HACKED BY POLOSS | W.P.E.F
Category: Uncategorized
-

Majelis Ukhuwah Bogor Raya Desak Pemerintah Bogor Tegas Terhadap LGBT
Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat yang tergabung dalam Majelis Ukhuwah Bogor Raya menggelar acara silaturahmi dan diskusi refleksi akhir tahun 2022 di aula gedung Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Jl KH Sholeh Iskandar, Kota Bogor, Sabtu (24/12/2022).
Baca juga: Dua Majelis Taklim Adakan Kegiatan Manasik Haji dan Peringatan Maulid Nabi di Pesantren PKH
Ada empat isu yang disikapi dalam acara tersebut, antara lain; maraknya perilaku menyimpang LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) dan regulasi terkait, Penolakan Rencana Pembangunan Rumah Sakit Mitra Keluarga Bogor di Jl KH Sholeh Iskandar Kota Bogor, menyikapi pengesahan UU KUHP, dan suksesi kepemimpinan umat.
Terkait LGBT, Majelis Ukhuwah Bogor Raya meminta Pemerintah Bogor untuk mengeluarkan aturan tegas dalam mengatasi perilaku menyimpang.
“Kepada Pemerintah Kota Bogor agar segera menerbitkan Peraturan Wali (Perwali) Kota Bogor sebagai peraturan pelaksana atas Peraturan Daerah nomor 10 tahun 2021 tentang pencegahan dan penanggulangan perilaku penyimpangan seksual (P4S) yang telah ditetapkan bersama DPRD,” dalam pernyataan sikap majelis ukhuwah.
Majelis Ukhuwah Bogor Raya juga mendorong proses legislasi yang memuat penegasan pelarangan terhadap aktivitas LGBT di wilayah Bogor baik di kota maupun kabupaten agar terus ditindaklanjuti dan disosialisasikan.
Majelis menegaskan pelarangan terhadap aktivitas LGBT dan aktivitas penyimpangan seksual lainnya serta menegaskannya sebagai bentuk kejahatan seksual di wilayah Bogor. Mereka juga mendesak pemeritah pusat untuk membentuk undang-undang khusus dan memidanakan setiap orang yang melakukan aktivitas LGBT dan aktivitas penyimpangan seksual lainnya.
“Dan juga bagi yang mengajak, mempromosikan, dan membiayainya, berdasarkan hukum agama, peraturan dan perundang-undangan, serta norma kesusilaan yang berlaku Indonesia,” kata Fitrah Ashab membacakan pernyataan sikap Majelis Ukhuwah Bogor Raya.
Fitrah merupakan pimpinan Forum Masyarakat Peduli Bogor yang selama ini mengawal kasus LGBT di Bogor sejak beberapa tahun lalu.
Tuntutan berikutnya, lanjut Fitrah, bahwa Majelis mendesak pemerintah pusat untuk melarang masuknya dana asing oleh pihak mana pun, termasuk oleh organisasi serta perusahaan internasional yang bermaksud untuk mendukung aktivitas LGBT di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Fitrah mengungkapkan bahwa masalah LGBT di Bogor sudah sangat mengkhawatirkan. “Tahun 2019 saja itu jumlah LGBT itu sudah hampir lima ribu orang, sekarang ini jumlahnya semakin banyak,” ujarnya.
Dalam temuan di lapangan, pihaknya juga mengungkapkan bahwa korban LGBT sudah sampai ke kalangan remaja. “Bukan hanya kalangan SMP, bahkan ada anak SD jadi korban,” ungkap Fitrah.
Oleh karena itu, melalui pertemuan tersebut ia mengajak semua pihak khususnya pemerintah untuk bersama-sama menangani masalah yang berbahaya ini.
Acara silaturahmi dan diskusi refleksi akhir tahun 2022 dihadiri banyak tokoh dan ulama, mereka antara lain Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI KH Didin Hafidhuddin, Pimpinan Majelis Syifa Lil Mukminin Habib Ahmad Al Munawar, Mantan Rektor UIKA Dr Ending Bahrudin, Forum Doktor Islam Indonesia Dr. Ahmad Sastra, Ketua Pembina Jalinan Alumni Timur Tengah KH Muhyiddin Junaidi.
Hadir juga Mantan Menteri Pertanian Suswono, Ketua Dewan Da’wah Kota Bogor Ustaz Abdul Halim, Sekjen Forum Umat Islam KH Muhammad Al Khaththath, Ketua Forum Sinergi Muslim Ustaz Imam Syafi’i, dan sejumlah Ulama Bogor lainnya seperti KH Badruddin Subhky dan lainnya. [ah/rilis]
-

Delapan Mobil Damkar Berhasil Padamkan Kebakaran di Masjid JIC
Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) terbakar hebat, Rabu, 19 Oktober 2022. Kebakaran terjadi setelah Shalat Ashar sekira pukul 15.15 WIB. Api pertama kali membakar dari sisi barat kubah Masjid JIC. Angin yang bertiup kencang sehingga dengan cepat membakar bagian lain dari badan kubah Masjid JIC.
Baca juga: Silaturrahim PKH ke JIC Sepakat untuk Saling Berkolaborasi
Dalam waktu kurang lebih setengah jam, kubah utama Masjid Raya JIC rubuh ke lantai dua dan reruntuhannya juga sampai ke lantai satu bangunan Masjid Raya JIC. Cepatnya runtuh kubah juga mungkin disebabkan oleh beratnya beban 12 buah lampu kipas khas Betawi dengan berat 1 ton.
Untuk mengatasi kebakaran Masjid JIC, telah dikerahkan delapan mobil pemadam kebakaran dari unit pemadam Jakarta Utara. Api berhasil dipadamkan pada pukul 17.00 WIB. Kebakaran pun bisa dikendalikan sehingga tidak menjalar ke bangunan lain di sekitarnya yakni Gedung Sosial Budaya dan Gedung Bisnis. Tidak ada korban jiwa dari kebakaran ini. Beberapa dokumen dan perangkat komputer dari Pengelola Masjid Raya JIC dan lembaga-lembaga agama Islam lainnya juga berhasil diamankan dan dipindahkan ke Perpustakaan di Gedung Sosial Budaya.
Penyebab kebakaran diduga dari aktivitas pekerjaan perbaikan kubah. Sebab per tanggal 26 Agustus 2022, Masjid Raya JIC sedang dalam masa renovasi yang dikerjakan oleh PT. Dwi Agung Sentosa Pratama yang ditunjuk oleh PT. Mitra Sindo Makmur berdasarkan surat nomor 017/MSM/VIII/2022. Tertanggal 19 Agustus 2022.
Masjid JIC mulai dibangun pada tanggal 1 Oktober 2001 dan pertama kali dipakai untuk shalat Jumat pada tanggal 9 September 2002 dan diresmikan pada 4 Maret 2002.
Masjid JIC selama dua dekade ini menjadi masjid kebanggaan masyarakat Jakarta. Aspek sejarahnya yang berdiri di eks lokasi lokalisasi Kramat Tunggak seluas 10,9 hektar menjadi fenomenal.
Ciri khas lainnya adalah bentang kubah Masjid JIC sebagai masjid dengan bentangan kubah tanpa tiang terpanjang se-Asia Tenggara yakni 66 meter. Dan saat ini sudah dipasang police line untuk pengamanan area kebakaran.[ah/rilis]
-

Registrasi Ulang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional XXIX Manfaatkan Teknologi Digital
Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXIX di Kalimantan Selatan dimulai dengan registrasi ulang peserta. Registrasi dilaksanakan di Asrama Haji Syamsuddin Noor, Banjarbaru, Senin (10/10/22) malam.
Baca juga: Gubernur Aceh Harapkan MTQ Menjadi Spirit Pengamalan Al-Quran
Ditemui di Asrama Haji Syamsuddin Noor, Kasubdit Lembaga Tilawah dan Musabaqah Al-Qur’an dan Al-Hadits Kemenag, Rijal Ahmad Rangkuty menjelaskan, registrasi ulang merupakan salah satu proses terpenting dalam MTQ Nasional. Proses ini dilakukan dengan memanfaatkan teknologi digital.
“Sebanyak 1.676 calon peserta dari 34 provinsi mulai melakukan registrasi ulang malam ini, Senin (10/10/22) sampai Selasa (11/10/22) malam. Semua data dicek satu per satu,” ungkap Rijal.
Verifikasi dilaksanakan dengan mencocokkan data calon peserta yang didaftarkan sebelumnya pada aplikasi e-MTQ. “Verifikasinya dengan menempelkan sidik jari pada finger print, lalu semua data terbaca,” lanjut pria yang hafal 30 juz Al-Qur’an ini.
Terjadwal melakukan registrasi ulang pada Senin (10/10/22) malam sebanyak 8 provinsi, meliputi Sumatera Barat (Sumbar), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara (Sumut), Kalimantan Timur (Kaltim), Maluku, Jawa Timur (Jatim), dan Sulawesi Tenggara (Sultra). Meja registrasi dibagi ke dalam 8 bagian sesuai cabang musabaqah.
“Penggunaan teknologi merupakan bagian dari implementasi Transformasi Digital yang menjadi program prioritas Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Kita akan terus melakukan perbaikan hingga seluruh peserta yang terlibat dalam MTQ sahih datanya,” pungkas Rijal.[ah/bimasislam]
-

Sekolah di Minnesota Tawarkan Jilbab dengan Maskot Sekolah
Untuk memberikan rasa memiliki kepada siswa Muslimnya, sebuah sekolah dasar di Minnesota telah mulai menjual jilbab untuk siswa perempuan Muslim mereka yang memakai maskot sekolah tersebut.
Baca juga:Sekolah Islam Jadi Sekolah Unggulan di Melbourne
Inisiatif oleh William Byrne Elementary untuk Minnesota pertama kali disarankan pada tahun 2021 oleh penghubung budaya sekolah Somalia , Maryan Ali, Local 12 melaporkan.
Maryan Ali ingin menemukan cara menawarkan kepada siswa perempuan Muslim untuk mengenakan sesuatu dengan maskot mereka “Buster the Bulldog” di atasnya.
“Setiap siswa berhak mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan identitas sekolah mereka dan memiliki perasaan memiliki itu,” kata Carla Valadez, seorang relawan orang tua dan koordinator pakaian sekolah.
Mengingat saran Ali, Valadez menambahkan, “Saya, tentu saja, sangat bersyukur bahwa dia mengidentifikasi kebutuhan ini di masyarakat, dan itu diseambut dengan antusias, ‘Ya.’”
“Saya bekerja dengan seluruh PTO, dan ini segera menjadi inisiatif yang sangat penting bagi kami.”
Untuk mewujudkan mimpi tersebut, mereka mulai melacak vendor dan setuju dengan printer layar yang membantu mewujudkan visi tersebut.
Mereka menjual jilbab pertama kepada Nawal Mohamed yang berusia 10 tahun, yang mendapat satu untuk setiap warna.
Melihat raut wajah para siswa “membuat semuanya sepadan,” kata Valadez. “Benar-benar membuat pekerjaan ini bermakna.”
Islam melihat jilbab sebagai kode wajib berpakaian, bukan hanya simbol agama yang menunjukkan afiliasi seseorang.
Stigma seputar jilbab atau hijab selalu menjadi tantangan terburuk yang dihadapi pelajar Muslim. Untuk menyatukan budaya yang berbeda, sebuah perguruan tinggi Wisconsin menyelenggarakan acara “A Day In Her Hijab” November lalu untuk memberikan kesempatan kepada pelajar belajar tentang jilbab dan Islam.[ah/aboutislam]
-

Konvensi Tahunan ISNA ke-59 Dimulai di Chicago
Konvensi tahunan ISNA atau Masyarakat Islam Amerika Utara, salah satu pertemuan Muslim terbesar di Amerika Utara, dimulai pada hari Jumat, 2 September lalu, menyambut audiens yang besar dari seluruh Amerika Utara.
Baca juga: Kongres Halal Internasional MUI Dihadiri 30 Peserta Internasional
Tema konvensi tahun ini adalah, “Ketangguhan, Harapan & Iman, Dengan Kesulitan Datang Kemudahan .”
Konvensi tahunan ke-59, yang disponsori oleh Dewan Organisasi Islam Chicago Raya, berlangsung selama 4 hari berturut-turut, dari 2-5 September.
Acara ini menghadirkan puluhan pembicara, cendekiawan, dan aktivis terkenal untuk jadwal kuliah, diskusi, debat, dan hiburan yang lengkap.
“Konvensi akan memiliki sesi pleno, sesi utama, sesi paralel, diskusi meja bundar, pameran kesehatan, sesi profesional muda, sekitar 200 pembicara terkenal, ceramah inspiratif & kepemimpinan, pameran seni, … dan banyak lagi,” kata Mir Khan, Anggota Dewan ISNA & Ketua, Komite Pengarah Konvensi, saat berpidato di konferensi pers di Chicago, India Post melaporkan.
Pembicara termasuk imam Siraj Wahhaj, Sr. Leasha Prime, Sheikh Zaid Shakir, sheikh Seyyed Hossein Nasr, imam Mohamed Magid, Sr. Yasmin Mogahed, dan lainnya.
Bersama dengan ulama terkemuka, konvensi tersebut akan dihadiri oleh aktivis Miko Peled, Khizr Khan, dan Bushra Amiwala, pejabat terpilih Muslim termuda di AS.
“Konvensi ISNA empat hari akan menyatukan individu Muslim dan lintas agama, keluarga, bisnis dan organisasi nirlaba untuk jadwal penuh kuliah, diskusi, debat dan hiburan,” Ashfaq Syed, Sekretaris Komite Pengarah Konvensi, mengatakan.
ISNA / Masyarakat Islam Amerika Utara adalah organisasi payung Muslim terbesar di Amerika Utara.
Konvensi tahunan ISNA dimulai pada tahun 1963 ketika acara semacam itu pertama kali diselenggarakan oleh pendahulu ISNA, Asosiasi Pelajar Muslim Amerika Serikat dan Kanada.
Dua acara terakhir diadakan secara virtual karena pandemi COVID-19.
Menelusuri asal-usulnya, organisasi berawal dari pertemuan sekelompok mahasiswa internasional di University of Illinois Urbana-Champaign pada tahun 1963, di mana Asosiasi Mahasiswa Muslim dibentuk. ISNA menganggap konvensi MSA tahun 1963 di University of Illinois Urbana-Champaign sebagai yang pertama.
ISNA saat ini didirikan pada tahun 1982 melalui upaya bersama dari empat organisasi: Asosiasi Mahasiswa Muslim AS dan Kanada (The MSA), Asosiasi Medis Islam (IMA), Asosiasi Ilmuwan Sosial Muslim (AMSS), dan Asosiasi of Muslim Scientists and Engineers (AMSE) – untuk menciptakan organisasi yang berorientasi pada komunitas karena perubahan sifat komunitas Muslim yang berkembang.
Banyak dari para pemimpin dari empat organisasi pendiri ini mengambil peran dalam ISNA yang baru dibentuk. Pada tahun 1983, markas multi-juta dolar ISNA selesai di Plainfield , Indiana , menggunakan dana yang dikumpulkan sebagian dari sumber-sumber internasional.
Pada 30 Agustus 2013, Tahera Ahmad menjadi wanita pertama yang membuka konvensi ISNA dengan pembacaan Al- Qur’an , yang dia lakukan pada Konvensi ISNA Tahunan ke-50 di depan audiensi campuran.[ah/aboutislam]
-

Keluarga Muslim Kecewa Tidak Bisa Masuk Kolam Renang dengan Burkini
Meski pemilik taman air di Manitoba telah meminta maaf kepada keluarga Muslim yang dilarang masuk kolam karena mengenakan burkini , masalah ini masih menimbulkan banyak kekhawatiran.
Baca juga: Pengadilan Prancis Terapkan Larangan Burkini di Kolam Renang
Halima Jelloul, suami dan dua putrinya melakukan perjalanan ke Lilac Resort pada hari Jumat lalu. Setelah tiba, pemilik mendekati mereka dan mengatakan dia dan putrinya tidak diizinkan berenang karena apa yang mereka kenakan, lapor CTV News .
“Saya sangat tidak nyaman, jelas. Meskipun saya tidak terkejut itu terjadi,” kata putri Jelloul yang berusia 14 tahun, Salma Douida.
Burkini adalah pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh, termasuk kepala, hanya menyisakan wajah, tangan, dan kaki yang terlihat.
Meskipun wanita Muslim berburkini di beberapa negara menghadapi kesulitan mengakses kolam layanan publik, mereka tidak pernah menghadapi insiden serupa seperti ini.
“Selama burkini tersebut dibuat dengan benar, tidak ada masalah keamanan,” kata Christopher Love, koordinator manajemen keselamatan Lifesaving Society Manitoba, dalam emailnya.
“Saya telah melihat beberapa yang mengenakannya, dan mereka benar-benar berfungsi seperti pakaian basah dan memberikan kesopanan sementara juga memungkinkan berbagai gerakan di dalam air.”
Meminta maaf kepada keluarga Muslim, pemilik Lilac Resort, Dan Manaigre, mengatakan dia tidak tahu apa itu burkini dan mengira itu pakaian jalanan.
“Saya ingin meminta maaf kepada keluarga karena saya tidak tahu,” kata Manaigre, yang mengirimkan catatan kepada semua stafnya yang menjelaskan apa itu burkini dan diperbolehkan.
Meskipun dia menawarkan keluarga untuk tinggal di resort, mereka memilih untuk pergi. Sekarang, keluarga tersebut berharap dengan adanya kasus ini bisa menyebarkan kesadaran tentang bukani agar tidak menghadapi situasi serupa di masa depan.
“Setiap hari kami mengalami itu di pantai. Orang-orang yang melihat Anda tidak tahu apa yang kami kenakan, namun semua baik-baik saja, dan beberapa edukasi tentang burkin perlu terjadi, ”kata Jelloul.
“Dan saya pikir wanita Muslim atau siapa pun yang berpakaian sopan harus memiliki hak dan jika ini terjadi pada mereka, mereka harus angkat bicara,” tambah Douida.
Burkini adalah jenis pakaian renang kesopanan untuk wanita Muslim yang awalnya dirancang di Australia oleh Aheda Zanetti. Pakaian renang ini mengikuti aturan kesopanan bagi wanita dalam syariat Islam, karena menutupi seluruh tubuh kecuali wajah, tangan, dan kaki sementara cukup ringan untuk berenang.
Beberapa ulama Muslim menerima burkini sebagai pakaian memenuhi standar yang berlaku umum yang mengharuskan seorang wanita untuk menutupi semua bagian tubuhnya kecuali tangan dan wajahnya (termasuk menutupi rambutnya) ketika di tempat yang bercampur.
Namun ulama lain khawatir bahwa kain yang melar atau menempel menunjukkan lekuk bentuk tubuh. Dengan demikian, mereka juga menganjurkan agar penutup kepala cukup panjang untuk menutupi payudara, atau rok menutupi pinggul.[ah/ctv]








