Artikel Islam

Surga dan Para Penghuninya

pusatkajianhadis - November 28, 2020

Siapakah yang tidak ingin masuk surga ? Jawabnya tentu semua orang ingin masuk surga kecuali mereka yang memang atheis, tidak percaya adanya tuhan dan kehidupan setelah kematian. Bagi mereka yang atheis, jasad yang dikubur dalam tanah akan hancur begitu saja sejalan dengan waktu dan menjadi konsumsi binatang-binatang dalam tanah.

Ingin masuk surga adalah kodrat manusia yang percaya adanya tuhan namun tidak bisa memasukinya karena beberapa alasan. Ada hadis shahih Rasulullah yang sangat menarik ketika menerangkan salah satu hal yang berkaitan dengan surga. Rasulullah bersabda bahwa setiap uummatnya berhak memasuki surga kecuali yang enggan memasukinya. Berikut hadis lengkapnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى –  رواه البخاري و احمد –

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, ” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan.” (HR. Bukhari dan Ahmad)

Begitulah cara Rasulullah menerangkan sesuatu, singkat, padat jelas dan penuh hikmah. Beliau adalah Jawami’ Al-Kalim (memberikan penjelasan dengan kalimat ringkas dan padat makna).

Pemahaman mudahnya, orang Islam yang tidak mau masuk surga adalah mereka yang tidak mau nenaati perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Tidak taat perintah beliau artinya tidak taat kepada Allah. Lawan dari taat adalah maksiat (pembangkangan). Tidak taat itu bisa terjadi karena malas, tidak tahu aturan atau juga menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Al Imam Ibn Hajar Al-Asqallani dalam kitabnya Al-Fath juga berkomentar kurang lebih sama, bahwa masuk surga merupakan hak setiap ummat Rasulullah kecuali bagi mereka yang enggan yaitu membangkang perintah Rasulullah.

Tapi ingatlah, secara hakikat masuknya orang ke surga itu hanya karena rahmat (kasing sayang) Allah. Pahala berlimpah karena ibadah dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-nya merupakan aturan baku yang tidak bisa diutak-atik. Artinya ketika ada orang yang “Besar Kepala” dengan amalnya yang begitu banyak dan yakin bahwa hanya dengan pahala itulah dia masuk surga, itu keliru besar !

Rasulullah Shallalahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَلَا يُجِيرُهُ مِنْ النَّارِ وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ  – رواه مسلم  –

Dari Jabir berkata: Aku mendengar nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak seorang pun dari kalian yang dimasukkan surga oleh amalnya dan tidak juga diselamatkan dari neraka karenanya, tidak juga aku kecuali karena rahmat dari Allah.” (HR. Muslim).

Dalam kitabnya Al-Minhaj, Imam An-Nawawi memberi komentar hadis  ini kurang lebihnya seperti ini :

“Makna tekstual hadis-hadis ini (hadis-hadis yang menunjukkan bahwa masuknya seseorang ke dalam surga, pen) menunjukkan bahwa seseorang tidak berhak mendapatkan ganjaran pahala dan surga karena ketaatannya. Adapun firman Allah “masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nahl : 32) dan juga ayat “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. Az-Zukhruf : 72) dan ayat-ayat semisal yang makna tekstualnya bahwa amal adalah penyebab masuknya orang ke surga. Ayat-yat ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis (tersebut di atas).  Makna ayat-ayat tersebut sudah jelas bahwa masuk surga itu disebabkan karena amal perbuatan. Kemudian Taufiq, hidayah, keikhlasan dan terima amal itu karena “rahmat” dari Allah. Yang benar adlah amal tidak menyebabkan masuk surga secara hakikat sebagaimana dimaksud oleh hadis, tapi merupakan sebab semata yang (bisa terwujud, pen) karena “rahmat’ dari Allah.

Dari komentar Imam Nawawi tersebut, kita bisa memahami bahwa kemampuan kita beramal itu hakikatnya adalah karena rahmat dari Allah. Kita mampu menegakkan shalat karena rahmat dari Allah. Mampu berzakat semata-mata karena kasih sayang Allah yang diberikan kepada kita sehingga mampu melakukannya. Kita ikhlas bersedekah, hakikatnya karena campur tangan Allah dengan memberikan rahmat-Nya kepada kita. Dengan demikian, benarlah bahwa hadis di atas tidak kontradiksi sama sekali dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang secara tekstual  bahwa masuknya orang ke surga karena amal perbutannya. Wallahu A’lam.

Surga itu apa sih ?

Tidak perlu susah-susah untuk mendefinisikannya. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang menerangkan sifat surga. Begitu juga definisi yang disampaikan oleh para ulama dalam kitab-kitab yang mereka susun. Ringkasnya, surga itu adalah sebuah tempat penuh kenikmatan sempurna, tidak ada penderitaan sekecil apapun, semua keinginan penghuninya dipenuhi dan tidak ada yang tertolak, penuh dengan pepohonan rindang dan sungai-sungai yang sejuk dan penghuninya selalu berseri-seri setiap saat. Tempat tersebut disediakan oleh Allah bagi para hamba-Nya yang senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bebrapa gambaran surga dan penghuninya.

Kenikmatan tiada tara

عَنْ أَبي هُريْرةَ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : قَالَ الله تَعَالَى: أَعْدَدْتُ لعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، وَاقْرَؤُوا إِنْ شِئتُمْ { فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Aku menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih pahala yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, juga tidak pernah terlintas dalam hati seorang manusia pun. Coba simak Firman-Nya yang artinya: Maka tiada seorang-pun yang dapat mengetahui pahala yang disembunyikan untuk mereka yang berupa apa-apa yang menyenangkan mata. (as-Sajadah:17). (Muttafaq’alaih)

Artinya, kenikmatan paling nikmat di dunia, semahal dan semewah apapun di dunia, tentunya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenikmatan dan kemewahan surga, Maa Syaa Allah !

Penghuninya adalah mereka yang beriman dan beramal shalih dan tidak ada yang bujangan, mereka mempunyai pasangan.

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوا۟ هَٰذَا ٱلَّذِى رُزِقْنَا مِن قَبْلُ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَٰبِهًا وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (Q.S. Al-Baqarah : 25).

Para penghuni surga mempunyai pasangan yang suci. Ada berbagai ragam penafsiran pata ulama  dalam hal ini. Mayoritas ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan pasangan yang suci adalah bidadari. Maksud dari suci di sini adalah tidak haid dan tidak melahirkan. Ada juga yang mengartikan suci dari berbagai cairan kotor yang ada dalam tubuhnya. Namun jika kita memperhatikan salah satu hadis Rasulullah SAW yang menerangkan bahwa seluruh penghuni surga itu tidak buang air besar , tidak buang air kecil juga tidak memiliki ingus. Adapun sisa makanan mereka hanya menjadi keringat yang menguap wangi seperti wangi misisk. Jika memperhatikan hadis ini, kaum laki-laki dipasangkan dengan wanita penghuni surga juga selain dengan bidadari. Bisa saja dikawinkan dengan istrinya semasa di dunia jika istrinya juga masuk surga.

Lalu bagaimana dengan kaum wanita ? Wanita yang masuk surga dikawinkan dengan pria yang masuk surga. Baik pria dan wanita, mereka semua berparas tanpan dan cantik dan tidak mempunyai cairan kotor dalam tubuh. Kecantikan para wanita penghuni surga bisa saja melebihi kecantikan bidadari. Derajat wanita penghuni surga melebihi derajat bidadari karena :

  1. Bidadari diciptakan oleh Allah langsung menjadi dewasa, tidak melalui proses kelahiran.
  2. Bidadri tidak ada kewajiban syariat bagaimana wanita muslimah.
  3. Bidadari tidak ada kewajiban menuntut ilmu
  4. Dari poin a-c, bidadari tidak pernah mengalami kesulitan dan beban apapun, kegiatannya hanya menunnggu pasangannya dengan setia dan langsung masuk surga.
  5. Wanita penghuni surga sewaktu di dunia dibebani hukum syariah. Mendapatkan pahala jika melaksanakannya dan mendapatkan dosa jika meninggalkan kewajiban hukum. Artinya mereka bersusah payah untuk memperoleh ridha dan rahmat Allah, berbanding terbalik dengan bidadari.

Surga mempunyai berbagai tingkatan. Tingkatan terendah saja sudah sangat lux fasilitasnya.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ أَدْنَى مَقْعَدِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ أَنْ يَقُوْلَ لَهُ : تَمَنَّ فَيَتَمَنَّى وَيَتَمَنَّى . فَيَقُولُ لَهُ : هَلْ تَمَنَّيْتَ ؟. فَيَقُولُ : نَعَمْ. فَيَقُولُ لَهُ : فَنَّ لَكَ مَا تَمَنَّيْتَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. Bersabda : Sesungguhnya serendah-rendah tempat bagi seseorang di antara kalian di dalam surga adalah, dikatakan kepadanya: Berangan-anganlah. Maka, dia pun berangan-angan dan terus berangan-angan. Lalu dia ditanya: Apakah kamu sudah berangan-angan? Dia menjawab: Ya, Maka dikatakan kepadanya, Kamu berhak mendapatkan angan-anganmu itu ditambah satu kali lipat darinya. (HR Muslim).

Hadis ini menjadi salah satu motivasi bagi hamba-hamba Allah untuk meningkatkan kualitas ibadah, kualitas keikhlasan dan kualitas kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika fasilitas surga tingkat paling rendah saja sudah seperti itu, lalu bagaimana dengan tingkatan yang lebih tinggi atau tertinggi yaitu surga firdaus. Bahkan ada hadis lain yang menginformasikan bahwa tiap tipe surga memmpunyai 100 tingkatan. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya adalah setara dengan jarak antara langit dan bumi, Maa Syaa Allah !

Penghuni surga tidak memiliki cairan kotor dalam tubuhnya. Zat sisa hanya berupa keringat yang menguap wangi seperti wangi misik.

وَعَنْ جَابِرٍ رَضِي اللّه عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : يَأْكُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ فِيهَا وَيَشْرَبُونُ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَلَا يَمْتَخِطُونَ، وَلَا يَبُولُونَ، وَلكِنْ طَعَامُهُمْ ذَلِكَ جُشَاءٌ كَرَشْحِ المِسْكِ يُلهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتكْبِيرَ، كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ .  رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Jabir ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Para penghuni surga makan dan minum di dalamnya. Tetapi, mereka tidak buang air besar, tidak mengeluarkan ingus, dan tidak buang air kecil, tetapi makanan mereka hanya menghasilkan sendawa dan menguap seperti keringat yang harum seharum minyak kasturi. Mereka diilhami untuk terus bertasbih dan bertakbir, seperti diilhamkan cara bernafas. (HR Muslim).

Jika gambarannya saja sudah begitu, bagaimana dengan paras wajah mereka ? Silakan bayangkan sendiri, ya !

Kenikmatan melihat Allah

عَنْ جرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَقَال إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عَيَاناً كما تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ، لَاَ تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ. مُتَّفَقٌ علَيْهِ

Dari Jarir Ibn Abdullah ra. berkata: Kita semua berada di sisi Rasulullah saw. lalu Beliau saw. melihat bulan pada malam purnama yakni tanggal empat belas dan bersabda: Sesungguhnya, kalian akan melihat Tuhan kalian secara langsung seperti melihat bulan ini. Kalian tidak akan terkena mudharat sedikit pun saat melihat-Nya (Muttafaq ‘alaih).

Melihat Allah dan Rasul-Nya merupakan kenikmatan tertinggi di surga. Kita selalu mencintai dan menyembah Allah setiap saat walaupun tak bisa meliha-Nya di dunia. Kita yang selalu mencintai dan merindukan Rasulullah dengan cara mengamalkan sunnahnya memang tak pernah bertemu beliau. Namun kerinduan tersebut akan terbalas di surga dengan melihat wajah beliau dan sangat mungkin kita mendekap, mencium tangan bleiu dan berbica dengan beliau. Alahumma Shalli Alaih !

Sebetulnya masih sangat banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah yang menggambarkan tentang kenikmatan surga dan para penghuninya yang mulia. Sermoga di lain waktu kita dapat membahasnya, aamiin.

Wallahu A’lam.

Ridwan Shaleh