Category: Tafsir Al-Qur’an

  • Tafsir Q.S. Al-Humazah

    Tafsir Q.S. Al-Humazah

    Sabab An-Nuzul (sebab turunnya) Surat Al-Humazah:

    Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab nuzul surah ini, yaitu: [1]

    • Riwayat Ibn Hatim: diturunkan berkenaan perbuatan (ulah) Ubay Ibn Khalaf
    • Riwayat Ibn As-Suddi: diturunkan berkenaan dengan perbuatan Al-Akhnas Ibn Suraiq
    • Riwayat Ibn Jarir: diturunkan berkenaan perbuatan Jamil Ibn Amir Al-Jumahi
    • Riwayat Ibn Al-Mundzir dari Ibn Ishaq: diturunkan karena ulah Umayyah Ibn Khalaf yang setiap kali melihat Rasulullah SAW, dia selalu mencaci dan mencela beliau SAW.

    Jika merujuk kepada Tafsir Al-Jalalain, seluruh riwayat di atas tentunya tidak saling kontradiksi, sebab Imam Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan bahwa surat ini diturunkan untuk mengutuk orang-orang yang sering kali berbuat ghibah kepada Nabi SAW dan kaum mukminin seperti Umayyah Ibn Khalaf, Al-Walid Ibn Al-Mughirah dan selain keduanya.[2] [3]

     

    Q.S. Al-Humazah ayat 1 :

    وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

    “ Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.”

    Ayat ini diawali dengan kata “ويل”, kata “wail” merupakan kata yang bermakna do’a kehancuran[4] yang ditujukan untuk seseorang. Jika kata wail berasal dari Allah, maka maknanya adalah kutukan kehancuran atau kebinasaan bagi seseorang dalam hidupnya.

    Kata wail juga dimaknakan sebagai lembah yang ada di neraka Jahannam.[5]

    Kata wail juga bisa diartikan sebagai salah satu kata yang dimaksudkan untuk merendahkan orang atau kalimat yang bermakna keputus-asaan atau juga kalimat yang bermakna buruknya pekerjaan seseorang.[6]

    JIka melihat ragam tafsir para ulama mengenai kata wail pada ayat ini, maka kata tersebut merupakan ancaman atau kutukan, ancaman neraka, ancaman kehancuran dan kebinasaan hidup  dari Allah  kepada orang-orang yang mengumpat, menggunjing, mencela dan menghina orang-orang yang beriman, yang berjuang menegakkan agama Allah sebagaimana Allah mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW dam para sahabat.

    Salah satu hikmah paling dalam yang bisa kita tadaddburi dari ayat ini adalah betapa besarnya dosa menggunjing, mencela dan menghina para alim ulama dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah, baik yang melakukan hal itu adalah muslim maupun non muslim, naudzubillah !

    “Kalo kate orang betawi sih, kualat ame kyai!”

     

    Q.S. Al-Humazah Ayat 2

    ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

     “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”

    Setelah kita mengetahui bahaya besar Humazah, Allah SWT melanjutkan peringatannya kepada kita semua bahwa yang melandasi sikap Humazah adalah hobi mengumpulkan uang. Ketertarikan pada hobi inilah yang membuat seseorang selalu ingin menumpuk hartanya dan takut berkurang.[7]

    Ketika obsesinya tercapai, dia merasa besar, sombong dan maunya merendahkan orang lain saja! Dia akan sangat terganggu dengan kehadiran orang-orang  baik disekitarnya. Dia khawatir dengan kemunculan orang-orang dermawan, orang jujur dan pejuang Amar Ma’ruf Nahi Munkar! Dia khawatir jika kehadiran mereka ini menjegal langkahnya untuk menjadi orang yang bisa berbuat sesuka hati. Ia khawatir jika mereka bisa menghilangkan “pengaruhnya” di depan publik sehingga tidak lagi leluasa menghujat, membunuh karakter orang yang dia benci dan tidak bisa menjatuhkan lawannya. Orang-orang seperti ini sangat kikir bin medit alias pelit (saudara kembarnya koret) jika diminta membantu kegiatan sosial keagamaan karena dianggap tidak ada sisi keuntungan untuk dirinya.  Berbanding terbalik jika ada orang yang menawarkan jasa “dongkrak popularitas”. Untuk yang ini, dia tidak segan-segan mengeluarkan “cuan segunung” karena dianggap sangat menguntungkan dirinya. “Cuan segunung kaga masalah. Duit segitu bakal balik ke gue berlipat-lipat! Hobah!” itulah kalimat yang selalu terngiang-ngiang di benak si Humazah.

    Penjelasan saya ini bukan untuk menggiring pembaca jadi takut kaya, bukan! Kaya boleh, tapi jangan jadi konglomerat gagal seperti Qarun yang dijebloskan oleh Allah ke dasar bumi. Kaya boleh, tapi jangan kaya si Abu Lahab, Umayyah Ibn Khalaf dan Al-Walid Ibn Al-Mughirah yang kerjaannya selalu menjatuhkan Rasullah. Tulisan  ini merupakan peringatan sekaligus motivasi agar umat Islam menjadi umat yang kuat ekonominya, kuat ilmunya, kuat politiknya, kuat kualitasnya dan jangan mau jadi “kambing conge” si Humazah-himazah ini.

     

     Q.S. Al-Humazah ayat 3

    يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ

    “Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”

    Ayat ini masih melanjutkan ciri-ciri dari para pengumpat. Jika ayat 2 menerangkan bahwa mereka sangat cinta dunia dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan, maka ayat 3 ini melanjutkan efek dari cinta dunia level akut tersebut.

    Si pengumpat ini mengira bahwa harta yang dia dapatkan itu bisa membuatnya kekal alias tidak mati. Prasangka itu terjadi karena terlalu panjang angan-angan.[8] Saakan-akan jika hartanya banyak, dia merasa gagah terus, jaya terus, kuat terus, berpengaruh terus, kaya terus sehingga dia lupa bahwa rambut semakin beruban, penglihatan sudah semakin lemah dan kulit semakin keriput. Sekalipun dia berasa sudah tua, dia akan selalu mencari cara agar awet muda dengan uangnya. Dengan uangnya itu, masalah keriput bisa diatasi dengan operasi plastik. Masalah ubanan bisa dicat! Masalah lamur bisa dilaser koq! Inilah yang membuat dia lupa dengan “ketuannya”. Inilah yang dimaksud bahwa ia menyangka dengan kekayaan yang dimiliki seolah-olah dia tidak akan mati.

    Pola sangka atau pola fikir semacam ini sangat berbahaya! Semakin tua semakin lacur! Semakin tua semakin korup! Semakin tua semakin zhalim! Semakin tua semakin glamour! Akhirnya mati dalam keadaan zhalim, mati dalam keadaan lacur, korup dan hedon!

    “Lih, nyang engkong kage demenin nih, ade orang tue bangke kaye engkong tapi lagunye masih kaye anak mude aje.  Masih demen nongkrong aje, masih seneng dugem aje. Masih seneng nyawer aje! Masih ganjen aje. Masih banting gaple aje. Harusnye orang kaye die nih pantes banget kalo sarungan, peci, koko trus betah di masjid. Pantes banget dah orang kaye die dzikir sambil nunggu Izroil silaturahim!” kata kong Ali kepada cucunya, Malih.

     

    Q.S. Al-Humazah Ayat 4

    كَلَّا لَيُنۢبَذَنَّ فِى ٱلْحُطَمَةِ

     “Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huṭamah.”

     Q.S. Al-Humazah Ayat 5

    وَ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْحُطَمَةُ

    “Dan tahukah kamu apakah (neraka) Huṭamah itu?”

     

     Q.S. Al-Humazah Ayat 6

    نَارُ ٱللَّهِ ٱلْمُوقَدَةُ

    “(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan,”

     

     Q.S. Al-Humazah Ayat 7

    ٱلَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى ٱلْأَفْـِٔدَةِ

    “yang (membakar) sampai ke hati.”

     Q.S. Al-Humazah Ayat 8

    إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ

     “Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka,”

     Q.S. Al-HUmazah Ayat 9

    فِى عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍۭ

     “(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”

    Setelah Allah SWT menerangkan ciri Hammaz dan Lammaz (pencela dan pengumpat), Allah memperingatkan kita agar tidak meniru mereka. Kata “kalla” merupakan kata yang bermakna sanggahan terhadap apa yang diyakini atau disangka oleh Hammaz dan Lammaz sebagaimana ayat sebelumnya.[9] Yang Namanya salah atau keliru, ya jangan ditiru! Mereka sudah pasti nantinya akan dicampakkan ke Huthamah, yaitu neraka Jahannam. Huthamah merupakan salah satu dari nama neraka. Dinamakan Huthamah karena setiap apa saja yang dilemparkan ke dalamnya akan hancur berkeping-keping.[10]

    Api Huthamah membakar semua anggota tubuh penghuninya dan apabila api itu sampai ke hatinya dan mencapai kerongkongannya, maka kembalilah api itu ke tubuhnya dan begitu seterusnya![11] Mereka tidak bisa keluar dari Huthamah karena ditutup rapat-rapat oleh Allah SWT. Setiap saat mereka dibakar dalam keadaan terpangggang di tiang-tiang yang panas.

     

     Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

    [1]  Lihat Lubab Al-Mnaqul Fi Asbab An-Nuzul Lis- Suyuthi, Muassasah Al-Kutub Ats-Sihafiyyah, Beirut: 1422 H, hal 305.

    [2] Lihat Tafsir Jalalain

    [3] Lihat Tafsir Al-Bahr Al-Muhit Li Abi Hayyan Al-Andalusi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beitut: 1413 H, Huz 8, hal. 509

    [4] Lihat Hasyiyah As-Shawi Al-Maliki, Dar Al-Jil, Beirut: t.t. Juz 4, hal. 332

    [5] Banyak mufassir yang mnafsirkan kata wail dengan mkna tersebut, diantaranya Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain dan As-Samin Al-Halabi dalam kitabnya Umdat Al-Huffazh,

    [6] Lihat Al-Lubab Fi Ulum Al-Kitab Li Ibn Adil Ad-Dimasyqi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut: 1419 H, Juz 20, hal. 490

    [7] Lihat Tafsir Fenomenal Mafatih Al-Ghaib, Al-Imam Fakhruddin Al-Razi. Dar Al-Fikr, Beirut: 1401 H, Jz 32 hal. 92

    [8] Lihat Mafati Al-Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi, Dar Al-Fikr, Beirut: 1401 H, Juz 32 hal. 93.

    [9] Lihat Tafsir Jalalain Q.S. Al-Humazah ayat 4

    [10] Lihat Tafsir Al-Baghawi dan jga Ibn Katsir.

    [11] Lihat Tafsir Ibnu Katsir

  • Tafsir Surat At-Takatsur

    Tafsir Surat At-Takatsur

    سورة التكاثر

    Surat At-Takatsur

    ( Saling bermegah-megahan)

     

     Muqaddimah

    Surat At-Takatsur tergolong Surat Makkiyah.

    Jumlah ayat : 8

    Jumlah kata : 28 (Abu Amr Ad-Dani, Al-Bayan Fi Addi Ay Al-Qur’an)[1]

    Jumlah huruf : 120[2]

    Sebab nuzul (sebab surat ini diturunkan) :

    Al-Wahidi mengutip riwayat dari Muqatil dan Al-Kalbi sebagai berikut[3] :

    Surat ini diturunkan lantaran ada dua klan terkemuka dari suku Quraisy yaitu Bani Abdi Manaf dan Bani Sahm. Kedua klan ini saling berbangga dengan dengan jumlah sayyid (tuan) dan orang-orang mulia diantara mereka. Dan faktanya benar saja bahwa Bani Abdi Manaflah yang terbanyak jumlah pemuka dan orang-orang yang dimuliakan.

    Bani Sahm tidak mau kalah dengan bani Abdi Manaf. Mereka mengatakan Siapakah yang terbanyak dari klan kita yang sudah mati ? Mereka mengunjungi pemakaman para pendahulu mereka untuk menghitungnya. Ternyata jumlah leluhur Bani Sahm mereka lebih banyak dari Klan Bani Abdi Manaf karena semasa jahiliyah dulu jumlah mereka paling banyak dibandingkan klan-klan lain dari suku Quraisy.

    Jika berpegang pda riwayat ini, maka setidaknya pesan yang ingin disampaikan oleh Allah melalui surat ini adalah  agar kita tidak saling berbangga dengan apa yang kita miliki dan akan kita miliki Janganlah kita meniru persaingan Bani Abdi Manaf dan Bani Sahm hanya karena ingin dipandang paling mulia diantara mereka. Akibat persaingan yang tidak  sehat inilah yang nantinya akan melalaikan tugas pokok seorang hamba untuk melaksanakan perintah-Nya.

    Secara tekstual, At-Takatsur artinya “saling berbanyak-banyakan”. Kalo kate betawi sih “Maen banyak-banyakan” biar dibilang die paling kaye, die paling hebat atawe die paling keliatan top markotop !

    Efek dari bermegah-megahan adalah sombong-sombongan, saing-saingan dan berujung saling membenci dan kufur ni’mat, Naudzu Billah !

    Tafsir :

    Ayat 1-2

    أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ﴿١﴾  حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ ﴿٢

     (1). Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,

    (2). sampai kamu masuk ke dalam kubur.

    Allah SWT bukan hanya menciptakan manusia saja, tapi dengan kasih sayang-Nya, Ia juga menciptakan fasilitas bagi manusia untuk hidup dengan nyaman. Rasa kenyamanan itu seharusnya dapat meningkatkan kesadaran  sepenuhnya bahwa tujuan mereka diciptakan tak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Karena beribadah itu harus maksimal, maka Allah mewanti-wanti para hamba-Nya agar jangan lalai apalagi sampai meninggalkan ibadah kepada-Nya.

    Dalam KBBI, lalai itu artinya kurang hati-hati, tidak mengindahkan sesuatu (pekerjaan, kewajiban dan sebagainya), lengah, tidak ingat karena asyik melakukan suatu pekerjaan dan terlupa . Lalai itu berbahaya dan  bisa menyebabkan celaka. Apa yang terjadi jika supir truk gandengan lalai dalam mengemudi ? Bagaimana jadinya jika seorang dokter lalai dalam memberikan resep obat kepada pasien ? Hancur ! Itu baru lalai dalam urusan dunia. Bagaimana jadinya lalai terhadap urusan ibadah ? Ya jelas celaka, neraka urusannya !

    At-Takatsur yang artinya saling bermegah-megahan atau saling berbanyak-banyakan dalam hal kedunian merupakan perkara yang bisa melalaikan manusia dari taat kepada Allah. Jika diartikan dalam konteks kekinian, At-Takatsur merupakan gaya hidup untuk menunjukkan prestise individu dari sisi negatif. At-Takatsur bisa dalam hal kekayaan, jabatan strata sosial dan lain-lain.

    At-Takatsur itu berawal dari kufur nikmat. Rasa ketidakpuasan dengen rezeki dan keserakahan itulah yang membuat orang ingin memperolehnya dengan segala cara.Tidak peduli halal haram, sikut-sikutan dan saling menjatuhkan bukan lagi halangan, yang penting kaya dan naik jabatan !

    Jika At-Takatsur sudah menjadi pola hidup dan harga mati, maka sulit sekali untuk sadar dan bertaubat. Susah dinasihati ! Walhasil, At-Takatsur itu baru berhenti jika sang empunya dimasukkan ke lubang tanah ukuran 2 m x 1 m.

    Karena kasih sayang yang teramat dalam, Allah mengingatkan kepada kita agar jangan sampai dilalaikan oleh At-Takatsur. Jangan sampai yang tadinya rajin shalat akhirnya jadi setengah rajin bahkan sampai meninggalkan total akibat terlena denga  At-Takasur.

     

    عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

    Dari Ibn ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair RA berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi SAW  bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari).

     

    Ayat 3-4 :

    كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٣﴾  ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ ﴿٤﴾

    (3). Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),

    (4). Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.

    Ayat ke-4 merupakan ta’kid (penguat) ayat ke-3. Warning berulang ini menunjukkan larangan keras berbuat At-Takatsur. Al-Qurthubi mengutip salah satu qaul Ibn Abbas bahwa makna ayat ke-3 adalah kelak kamu akan mengetahui mengetahui siksaan di dalam kubur. Sedangkan makna ayat ke-4 adalah kamu akan mengetahui siksa di akhirat.[4]

    Rugi sekali bagi orang yang dilalaikan At-Takatsur. Alih-alih mencari kesenangan dan kebahagian sesuai hawa nafsunya, tapi celaka di alam barzakh dan akhirat. Senang sesaat tapi malang berkepanjangan. Yang lebih kasihan lagi adalah mereka yang belum berhasil kaya lantara mengikuti selera “At-Takatsur” namun mati di tengah jalan. At-Takatsur itu bukan Cuma mereka yang sudah berhasil kaya saja. At-Takasur itu bukan hasil, tapi pola hidup yang mengikuti hawa nafsu. Walaupun masih miskin, namun dalam hidupnya terus berupaya untuk “At-Takatsur” karena kufur nilmat ya termasuk. Sudah jatuh tertimpa tangga, ember dan dan gayung !

    Wahai kaum muslimah, ingatkan suami kalian jika ada gelagat At-Taksur dalam gaya hidup mereka ! Wahai para suami beriman, nasihati istri kalian jika ada gelagat At-Takatsur dalam hidup mereka. Didiklah anak-anak kalian dengan kesederhanaan, zuhud dan berjiwa sosisal tinggi. Jika kalian hidup dalam kemegahan dan kemewahan maka syukurilah. Wujudkan syukur kalian dengan ketaatan ibadah dan kedermawanan. Contohlah nabi Sulaiaman !

    Orang yang menyadari bahaya “At-Takatsur” akan hidup dengan tenang. Dia tidak diperbudak harta. Dia tidak kikir bin bakhil. Dia akan berfikir bahwa kekayaan, jabatan dan ketenaran merupakan rezeki dan titipan dari Allah yang harus disyukuri dan bermanfaat untuk banyak orang dan tentunya kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah.

     

     Ayat 5-7

    كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ ٱلْيَقِينِ ﴿٥﴾  لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيمَ ﴿٦﴾  ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِينِ ﴿٧

    (5). Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti,

    (6). niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim,

    (7). kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri,

    Warning akan bahaya At-Takatsur kembali diulang oleh Allah. Jikalah kalian mengetahui dengan pasti bahaya At-Takatsur itu, kalian akan berupaya keras untuk menghindarinya. Jika kalian tetap melalikannya, maka kalian dengan pasti akan melihat Neraka Jahim. Dan lagi-lagi, Allah kembali memberikan warning, kalian benar-benar akan melihatnya dengan pasti !

    Jika kita hitung, warning dari Allah akan bahaya At-Takatsur  itu berjumlah 5 kali, 3 kali dengan sighat “Kalla” yang terdapat pada ayat ke-3, 4 dan 5 dan dengan menggunakan ”‘Lam Taukid ditambah Nun Taukid Tsaqilah”. Jika warningnya sampai 5 kali, maka sudah pasti bahwa At-Takatsur itu sangat berbahaya !

    Neraka itu tidak layak bagi orang-orang yang beriman. Dia hanya layak bagi orang kafir dan orang-orang yang lalai akan peringatan dari Allah, sebagaimana Allah berfirman :

     وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَحِيمِ

    “Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka.” (Q.S. Al-Maidah : 10)

    Jika sudah bicara masalah neraka, pokoknya tidak ada enak-enaknya ! Jangankan bicara panas apinya, dalamnya lubang neraka saja sudah mengerikan. Kita lihat salah satu hadis Rasulullah SAW :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْرُونَ مَا هَذَا قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا و حَدَّثَنَاه مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَقَالَ هَذَا وَقَعَ فِي أَسْفَلِهَا فَسَمِعْتُمْ وَجْبَتَهَا

    Dari Abu Hurairah berkata: Kami bersama nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bertanya: “Tahukah kalian apa itu?” kami menjawab: Allah dan rasulNya lebih tahu. Beliau bersabda: “Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuhpuluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai keraknya.” Telah menceritakannya kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abi Umar keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid bin Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dengan sanad ini, ia berkata: “Ia (batu) jatuh ke paling bawahnya lalu kalian mendengar debukannya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

    Ayat 8 

    ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ

    Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).

    Ya, amal amanusia kana dihisab dan dikuliti habis-habisan oleh Allah SWT. Tidak ada yang ditutup-tutupi seperti persidangan di dunia. Tidak ada main mata antara hakim, jaksa, pengacara dan terdakwa ! Setidaknya ada dua poin pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap individu. Bukan cuma ditanya darimana nikmat itu didapat, tapi juga cara menggunakannnya setelah didapat. Perhatikan hadis Rasulullah SAW berikut :

    عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

    Dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi).

    Memperoleh kenikmatan di dunia dengan cara normal dan halal saja masih ditanya, apalagi dengan pola At-Takatsur ! Sudahlah, jangan bebani hidup kita dengan At-Takatsur !

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

     

    [1] Ad-Dani, Abu Amr Al-Andalusi, Al-Bayan Fi Addi Ay Al-Qur’an, Markaz Al-Makhthuthat Wa At-Turats Wa Al-Watsa’iq, Kuwait, 1441 H, hal. 298

    [2] Ibid

    [3] Al-Wahidii, Abul Hasan Ali Ibn Ahmad An-Naisaburi, Asbab An-Nuzul, Da Al-Islah, Damam, 1412 H, jal. 464

    [4] Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad Ibn Ahmad  Abu Bakar, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, Muassasah Ar-Risalah, Beirut: 1427 H, Juz 22, Hal 454