dunia inilah penentuan dimana manusia mencari bekal untuk menjalani kehidupan panjang setelah mati.

    Jasad kita tidak seperti hewan yang apabila mati bangkainya hancur begitu saja, tidak ! Ruh akan dikembalikan ke jasad untuk menkmati apa yang kita capai dan kerjakan selama di dunia.

    Allah berfirman :

    مِنْهَا خَلَقْنَٰكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

    “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (Q.S. Toha : 55)

    Wajar Jika Takut Mati, Tapi yang Lebih ditakutkan adalah Bagaimana Keadaan Setelah Mati.

    Allah berfirman :

    قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

    “Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Jumu’ah : 8)

    Pada saatnya nanti, Allah akan membeberkan apa-apa yang pernah kita lakukan di dunia, tak sedikitpun yang terlewat. Detail, cermat dan akurat ! Inilah saat kita nanti bahagia, takut, malu sedih dan semua rasa menyatu. Di saat Allah memperlihatkan amal baik kita, tentulah bahagia. Namun jika Allah memperlihatkan amal buruk kita, tentulah kita malu, takut  dan sedih.

    Mau Mati Baik (Husnul Khatimah ) ?

    Tentu banyak cara agar memperoleh husnul khatimah. Salah satu diantaranya adalah selalu bersangka baik kepada Allah. Rasulullah Shalla Allahu Alaihi Wa Sallam mewanti-wanti umatnya agar selalu berhusnuz zhan (baik sangka) kepada Allah.

    Hadis riwayat Al-Imam Muslim :

    عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ يَقُولُ لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

    Dari Jabir Radhiyallahu Anhu berkata: Aku mendengar Nabi Shalla Allahu Alaihi Wa Salam bersabda tiga hari sebelum beliau wafat: “Jangalah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah.”(HR. Muslim)

    Al Imam Nawawi menjelaskan bahwa sebelum seorang mu’min meninggal dunia hendaklah ia bersangka baik kepada Allah bahwa ia diampuni. Ia tidak boleh putus asa dari kasih sayang (rahmah) Allah. Hal ini merupakan harapan baik ketika ajal datang.

    Momen Indah Atau Juga Mencekam Saat Jenazah Ditandu Di Atas Keranda

    عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وُضِعَتْ الْجِنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ

    Dari Sa’id bin Abu Sa’id dari bapaknya bahwa dia mendengar Abu Sa’id AL Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika jenazah diletakkan lalu dibawa oleh para pemandu di atas pundak mereka, maka jika jenazah tersebut termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka dia akan berkata; “Bersegeralah kalian, bersegeralah kalian (membawa aku). Dan jika ia bukan dari orang shalih, maka dia akan berkata; “Celaka, kemana mereka akan membawanya?. Suara jenazah itu didengar oleh setiap makhluq kecuali manusia dan seandainya ada manusia yang mendengarnya tentu dia akan jatuh pingsan”. (HR. Bukhari)

    Sekaya Apapun Kita, Yang Ikut Ke Dalam Kubur Cuma Satu, Semua Orang Menjadi Miskin Setelah Mati. 

    عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :يَتْبَعُ المِيْتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ: يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ .

    Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu menuturkan, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Mayyit diiringi tiga hal, yang dua akan kembali sedang yang satu terus menyertainya, ia diiringi oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Harta dan keluarganya akan kembali, sedang amalnya akan terus tetap bersamanya.” (HR. Bukhari-Muslim).

    Di dalam kubur yang gelap dan tidak ada siapa-siapa, tentu membuat hati sedih, gundah dan takut. Di saat itulah datang amal seorang yang meyerupai bentuk manusia. Jika amalnya baik, dia akan berbentuk manusia yang indah, wangi dan ramah. Namun sebaliknya, jika amalnya buruk, ia akan berubah bentuk menjadi manusia yang menyeramkan, berbau busuk dan bersuara kasar. Amal akan menemani seseorang dalam kuburnya entah berapa lamanya sampai datang Hari Kiamat.

    Ya, ternyata ingat mati itu penting dan harus sering diingat, sesuai pesan Rasulullah Shalla Allahu Alaihi Wa Sallam. Terlebih di musim pandemi Covid-19 ini, entah berapa jenazah yang lewat di depan kita… tidak kah cukup menjadi pengingat dan warning?

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي المَوْتَ .

    Dari Abu Hurairah ra. pula, berkata: Rasulullah Shalla Allahu Alaihi Wa Sallam bersabda : “Perbanyaklah kalian mengingat kepada sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitu maut.” (HR. Tirmidzi)

    Kita semua yang sekarang ini masih hidup tak lain adalah calon mayyit. Waktu yang masih ada adalah sisa umur kita. Semoga kita semua mati dalam keadaan baik, Husnul Khatimah, aamiin.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Pergantian Tahun Merupakan Salah Satu Tanda Kebesaran Allah

    Pergantian Tahun Merupakan Salah Satu Tanda Kebesaran Allah

    Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Mulia dan segala nama dan sifat wajib yang layak disandang-Nya. Allah berkehendak memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran dan kemulian-Nya kepada manusia agar mentadabburi dan menginsyafinya. Dengan gaya bahasa dan nilai sastra yang sangat menakjubkan, Allah menyampaikan tanda-tanda kebesaran-Nya di dalam Al-Qur’an.

    إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ

    “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (Q.S. Ali Imran : 190)

    Langit dan bumi yang begitu luas dan besar dan segala macam yang ada pada keduanya tentulah sangat menakjubkan jika direnungi. Begitu sulitnya menciptakan mereka. Alih-alih menciptakan langit, menciptakan seekor kutu saja manusia tidak mampu hatta ia seorang professor sekalipun ! Belum lagi lautan, tata surya, gunung-gunung penancap bumi yang di dalamnya ada cairan ribuan kubik yang panasnya sangat dahsyat ! Bagaimana pula dengan milyaran pohon yang tumbuh di atas tanah dengan ragam warna, ragam buah baik bentu dan rasanya padahal ditanam di tanah yang sama dan disirami dengan air yang sama pula ? Bagaimana pula dengan milyaran binatang yang begitu rupa bentuk dan suaranya, baik yang liar mapun yang jinak. Ada yang dimanfaatkan dagingnya untuk kita makan. Ada bulu dan warna kulitnya yang indah dipandang mata dan ada pula yang kita jadikan pakaian. Ada pula yang kita jadikan kendaraan. Bahkan binantang pengganggu seperti tikus, kecoa, lalat, serangga. Sepintas mereka tidak ada manfaat sama sekali di mata kita. Padahal berapa milyar perputaran uang bisa terjadi lantaran keberadaan mereka. Ragam produk pembasmi serangga, tikus, kecoa, kutu dan lain-lain tercipta. Ma Sya Allah ! Entah berapa lama proses penciptaan langit dengan tingkat kesulitan super tinggi. Tapi semua itu sangat mudah bagi Allah, Kun Fa Yakun !

    Tanda berikutnya adalah silih bergantinya siang dan malam. Allah mengajak makhluknya yang dianugerahi akal pikiran agar memperhatikannya. Dengan silih bergantinya malam dan siang, menjadikan suhu bumi ini stabil. Makhluk yang tinggal di bumi termasuk manusia, hewan dan tumbuhan dibuat nyaman untuk menjalani hidup. Apa yang terjadi jika bumi tidak ada siang? Apa yang dirasakan penduduk bumi jika tidak ada malam ? Nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan?

    Silih bergantinya siang dan malam tentu terjadi karena adanya matahari dan bulan. Revolusi matahari dan bulan serta berputarnya bumi pada porosnya merupakan Taqdiirul Azizizil ‘Aliim ! Melalui media matahari dan bulan, manusia dapat menghitung waktu dan membuat sistem penanggalan.

    وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ ٱلَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ ٱلنَّهَارِ مُبْصِرَةً لِّتَبْتَغُوا۟ فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ وَكُلَّ شَىْءٍ فَصَّلْنَٰهُ تَفْصِيلًا

    “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran Kami), kemudian Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang benderang, agar kamu (dapat) mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Q.S. Al-Isra’ : 12)

    Allah memberi nikmat siang agar mudah mencari rezeki dan nikmat malam untuk tidur dan beristitahat. Dan dengan siang-malam, matahari dan bulan, kita bisa menghiung waktu. Kita bisa membuat agenda dan program yang akan dilakksanakan semau kita. Hari apa, tanggal berapa, bulan apa dan tahun berapa bisa kita kondisikan untuk melaksanakan sesuatu . Semua itu tidak akan pernah terjadi sedetikpun jika Allah tidak menciptakan matahari dan bulan serta bergantinya siang dan malam ! Nikmat mana lagi yang akan kita dustakan ?

      فَالِقُ ٱلْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ ٱلَّيْلَ سَكَنًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ حُسْبَانًا ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

    “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketetapan Allah Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-An’am : 96)

    Matahari atau bulan bisa dijadikan media untuk menghitung perputaran waktu yang kita sebut dengan kalender. Jika perhitungan berdasarkan pergerakan bumi mengelilingi matahari, maka disebutlah dengan istilah kalender matahari atau syamsiyah. Mulai menghitungnya tergantung manusianya. Saat ini kalender sistem matahari dimulai sejak lahirnya Nabi Isa AS menurut perkiraan. Jika perhitungan berdasaran media bulan, maka disebutlah kalender qamariyah. Perhitungan kalender qamariyah dimulai sejak peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan para Sahabat Radhiyallahu Anhum dari Makkah ke Madinah.

    Pergantian tahun, baik menurut sistem hitungan matahari atau bulan adalah suatu keniscayaan dan merupakan sunnatullah yang ada sejak dulu dan akan berakhir hari kiamat kelak. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Yang paling benar adalah dengan mentadabburi peristiwa tersebut.

    Sejatinya, salah satu hikmah dari pergantian waktu, baik detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun adalah meunggu ajal kita. Sudahkah waktu yang kita lewati ini penuh makna atau sia-sia? Apakah waktu yang kita lewati penuh dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya atau maksiat? Apakah waktu yang kita lewati lebih banyak memberi manfaat kepada orang lain atau sebaliknya, zhalim, menipu, menindas, memfitnah ? Itu yang seharusnya  dilakukan ! Jika ada pertanyaan, apakah boleh memperingati tahun baru dengan joged ria bercampur baur antara pria dan wanita yang bukan mahrom? Apakah boleh memperingati pergantian tahun baru dengan menghabiskan malam penuh hura-hura ? Apakah boleh menyambutnya dengan tiup terompet dan kembang api ? jawabannya bukan boleh atau tidak, tapi tanyalah hati nurani kita. Yang diinginkan oleh Allah adalah tadabbur koq !

    Salah satu pesan Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Sallam terkait waktu dan usia :

     عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

    Dari ‘Abdullah bin Busr, seorang badui bertanya: Wahai Rasulullah, siapa orang terbaik itu? Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam menjawab: “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.“ (HR. Tirmidzi).

    Jika merasa belum baik amal, masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaiki dan memaksimalkannya. Detik, menit, jam, hari dan tahun yang akan kita temui adalah sisa yang Allah berikan untuk kita semua.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

  • Surga dan Para Penghuninya

    Surga dan Para Penghuninya

    Siapakah yang tidak ingin masuk surga ? Jawabnya tentu semua orang ingin masuk surga kecuali mereka yang memang atheis, tidak percaya adanya tuhan dan kehidupan setelah kematian. Bagi mereka yang atheis, jasad yang dikubur dalam tanah akan hancur begitu saja sejalan dengan waktu dan menjadi konsumsi binatang-binatang dalam tanah.

    Ingin masuk surga adalah kodrat manusia yang percaya adanya tuhan namun tidak bisa memasukinya karena beberapa alasan. Ada hadis shahih Rasulullah yang sangat menarik ketika menerangkan salah satu hal yang berkaitan dengan surga. Rasulullah bersabda bahwa setiap uummatnya berhak memasuki surga kecuali yang enggan memasukinya. Berikut hadis lengkapnya :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى –  رواه البخاري و احمد –

    Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

    Begitulah cara Rasulullah menerangkan sesuatu, singkat, padat jelas dan penuh hikmah. Beliau adalah Jawami’ Al-Kalim (memberikan penjelasan dengan kalimat ringkas dan padat makna).

    Pemahaman mudahnya, orang Islam yang tidak mau masuk surga adalah mereka yang tidak mau nenaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Tidak taat perintah beliau artinya tidak taat kepada Allah. Lawan dari taat adalah maksiat (pembangkangan). Tidak taat itu bisa terjadi karena malas, tidak tahu aturan atau juga menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Al Imam Ibn Hajar Al-Asqallani dalam kitabnya Al-Fath juga berkomentar kurang lebih sama, bahwa masuk surga merupakan hak setiap ummat Rasulullah kecuali bagi mereka yang enggan yaitu membangkang perintah Rasulullah.

    Tapi ingatlah, secara hakikat masuknya orang ke surga itu hanya karena rahmat (kasing sayang) Allah. Pahala berlimpah karena ibadah dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya merupakan aturan baku yang tidak bisa diutak-atik. Artinya ketika ada orang yang “Besar Kepala” dengan amalnya yang begitu banyak dan yakin bahwa hanya dengan pahala itulah dia masuk surga, itu keliru besar !

    Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

    عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلَا يُجِيرُهُ مِنْ النَّارِ وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ  – رواه مسلم  –

    Dari Jabir berkata: Aku mendengar nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah.” (HR. Muslim).

    Dalam kitabnya Al-Minhaj, Imam An-Nawawi memberi komentar hadis  ini kurang lebihnya seperti ini :

    “Makna tekstual hadis-hadis ini (hadis-hadis yang menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke dalam surga, pen) menunjukkan bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan ganjaran pahala dan surga karena ketaatannya. Adapun firman Allah “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nahl : 32) dan juga ayat “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Az-Zukhruf : 72) dan ayat-ayat semisal yang makna tekstualnya bahwa amal adalah penyebab masuknya orang ke surga. Ayat-yat ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis (tersebut di atas).  Makna ayat-ayat tersebut sudah jelas bahwa masuk surga itu disebabkan karena amal perbuatan. Kemudian Taufiq, hidayah, keikhlasan dan terima amal itu karena “rahmat” dari Allah. Yang benar adlah amal tidak menyebabkan masuk surga secara hakikat sebagaimana dimaksud oleh hadis, tapi merupakan sebab semata yang (bisa terwujud, pen) karena “rahmat’ dari Allah.

    Dari komentar Imam Nawawi tersebut, kita bisa memahami bahwa kemampuan kita beramal itu hakikatnya adalah karena rahmat dari Allah. Kita mampu menegakkan shalat karena rahmat dari Allah. Mampu berzakat semata-mata karena kasih sayang Allah yang diberikan kepada kita sehingga mampu melakukannya. Kita ikhlas bersedekah, hakikatnya karena campur tangan Allah dengan memberikan rahmat-Nya kepada kita. Dengan demikian, benarlah bahwa hadis di atas tidak kontradiksi sama sekali dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang secara tekstual  bahwa masuknya orang ke surga karena amal perbutannya. Wallahu A’lam.

    Surga itu apa sih ?

    Tidak perlu susah-susah untuk mendefinisikannya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang menerangkan sifat surga. Begitu juga definisi yang disampaikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang mereka susun. Ringkasnya, surga itu adalah sebuah tempat penuh kenikmatan sempurna, tidak ada penderitaan sekecil apapun, semua keinginan penghuninya dipenuhi dan tidak ada yang tertolak, penuh dengan pepohonan rindang dan sungai-sungai yang sejuk dan penghuninya selalu berseri-seri setiap saat. Tempat tersebut disediakan oleh Allah bagi para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Bebrapa gambaran surga dan penghuninya.

    Kenikmatan tiada tara

    عَنْ أَبي هُريْرةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : قَالَ الله تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَاقْرَؤُوا إِنْ شِئتُمْ { فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

    Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih pahala yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, juga tidak pernah terlintas dalam hati seorang manusia pun. Coba simak Firman-Nya yang artinya: Maka tiada seorang-pun yang dapat mengetahui pahala yang disembunyikan untuk mereka yang berupa apa-apa yang menyenangkan mata. (as-Sajadah:17). (Muttafaq’alaih)

    Artinya, kenikmatan paling nikmat di dunia, semahal dan semewah apapun di dunia, tentunya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenikmatan dan kemewahan surga, Maa Syaa Allah !

    Penghuninya adalah mereka yang beriman dan beramal shalih dan tidak ada yang bujangan, mereka mempunyai pasangan.

    وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوا۟ هَٰذَا ٱلَّذِى رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَٰبِهًا وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

    “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah : 25).

    Para penghuni surga mempunyai pasangan yang suci. Ada berbagai ragam penafsiran pata ulama  dalam hal ini. Mayoritas ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan pasangan yang suci adalah bidadari. Maksud dari suci di sini adalah tidak haid dan tidak melahirkan. Ada juga yang mengartikan suci dari berbagai cairan kotor yang ada dalam tubuhnya. Namun jika kita memperhatikan salah satu hadis Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa seluruh penghuni surga itu tidak buang air besar , tidak buang air kecil juga tidak memiliki ingus. Adapun sisa makanan mereka hanya menjadi keringat yang menguap wangi seperti wangi misisk. Jika memperhatikan hadis ini, kaum laki-laki dipasangkan dengan wanita penghuni surga juga selain dengan bidadari. Bisa saja dikawinkan dengan istrinya semasa di dunia jika istrinya juga masuk surga.

    Lalu bagaimana dengan kaum wanita ? Wanita yang masuk surga dikawinkan dengan pria yang masuk surga. Baik pria dan wanita, mereka semua berparas tanpan dan cantik dan tidak mempunyai cairan kotor dalam tubuh. Kecantikan para wanita penghuni surga bisa saja melebihi kecantikan bidadari. Derajat wanita penghuni surga melebihi derajat bidadari karena :

    1. Bidadari diciptakan oleh Allah langsung menjadi dewasa, tidak melalui proses kelahiran.
    2. Bidadri tidak ada kewajiban syariat bagaimana wanita muslimah.
    3. Bidadari tidak ada kewajiban menuntut ilmu
    4. Dari poin a-c, bidadari tidak pernah mengalami kesulitan dan beban apapun, kegiatannya hanya menunnggu pasangannya dengan setia dan langsung masuk surga.
    5. Wanita penghuni surga sewaktu di dunia dibebani hukum syariah. Mendapatkan pahala jika melaksanakannya dan mendapatkan dosa jika meninggalkan kewajiban hukum. Artinya mereka bersusah payah untuk memperoleh ridha dan rahmat Allah, berbanding terbalik dengan bidadari.

    Surga mempunyai berbagai tingkatan. Tingkatan terendah saja sudah sangat lux fasilitasnya.

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ أَدْنَى مَقْعَدِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ : تَمَنَّ فَيَتَمَنَّى وَيَتَمَنَّى . فَيَقُولُ لَهُ : هَلْ تَمَنَّيْتَ ؟. فَيَقُولُ : نَعَمْ. فَيَقُولُ لَهُ : فَنَّ لَكَ مَا تَمَنَّيْتَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. Bersabda : Sesungguhnya serendah-rendah tempat bagi seseorang di antara kalian di dalam surga adalah, dikatakan kepadanya: Berangan-anganlah. Maka, dia pun berangan-angan dan terus berangan-angan. Lalu dia ditanya: Apakah kamu sudah berangan-angan? Dia menjawab: Ya, Maka dikatakan kepadanya, Kamu berhak mendapatkan angan-anganmu itu ditambah satu kali lipat darinya. (HR Muslim).

    Hadis ini menjadi salah satu motivasi bagi hamba-hamba Allah untuk meningkatkan kualitas ibadah, kualitas keikhlasan dan kualitas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika fasilitas surga tingkat paling rendah saja sudah seperti itu, lalu bagaimana dengan tingkatan yang lebih tinggi atau tertinggi yaitu surga firdaus. Bahkan ada hadis lain yang menginformasikan bahwa tiap tipe surga memmpunyai 100 tingkatan. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah setara dengan jarak antara langit dan bumi, Maa Syaa Allah !

    Penghuni surga tidak memiliki cairan kotor dalam tubuhnya. Zat sisa hanya berupa keringat yang menguap wangi seperti wangi misik.

    وَعَنْ جَابِرٍ رَضِي اللّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : يَأْكُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ فِيهَا وَيَشْرَبُونُ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ، وَلَا يَبُولُونَ، وَلكِنْ طَعَامُهُمْ ذَلِكَ جُشَاءٌ كَرَشْحِ المِسْكِ يُلهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتكْبِيرَ، كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ .  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Jabir ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Para penghuni surga makan dan minum di dalamnya. Tetapi, mereka tidak buang air besar, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak buang air kecil, tetapi makanan mereka hanya menghasilkan sendawa dan menguap seperti keringat yang harum seharum minyak kasturi. Mereka diilhami untuk terus bertasbih dan bertakbir, seperti diilhamkan cara bernafas. (HR Muslim).

    Jika gambarannya saja sudah begitu, bagaimana dengan paras wajah mereka ? Silakan bayangkan sendiri, ya !

    Kenikmatan melihat Allah

    عَنْ جرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَقَال إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَاناً كما تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ. مُتَّفَقٌ علَيْهِ

    Dari Jarir Ibn Abdullah ra. berkata: Kita semua berada di sisi Rasulullah saw. lalu Beliau saw. melihat bulan pada malam purnama yakni tanggal empat belas dan bersabda: Sesungguhnya, kalian akan melihat Tuhan kalian secara langsung seperti melihat bulan ini. Kalian tidak akan terkena mudharat sedikit pun saat melihat-Nya (Muttafaq ‘alaih).

    Melihat Allah dan Rasul-Nya merupakan kenikmatan tertinggi di surga. Kita selalu mencintai dan menyembah Allah setiap saat walaupun tak bisa meliha-Nya di dunia. Kita yang selalu mencintai dan merindukan Rasulullah dengan cara mengamalkan sunnahnya memang tak pernah bertemu beliau. Namun kerinduan tersebut akan terbalas di surga dengan melihat wajah beliau dan sangat mungkin kita mendekap, mencium tangan bleiu dan berbica dengan beliau. Alahumma Shalli Alaih !

    Sebetulnya masih sangat banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah yang menggambarkan tentang kenikmatan surga dan para penghuninya yang mulia. Sermoga di lain waktu kita dapat membahasnya, aamiin.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

  • Manusia Terbaik Yang Selalu Dirindukan Sepanjang Zaman

    Manusia Terbaik Yang Selalu Dirindukan Sepanjang Zaman

    Muhammad Rasulullah Ibn Abdulah Ibn Abdul Muthalib Ibn Hayim Ibn Manaf Ibn Qushay Ibn Kilab Ibn Murrah Ibn Ka’ab Ibn Lu’ay Ibn Ghalib Ibn Fihr Ibn Malik Ibn Nadhr Ibn Kinanah Ibn Khuzaimah Ibn Mudrikah Ibn Ilyas Ibn Mudhar Ibn Nizar Ibn Ma’ad Ibn Adnan dan terus bernasab sampai dengan Nabi Ismail Ibn Nabi Ibrahim Alihimas Salam. Adalah sosok manusia yang sangat indah secara fizik, sempurna dalam spiritual dan elegan dalam emosional. Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan betapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan para Malaikat-Nya memuji keluruhan Nabi Kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Begitu juga banyak hadis-hadis Nabi yang menggambarkan betapa para Sahabat Radhiyallahu Anhum sangat mencintai, merindukan, menghormati Beliau Shallahu Alaihi Wa Sallam.

    Artikel ini sangat tidak mewakili untuk menggambarkan keistimewaan Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam. Namun sebagai hamba Allah yang sangat dhaif ini tidaklah pula salah untuk turut serta ikut meneteskan air mata kerinduan dan kecintaan, sama seperti umat Rasulullah secara umum.

    Satu Nama Yang Selalu Bersanding Dengan Nama Allah

    Allah berfirman :

    وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

    “Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.”  (Q.S. Al-Insyirah : 4)

    Allah memuliakan nama kekasihnya, Muhammad Rasulullah. Dimana nama Allah disebutkan, maka disebutkan pula nama kekasih-Nya itu.

    Ibnu Jarir Al-Thabari mengutip riwayat dari Ibn Abi Hatim dan Abu Ya’la sebagai berikut :

    عَن أَبي سَعِيدٍ، عَن رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسلَّمَ أَنَّهُ قاَلَ: «أَتَانِي جِبرِيلُ فَقَالَ: إِنَّ رَبِّي وَرَبَّكَ يَقُولُ: كَيفَ رَفَعتُ ذِكرَكَ؟ قاَلَ: اللهُ أَعلَمُ. قاَلَ: إِذَا ذُكِرتُ ذُكِرتَ مَعِي

    Dari Abu Said Radhiyallahu Anhu, dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sungguh Beliau bersabda : Jibril mendatangiku lalu berkata : Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berfirman : (tahukah engkau) Bagaimana Aku meninggikan (nama) mu? Beliau (Rasulullah) bersabda : “Hanya Allah Yang Maha Tahu.” Allah berfirman : “Jika (nama) Aku disebutkan, (maka namamu juga) disebutkan bersama-Ku.”

    Begitulah, betapa luhurnya nama kekasih-Nya, Muhammad Rasulullah. Dalam sehari semalam, paling sedikit kita menyebutkan nama kekasih-Nya itu 20 kali, tidak kurang ! Asyhadu Allaa Ilaaha Illalllaah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah , Allahumma Shalli Alaa Sayyidinaa Muhammad Wa Alaa Aali Sayyidinaa Muhammad.

    Seorang dikatakan muslim ketika sudah berikrar dan bersyahadat. Shalat apa pun, baik wajib mau pun sunnah tidak akan sah dan ditolak ketika tidak menyebut nama Allah dan kekasih-Nya. Khutbah Jum’at menjadi batal atau tidak sah ketika Al-Khathiib tidak sama sekali bershalawat kepada kekasih-Nya. Entah berapa ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan Nama Allah yang selalu tersanding dengan Nama-Nya. Singkatnya, nama kekasih-Nya selalu disebutkan oleh umat Islam seluruh dunia sampai dengan umur dunia berakhir !

    Menyebut Rasulullah Dapat Membangkitkan Jiwa.

    Ada bait syi’ir yang begitu masyhur yang sering kita dengar :

    النبي صلو عليه

    An-Nabi Shallu Alaih

    Bershalawatlah kamu sekalian kepada Nabi

    صلوات الله عليه

    Shalawaatullahi Alaih

    Shalawat (Rahmat) Allah senantiasa tercurah kepadanya

    وينال البركات  كل من صلى عليه

    Setiap orang yang bershalawt kepadanya selalu memperoleh keberkahan

    النبي ذاك العروس

    An-Nabi Dzaakal ‘Aruus

    Dialah Nabi, Sang Pengantin

    ذكره يحي النفوس

    Menyebut namanya dapat menghidupkan jiwa

    النصارى والمجوس

    Orang-orang Nasrani dan majusi

    اسلموا  على يديه

    Aslamu Alaa yadaih

    Masuk Islam dihadapannya

    Dengan menyebut nama Rasulullah (beshalawat), membuat hati kita tentram dan membangkitkan jiwa (spiritual). Bagaimana tidak ? Jika tidak melalui wasilah Beliau, bagaimana kita bisa mengenal Allah ? mengenal, membaca dan mengamalkan isi Al-Qur’an? Bagaimana kita dapat berakhlak dengan mulia ? Bagaimana kita bisa berbelas kasih ? dan pertanyaan-pertanyaan sejenisnya sebagai ungkapan rindu kepada kekasih-Nya dan syukur kepada-Nya.

    Selain berpahala, shalawat yang kita baca merupakan ungkapan penghormatan, ta’zhim dan mahabbah kepada Rasulullah Shallallahu Alaohi Wa Sallam. Diskusi dan diskursus mengenai kemuliaan akhlak dan spiritual kekasih-Nya, tidak akan pernah tuntas.

    Sosok Yang Santun Kepada Siapa Saja

     Selain sebagai penghulunya para Nabi, kekasih-Nya jugalah sorang pemimpin ummat. Seorang Nabi dan Rasul paling istimewa, juga seorang Amir. Tapi lihatlah beberapa hadis berikut yang menggambarkan bagaiamana santunnya Rasululullah kepada pembantunya, para wanita, khususnya kepada istri dan anak-anak.

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَاللَّهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا

    Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu dia berkata, “Aku menjadi pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata “Uff’ (Husy) kepadaku, dan tidak pernah membentakku dengan perkataan, “Hai, kenapa engkau perbuat begitu!” (HR. Muslim)

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

    Dari Abdullah bin ‘Amruia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadap isteri-isterinya.” (HR. Ibn Majah)

     – عن أَنس رَضِيَ اللهُ عَنْه أَنَّهُ مَرَّ عَلَى صِبيَانٍ فَسَلَّم عَلَيْهِم وقَالَ :كَانَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَفْعَلُهُ   – مُتَّفَقٌ عَلَيْه

    Dari Anas Radhiyallahu Anhu. bahwa ia berjalan melalui anak-anak, kemudian ia memberikan salam kepada mereka ini dan berkata: Nabi saw. juga melakukan sedemikian.  (Muttafaq Alaih)

    Dan banyak lagi hadis-hadis lain yang menggambarkan uswah hasanah kekasih-Nya itu.

    Akhir-akhir ini sedang viral berita tentang pelecehan terhadap Rasulullah SAW di Prancis. Andaikan para pembenci Rasulullah mengenal sosok Rasuullah dengan baik, tentu mereka tak akan melakukan itu, Justru mungkin sebaliknya, dari benci menjadi cinta dan masuk Islam, aamiin.

    Untuk menambah kerinduan dan kecintaan kita kepada Al-Habib Al-Musthafa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kita bisa mendownload aplikasi Potret Pribadi nabi Muhammad SAW melalui link :

    https://bit.ly/download-siroh-nabi-android

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh