Category: Featured

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    CINAGARA, BOGOR — Minggu, 8 Juni 2026, Pusat Kajian Hadis (PKH) kembali menebar manfaat di momen Idul Adha melalui kegiatan “Kurban di Pesantren Cinagara 2025”. Kegiatan yang berlangsung di Pesantren Cinagara, Caringin, Bogor ini menjadi ajang berbagi berkah kurban kepada masyarakat sekitar.

    Sebanyak 2 ekor sapi dan 8 ekor kambing/domba disembelih dan dagingnya dibagikan kepada 515 penerima manfaat dari berbagai wilayah, seperti RT 01/06 dan RT 02/06 Kelurahan Cinagara, Kecamatan Cinagara, Jogjogan, dan Dukuh Kaung. Hewan kurban tersebut merupakan amanah dari para donatur, termasuk keluarga almarhum Dr. Ahmad Lutfi Fathullah dan keluarga besar PKH.

    Rangkaian acara meliputi pemotongan hewan kurban dan pendistribusian daging kepada warga yang berlangsung dengan tertib dan penuh semangat kebersamaan.

    Masyarakat menyambut baik kegiatan ini. Salah satu warga menyampaikan, “Kami sangat berterima kasih atas pembagian daging kurban ini.”

    Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga sarana memperkuat hubungan sosial antara pesantren, donatur, dan warga sekitar. Pusat Kajian Hadis berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Serang, 21 November 2024 – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Hadis UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten sukses menggelar Seminar Nasional bertema “Reinterpretation of Hadith to Answer Challenges in the Era of Society 5.0”. Acara ini berlangsung di Aula FUDA Lantai 2 dan dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan dosen.

    Seminar ini menghadirkan dua narasumber yakni Ust. Abdul Fathir Kautsar, Lc., M.A.,  serta Ust. Tarsim Fillah dari Pusat Kajian Hadis. Keduanya menyampaikan sejarah Ilmu Hadis dan penerapan teknologi dalam pengkajian Hadis dan Ilmu Hadis.

    Dalam paparannya, Ust. Abdul Fathir Kautsar menekankan pentingnya mengetahui sejarah dan perkembangan Ilmu Hadis, bagaimana ulama-ulama terdahulu membuat kitab kajian Ilmu hadis sehingga mudah dipelajari dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

    Sementara itu, Ust. Tarsim Fillah menyoroti peran Hadis dalam menjaga relevansi ajaran Islam di tengah perubahan sosial yang cepat. Di Era Society 5.0 menuntut umat Islam untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga kontributor aktif dalam menciptakan aplikasi-aplikasi berbasis nilai-nilai Islam khususnya kajian Hadis.

    Acara ini diakhiri dengan sesi diskusi yang interaktif, di mana para peserta berkesempatan mengajukan pertanyaan kepada para narasumber.

     

  • Dirgahayu Republik Indonesia ke 79 – Mari Cintai Tanah Air

    Dirgahayu Republik Indonesia ke 79 – Mari Cintai Tanah Air

    DIRGAHAYU RI ke-79

    Cinta Tanah Air dalam Hadits Rasulullah Saw

    عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا”

    Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Anas; bahwa Nabi Muhammad SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. (HR. Bukhari : 1886)

    وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ.

    Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalany (w.852) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari menegaskan bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil (petunjuk):
    Pertama, dalil atas keutamaan kota Madinah;
    Kedua, dalil disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.

    Sependapat dengan Al-Hafidz Ibnu Hajar, Badr Al-Din Al-Aini yang bermazhab Hanafi (w. 855 H) dalam kitabnya ‘Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari menyatakan:

    وَفِيه: دَلَالَة عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّةِ حُبِّ الوَطَنِ وَاْلحِنَّةِ إِلَيْهِ

    Artinya; “Di dalamnya (hadits) terdapat dalil (petunjuk) atas keutamaan Madinah, dan (petunjuk) atas disyari’atkannya cinta tanah air dan rindu padanya.”

    Dengan adanya dalil-dalil yang sudah disebutkan diatas, maka sudah seharusnya kita meneladani baginda Rasulullah Saw dengan mencintai Negeri kita tercinta Indonesia.

    Referensi:
    1. Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Daar Tuq Najat. Cet-1, 1442 H. Juz. 3, Hal, 23. Hadist No. 1886.
    2. Al-Asqalany, Ibnu Hajar. Fathul Baari Syarh Sahih Al-Bukhari, Beirut, Darul Marifah, 1379 H. Juz , 3, Hal. 621.
    3. Badr Al-Din Al-Aini, Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Beirut, Dar Ihya’i Al-Turats Al-Arabi, Juz 10, hal. 135.

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Pusat Kajian Hadis merupakan salah satu lembaga yang sangat konsen terhadap kajian kegamaan, terutama bidang hadis. Selain menjadi salah satu referensi dan tempat konsultasi para akademis dalam  bidang hadis, lembaga ini juga menjadi mitra organisasi massa dalam memberikan pelayanan mengenai hadis dan ilmu hadis.

    Tepatnya pada Kamis, 25 Juli 2024, pukul 09.00 WIB, PKH menjadi salah satu narasumber dalam acara Diskusi Pentashihan Literasi Digital. Acara yang diselenggerakan oleh Lembaga Pentashih Buku dan Konten Ke-Islaman Majelis Ulama Indonesia bertempat di Aula Buya Hamka Gedung MUI Pusat.

    Dengan didampingi 4 (empat) narasuber lainnya, PKH diminta oleh MUI untuk memberikan materi Model Pentashihan Hadis secara Digital. Ustadz Tarsim Fillah sebagai narasumber dari Pusat Kajian Hadis, menekankan bahwa di zaman yang serba canggih ini, mentakhrij hadis dan mempelajari hadis semakin mudah, tinggal kitanya saja yang harus lebih bersemangat. Beliau juga mengajak kepada para kyai, asatidz, para dosen, mahasiswa dan masyarakat luas untuk memperbanyak literasi keislaman terutama di bidang hadis dan menyimpan karya mereka dalam bentuk digital.

    Semoga Pusat Kajian Hadis selalu hadir di tengah umat dan istiqamah dalam memberikan pelayanan di bidang hadis, aamiin… aamiin.

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    BOGOR – Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dan Mahasiswa UAD Ciamis melaksanakan program PPL di Pesantren PKH

    Mahasiswa dari Universitas Islam Negri (UIN) Imam Bonjol Padang dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Ciamis memulai Program Pengalaman Lapangan (PPL), Selasa 07/03/2024

    Pembukaan acara pelaksanaan program PPL dihadiri oleh perwakilan dosen pembimbing yang bertugas dengan dibuka secara resmi di ruangan aula.

    Pada hari pertama mahasiswa diperkenalkan tentang PKH yang berkaitan dengan karya-karya yang PKH punya dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai pandangan motivasi semangat untuk berkarya.

    Banyak program PPL yang di dapat untuk mahasiswa selama di PKH, yaitu mahasiswa belajar digitalisasi hadis, pengantar desain aplikasi, figma, meme dakwah, CMS tematik dan sampai membuat proses bundling menjadi sebuah aplikasi yang dapat digunakan di perangkat android maupun IOS.

    Mahasiswa diajakarkan mengenai materi desain menggunakan aplikasi figma yang dimentori oleh kak Bayu Nirman S.Ds, apa itu aplikasi figma dan mulai memberikan materi pelatihan cara menggunakan aplikasi desain figma. Dan ada beberapa materi yang diajarkan untuk membuat logo dan meme dakwah.

    Masing-masing mahasiswa ditugaskan untuk membuat logo aplikasi maupun meme dakwah dengan versi sesuai judul yang mereka pilih secara individu.

    Tidak hanya belajar Desain dan Digitalisasi Hadis saja…

    Para mahasiswa juga di wajibkan untuk menghafal beberapa hadis agar menjadi bekal kebaikan dan dakwah suatu saat nanti. Hal itu sudah menjadi kewajiban sebagai mahar bagi tamu yang sudah menginap dan menjadi santri di PKH.

    Menghafal hadis dari buku karya PKH yaitu 40 Hadis Mudah Dihafal versi shahih Imam al-Bukhari baik sanad maupun matan hadis, berikut arti terjemahan dari bahasa Indonesia.

    Bagi mahasiswa yang mencapai hafalan sebanyak 40 hadis maka sebagai apresiasi PKH untuk mahasiswa diberikan sertifikat. Alhamdulillah.. terdapat 1 mahasiswi UIN Imam Bonjol Padang yang telah menyelesaikan dan menyetor hafalannya dari awal sampai akhir disimak oleh 2 rekan mentor dan 1 dosennya, lalu mahasiswi telah diberikan sertifikat oleh mentor PKH.

    Sore hari saat jam istirahat para mahasiswa melakukan beberapa kegiatan olahraga setelah menghadapi lelahnya belajar. Para mahasiswa ada yang futsal, berenang, bermain tenis meja atau pingpong, dan ada juga yang melakukan senam kebugaran agar fresh kembali pada saat melanjutkan pembelajaran di malam hari.

    Setelah melakukan olahraga yang cukup para mahasiswa mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah, makan malam dan menuju kembali ke mushollah untuk shalat Isya.

    Setiap pukul 20.00 WIB. mereka melanjutkan pembelajaran di aula dengan membawa laptop. Setelah semua materi sudah disampaikan dan diajarkan oleh para mentor. Para mahasiswa membuat sebuah aplikasi masing-masing dengan tema yang sudah mereka pilih, dan mereka memulai semuanya dari awal sampai akhir.

    Alhamdulillah… Para mahasiswa berhasil dan menciptakan sebuah aplikasi digitalisasi hadisnya masing-masing dan dapat diunduh.

    Program PPL dibagi menjadi 2 gelombang yaitu:

    Gelombang 1 = 23 Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dan 3 Mahasiswa UAD Ciamis pada tanggal 7-14 Mei 2024

    Gelombang 2 = 23 Mahasiswa UIN Padang pada tanggal 21-28 Mei 2024

    Di hari terakhir kegiatan PPL, mahasiswa diajak mengunjungi air terjun Cikaracak yang lokasinya kurang lebih 30 km dari pesantren sebagai hiburan refreshing melepaskan lelah setelah mereka berjuang dari hari pertama PPL sampai akhir, pada saat kembali ke Pesantren PKH para mahasiswa dan para mentor berkumpul di ruangan Aula untuk acara terakhir, yaitu penutupan PPL lalu ada sesi foto bersama sebagai kenangan yang indah untuk sebuah kebersamaan dalam perjuangan. [Hans]

  • Bulan-bulan Haram – Al-Asyhur Al-Hurum (الأشهر الحرم)

    Bulan-bulan Haram – Al-Asyhur Al-Hurum (الأشهر الحرم)

    Bulan-bulan Haram

    Setelah bulan Ramadhan berlalu, seharusnyan kita bisa mengoptimalkan ibadah kita di bulan Syawal. Karena Ramadhan adalah bulan pembentukan karakter dan tarbiyah intens ibadah pribadi dan sosial bagi kaum muslimin, ya tentunya di bulan Syawal tinggal pembuktiannya saja. Jika amal ibadah di bulan Syawal tidak optimal, tentu sangat disayangkan, ada penurunan. Jika bisnis atau omset menurun membuat kita galau, apalagi ibadah, begitu seharusnya !

    Baca juga: Percaya pada hari dan bulan tertentu

    Alasan lain mengapa harus lebih optimal adalah leluasanya para setan untuk menggoda manusia. Mereka lebih mudah dan bebas untuk menggoda kita dibanding ketika di bulan Ramadhan. Mereka dibelenggu dengan kuat sehingga tidak kuasa menggoda umat Rasulullah SAW untuk menikmati syahdunya ibadah sebagaiman dalam hadis :

    :حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنْ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي أَنَسٍ مَوْلَى التَّيْمِيِّينَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

    .إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, ia berkata: Telah menceritakan kepada saya Al Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab, ia berkata: Telah mengabarkan kepada saya Ibnu Abu Anas, maulanya at-Taymiyyiin bahwa bapaknya menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Apabila bulan Ramadhah datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahannam ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu”.

    (HR. Bukhari no. 1766).[1]

    Jadi jelas, selain Ramadhan, ujian beribadah lebih besar karena para setan sangat bebas menggoda manusia.  Tapi bagi pemeluk Islam yang mempunyai iman yang kuat dan keikhlasan yang tinggi, in sya Allah selamat dari godaan mereka. Firman Allah :

      قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ –  إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ

    “(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Q.S. Shad : 82-83)

    Agar iman kita tetap kuat dan stabil, paling tidak kita harus banyak mencai ilmu dan bergaul dengan orang-orang shaleh. Caranya mudah sekali, rajinlah Shalat Jama’ah di masjid dan rajin ikuti kajian di masjid. Ilmu dan iman In sya Allah bertambah. Dengan bertambahnya ilmu, maka kita akan smangat terus beribadah karena mengetahui keutamaan atau keistimewaan dari sebagian perintah Allah.

    Contoh yang paling mudah adalah dengan mengetahui bahwa dari 12 bulan yang Allah ciptakan, ada 4  (empat) bulan yang Allah muliakan yang disebut Al-Asyhur Al-hurum atau Bulan-bulan Haram. Firman Allah :

    إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

    “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (Q.S. At-Taubah : 36)

    Bulan apa sajakah ?

    Hadis Rasulullah SAW :

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الزَّمَانَ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    “Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Wahhab Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Ayyub dari Muhammad dari Ibnu Abu Bakrah dari Abu Bakrah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari No. 4294)[2]

    Di Bulan Mulia yang empat itu kita tidak boleh boleh berbuat zhalim atau bermaksiat. Sebagian ulama brpendapat bahwa bermaksiat di bulan-bulan tersebut mendapatkan dosa dua kali lipat atau lebih besar dibandingkan dilakukan di bulan lain. Selain itu, ada juga yang brpendapat bahwa di bulan mulia itu tidak boleh mengadakan peperangan.[3] Jika dosa berlipat di bulan haram, tentu pahala juga berlipat.[4]

    Sederhananya, salah satu hikmah Bulan Haram bagi kita adalah bulan untuk menjaga kestabilan iman dan meningkatkan amal ibadah kita. Terlebih pelaksananaanya 3 (tiga) bulan berturut-turut di tambah bulan Rajab.

    Bagi mereka yang memperhatikan agama, tentu tidak akan menyia-nyiakan Bulan Haram begitu saja. Ditinggal Ramadhan saja sudah sedih, apalagi meninggalkan 3 Bulan Haram berturut-turut, rugi !

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

    [1] Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari 3035, Muslim 1793, Tirmidzi  618, Nasa’I 2070, Ibn Majah 1632, dan Darimi 1710

    [2] Hadis ini juga diriwayatkan oleh 3179, Abu Daud 1663  dan Ahmad 20386

    [3] Lihat tafsir Ibn Katsir dan tafsir Al-Wajiz Syeikh Wahbah Az-Zuhaili

    [4] Lihat Tafsir Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil

  • MUI: Sertifikasi Halal Satu-satunya Pilihan Kembangkan Ekonomi Umat

    MUI: Sertifikasi Halal Satu-satunya Pilihan Kembangkan Ekonomi Umat

    Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Ekonomi, KH Lukmanul Hakim mendorong agar proses sertifikasi halal menjadi satu-satunya pilihan untuk mengembangan ekonomi umat khususnya bagi para pelaku UMKM.

    Menurutnya, hal ini sangat penting untuk terus dikembangkan dan dioptimalkan khususnya peran dari LPPOM MUI. Kiai Lukman menuturkan, seiring dengan perubahan regulasi, LPPOM MUI diharapkan mampu beradaptasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak.

    Baca juga: Termasuk kategori Bisnis Halal / Haram?

    ‘’MUI sebagai khadimul ummah, mendukung kebijakan pemerintah dalam hal ini LPPOM MUI harus bisa beradaptasi dengan regulasi-regulasi yang ada dan berkolaborasi dengan seluruh pihak oleh kementerian, dalam hal ini BPJPH, DKS dan instansi lainnya,’’ ujarnya saat menjadi narasumber Festival Syawal yang digelar oleh LPPOM MUI secara virtual, Kamis (9/6).

    Kiai Lukman menjelaskan, sertifikasi halal memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan dan mendukung ekonomi kerakyatan khususnya UMKM. Untuk itu, Kiai Lukman mendorong agar sertifikasi halal ini menjadi keunggulan bersaing bagi para pengusaha khususnya kelompok kecil.

    ‘’Sehingga, mereka tetap menjadi pilhan bagi konsumen-konsumen di Indonesia yang mayoritas umat Muslim,’’ jelasnya.

    Apalagi, kata dia, perdagangan bebas sudah dibuka yang membuat produk-produk UMKM dari luar negeri sangat mudah masuk ke Indonesia. Meski begitu, dia menilai karakteristik halal ini harus didapatkan dari gaya UMKM yang harus murah, mudah dan cepat.

    ‘’Namun demikian, tapi tidak boleh melepaskan unsur-unsur substansi halal daripada produk itu sendiri. Karena kita tau bahwa halal ini menjadi sebuah hukum Islam,’’ tegasnya.

    Dengan demikian, lanjutnya, standar halal ini bisa dilakukan dengan cara yang akuntabel dan transparan, serta tidak memiliki standar lain yang berbeda atau diskriminatif bagi pelaku UMKM maupun perusahaan yang besar.

    Sekadar informasi, kegiatan Festival Syawal yang digelar oleh LPPOM MUI ini bertajuk,‘’ : Recover Together, Recover Stronger Bersama UMK Halal’’ yang dihadiri oleh sejumlah tokoh di antaranya Wakil Presiden RI KH Maruf Amin, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki, Kepala BJPH Kementerian Agama Muhammad Aqil Irham, Direktur LPPOM MUI Muti Arintawati.[ah/mui]

  • Hukum Berpuasa Saat Safar

    Hukum Berpuasa Saat Safar

    Begitu juga puasa wajib, boleh memilih antara tetap melakukannya atau memilih rukhshah dengan tidak menjalankannya dan nanti diqadha’ atau diganti di bulan lainnya.

    Baca juga: Apakah puasa kita batal jika telat berbuka puasa hingga 1 jam?

    Hukum Berpuasa Saat Safar

    Q.S. Al-Baqarah : 184

    أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

    “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

    Hadis Rasululh SAW :

    : قَالَ الإِمَامُ البُخَارِى رَحِمَهُ اللهُ

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ حُمَيْدٍ الطَّوِيلِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعِبْ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ.

    Al Imam Al-Bukhari Rahimahullahu berkata :

    “Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Humaid Ath-Thowil, dari Anas bin Malik, ia berkata: “Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang berpuasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka juga tidak mencela yang berpuasa”. (HR. Bukhari 1811).

    Dua dalil naqli di atas menunjukkan kepada kita bahwa Syariah Islamiyah itu tidak kaku dan terkesan  memberatkan umatnya. Dalam kondisi tertentu, Allah memberikan rukshah (dispensasi) kepada hamba-Nya. Bagi yang tidak bisa berwudhu karena ketiadaan air misalnya, orang boleh tayamum. Bagi yang tidak mampu shalat wajib dalam keadaan berdiri, masih bisa shalat dengan kondisi duduk.

    Begitu juga bagi kaum muslimin dalam kondisi safar (bepergian dengan jarak tertentu menurut syara’) bisa menjama’ dan mengqashar shalat. Begitu juga puasa wajib, boleh memilih antara tetap melakukannya atau memilih rukhshah dengan tidak menjalankannya dan nanti diqadha’ atau diganti di bulan lainnya.

    Menurut para ulama, hadis di atas adalah peristiwa perjalanan Rasulullah dan para Sahabat RA di bulan Ramadhan dari Madinah menuju Makkah untuk berperang menaklukan kota Makkah (Fathu Makkah). Jarak dari Makkah tentu cukup jauh dan melelahkan. Tentu terbayang betapa lelahnya Rasulullah dan para Sahabat melewati tandusnya padang pasir sejauh kurang lebih 450 KM. Selain menahan terik di siang hari dan dinginnya udara gurun di malam hari, perjalan tersebut ada yang menggunakan unta, himar dan juga berjalan kaki. Andaikan tidak ada rukhshah (dispensasi) bagi musafir, tentu terasa berat bagi mereka berpuasa dalam kondisi seperti itu. Karena dispensasi bersifat pilihan, maka ada sebagian sahabat yang mengambilnya sebagai bentuk kemurahan dari Allah. Adapun sebagian sahabat yang tetap berpuasa mungkin merasa sanggup menjalankan. Dengan demikian, mereka tidak saling mencela karena pilihan masing-masing.

    Demikian juga dengan tradisi mudik yang dilakukan beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri. Karena mudik termasuk dalam katagori safar, maka  boleh memilih antara tetap berpuasa atau berbuka dan juga boleh menjamak dan mengqashar shalat selagi jarak perjalanan memenuhi syarat. Kita sangat perlu memperhatikan poin-poin berikut:

    • Jarak safar yang memperbolehkan musafir untuk tidak berpuasa adalah setara dengan jarak dimana orang boleh meng-qashar shalat, minimal 88,74 KM. Perjalanan sebagaimana dimaksud adalah perjalanan yang bukan bertujuan maksiat kepada Allah.
    • Boleh tidak berpuasa jika perjalanan dimulai pada malam hari sebelum masuk waktu Subuh dan sudah melewati kampungnya. Jika berangkatnya setelah Subuh, maka musafir masih dihitung mukim dan tetap wajib berpuasa di hari itu walaupun perjalanannya jauh. Jika di tengah perjalanan mengalami sakit dan berpotensi mudharat jika bertahan untuk puasa, maka boleh berbuka dan di qadha’ di bulan lain selain Ramadhan di hari yang tidak ada larangan berpuasa.
    • Jika sudah sampai tujuan dan bermukim, maka kewajiban berpuasa Ramadhan kembali seperti semula.

    Jika memang dalam kondisi safar masih bisa berpuasa walaupun syaratnya terpenuhi, memilih tetap berpuasa adalah lebih baik jika memang mampu.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

  • Lima RA dari Daerah Cicurug Gelar Manasik Haji Gabungan di PKH

    Lima RA dari Daerah Cicurug Gelar Manasik Haji Gabungan di PKH

    Bogor – Sebanyak 100 murid dari 5 TK (Raudhatul Athfal /RA) wilayah Cicurug, melakukan kegiatan manasik haji dan umrah di pesantren Pusat Kajian Hadis (PKH) pada tanggal 23 Februari 2022 lalu.

    Kelima TK (Raudhatul Athfal /RA) dari daerah Cicurug tersebut adalah RA. Annisa, pimpinan Lely Anggraeni S.Pd.I yang beralamat di Kp.Gintung RT 02 RW 06 DS Nanggerang Cicurug, RA. Albasthoh, pimpinan Nurmilatul Hasanah, S.Pd.I, beralamat di Kp. Bangbayang RT 01/03 Desa Bangbayang Cicurug,  RA. Nur Adzkia, pimpinan Yuliawati, S.Pd.I, beralamat di Kp. Cicewol, RT 03/04 Mekarsari, Cicurug,  RA. Alfahrudiyah, pimpinan Imas Maesaroh S.Pd.I, yang beralamat di Kp.Nyangkowek RT 01 RW 06 Cicurug, dan RA. Almuhlisin, pimpinan Liah Marliah, S.Pd.I, beralamat di Kp. Lebak Sinyar RT 03/06 Kelurahan Cicurug.

    Dengan jumlah peserta manasik yang banyak itu, hampir semua tim dari Pusat Kajian Hadis ikut turun membimbing jalannya kegiatan manasik bahkan anak almarhum Kiai DR. Ahmad Lutfi pun yaitu Hadi Fathullah ikut serta mengajar.

    Mengantisipasi banyaknya peserta didik yang melakukan manasik, kelima TK juga membawa total 24 orang pendamping yang membantu lancarnya kegiatan. Dan Alhamdulillah kegiatan manasik lima TK dari daerah Cicurug bisa berjalan baik dan lancar.

    Beberapa perwakilan guru dan orang tua dari peserta manasik menyatakan kepuasan mereka dengan pelayanan serta bimbingan yang disampaikan para ustadz serta ustadzah dari PKH.

    ” Kami sudah ikut manasik haji tahunan, baru kali ini kegiatan berjalan dengan tertib dan aman, terima kasih Ustadz dan Ustadzah PKH,” ujar salah seorang guru TK.

    “Alhamdulillah tempatnya enak, dan tempatnya sudah bagus, dengan adanya pengajar dari PKh anak-anak jadi semakin mengikuti kegiatannya. Semoga tempatnya semakin bagus dan tahun depan kita bisa kesini lagi, semoga kami beneran ke Mekkah al-mukarram,” kata perwakilan orang tua murid.[]

    Beberapa Foto-foto kegiatan

     

  • Kecerdasan Anas Ibn Malik Dalam Menerima Hadis dan Menyampaikannya

    Kecerdasan Anas Ibn Malik Dalam Menerima Hadis dan Menyampaikannya

    Kondisi zaman dulu tentunya sangat jauh berbeda dengan sekarang. Untuk menyimak suatu pesan, pelajaran atau informasi, apalagi yang bersifat sangat penting, tentu audiens menyiapkan media pendukung agar pesan atau informasi mudah disimpan. Seorang wartawan ada yang menyiapkan kamera, HP atau paling tidak secarik kertas dan pulpen untuk menyimpan data dan tidak mau ambil resiko menghafal pesan atau info tersebut di otaknya untuk menghindari “salah hafal”.

    Hal ini tentu jauh berbeda dengan para sahabat ketika menerima hadis, baik yang langsung mereka terima dari Rasulullah atau melalui sahabat lainnya. Di zaman itu masih sangat sedikit yang mampu baca tulis, mereka mengandalkan hafalan tok ! Sekalipun bisa baca tulis, ada juga larangan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam untuk menulis hadis karena khawatir tercampur dengan ayat Al-Qur’an.

    Walau pun kondisinya seperti itu, tidak mengurangi semangat dan antusiasme para sahabat untuk menerima hadis dari Rasulullah dan berusaha menghafalnya dan menjaga agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an.

    Berikut satu contoh hadis yang cukup panjang tentang peristiwa Isra’ Mi’raj yang disampaikan oleh perawi pertama, Anas Ibn Malik Radhiyallahu Anhu. Mohon bersabar !

    حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ قَالَ ثُمَّ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَصَلَّيْتُ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ خَرَجْتُ فَجَاءَنِي جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام بِإِنَاءٍ مِنْ خَمْرٍ وَإِنَاءٍ مِنْ لَبَنٍ فَاخْتَرْتُ اللَّبَنَ فَقَالَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اخْتَرْتَ الْفِطْرَةَ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِآدَمَ فَرَحَّبَ بِي وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الثَّانِيَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِابْنَيْ الْخَالَةِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَيَحْيَى بْنِ زَكَرِيَّاءَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمَا فَرَحَّبَا وَدَعَوَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الرَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قَالَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِدْرِيسَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا } ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ الْخَامِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِهَارُونَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ بِنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام قِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَحَّبَ وَدَعَا لِي بِخَيْرٍ ثُمَّ عَرَجَ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ هَذَا قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ ثُمَّ ذَهَبَ بِي إِلَى السِّدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَإِذَا وَرَقُهَا كَآذَانِ الْفِيَلَةِ وَإِذَا ثَمَرُهَا كَالْقِلَالِ قَالَ فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللَّهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَيَّ خَمْسِينَ صَلَاةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَنَزَلْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا فَرَضَ رَبُّكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَإِنِّي قَدْ بَلَوْتُ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَخَبَرْتُهُمْ قَالَ فَرَجَعْتُ إِلَى رَبِّي فَقُلْتُ يَا رَبِّ خَفِّفْ عَلَى أُمَّتِي فَحَطَّ عَنِّي خَمْسًا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقُلْتُ حَطَّ عَنِّي خَمْسًا قَالَ إِنَّ أُمَّتَكَ لَا يُطِيقُونَ ذَلِكَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ قَالَ فَلَمْ أَزَلْ أَرْجِعُ بَيْنَ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَبَيْنَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ صَلَاةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلَاةً وَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيِّئَةً وَاحِدَةً قَالَ فَنَزَلْتُ حَتَّى انْتَهَيْتُ إِلَى مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ التَّخْفِيفَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ قَدْ رَجَعْتُ إِلَى رَبِّي حَتَّى اسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ (رواه مسلم)

    Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farrukh telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Tsabit al-Bunani dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku telah didatangi Buraq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buraq tersebut mencapai ujungnya.” Beliau bersabda lagi: “Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.” Beliau bersabda lagi: “Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan shalat sebanyak dua rakaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan semangkuk susu. Dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, ‘Kamu telah memilih fitrah’. Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril meminta agar dibukakan pintu, maka ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Ditanyakan lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutus? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutus.’ Maka dibukalah pintu untuk kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam, dia menyambutku serta mendoakanku dengan kebaikan. Lalu aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril lalu minta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapa yang bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad.’ Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria, mereka berdua menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik langit ketiga. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Lalu ditanyakan, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf Alaihis Salam, ternyata dia telah dikaruniakan dengan kedudukan yang sangat tinggi. Dia terus menyambut aku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keempat. Jibril pun meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris Alaihis Salam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Allah berfirman: ‘(Dan kami telah menganggkat ke tempat yang tinggi darjatnya) ‘. Aku dibawa lagi naik ke langit kelima. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Harun Alaihissalam, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit keenam. Jibril lalu meminta supaya dibukakan pintu. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Musa, dia terus menyambutku dan mendoakan aku dengan kebaikan. Aku dibawa lagi naik ke langit ketujuh. Jibril meminta supaya dibukakan. Kedengaran suara bertanya lagi, ‘Siapakah kamu? ‘ Jibril menjawabnya, ‘Jibril’. Jibril ditanya lagi, ‘Siapakah bersamamu? ‘ Jibril menjawab, ‘Muhammad’. Jibril ditanya lagi, ‘Apakah dia telah diutuskan? ‘ Jibril menjawab, ‘Ya, dia telah diutuskan’. Pintu pun dibukakan kepada kami. Tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaihissalam, dia sedang berada dalam keadaan menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa memasukkan tujuh puluh ribu malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan.” Beliau bersabda: “Ketika beliau menaikinya dengan perintah Allah, maka sidrah muntaha berubah. Tidak seorang pun dari makhluk Allah yang mampu menggambarkan keindahannya karena indahnya. Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa Alaihissalam, dia bertanya, ‘Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ‘ Beliau bersabda: “Shalat lima puluh waktu’. Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Israel dan menguji mereka’. Beliau bersabda: “Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku’. Lalu Allah subhanahu wata’ala. mengurangkan lima waktu shalat dari beliau’. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangkan lima waktu shalat dariku’. Nabi Musa berkata, ‘Umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi’. Beliau bersabda: “Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardu. Begitu juga barangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukanya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya’. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa, lalu aku memberitahu kepadanya. Dia masih saja berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan’. Aku menjawab, ‘Aku terlalu banyak berulang-ulang kembali kepada Tuhanku, sehingga menyebabkanku malu kepada-Nya.” (HR. Muslim).

    Jika kita cermati hadis panjang di atas, secara berurutan menceritakan bebrapa poit :

    1. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam diberikan Buraq dan menceritakan bentuk Buraq.
    2. Rasulullah menunggangi Buraq (dari Masjid Haram) dan singgah di Baitul Maqdis (Masjid Al-Aqsha) lalu mengikat Buraq di salah satu tiang masjid yang biasa dilakukan para Nabi terdahulu ketika mengikat binatang tunggangan mereka.
    3. Rasulullah memasuki masjid lalu shalat dua raka’at. Menurut riwayat lain yang masih juga dari jalur Anas Ibn Malik, Rasulullah mengimami para Nabi dalam shalat tersebut.
    4. Selesai Shalat, Jibril mendatangi Rasulullah dengan membawa dua minuman, arak dan susu lalu beliau memilih susu.
    5. Setelah itu Rasulullah bersama Jibril naik ke langit (mi’raj). Sesampai di pintu langit pertama, minta dibukakan oleh malaikat penjaga pintu langit dan setelah dibuka, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam As.
    6. Naik ke langit berikutnya sampai ke kangit tujuh dan bertemu beberapa Nabi dengan urutan : Isa dan Yahya As, Yusuf As, Idris As, Harun As, Musa dan terakhir Ibrahim As.
    7. Di langit ke-7 beliau melihat Nabi Ibrahim bersandar di Al-Bait Al-Ma’mur, ka’bah penghuni langit yang dithawafi oleh 70.000 malaikat setiah harinya.
    8. Setelah itu menuju Sidrat Al-Muntaha dan menceritakaan keindahannya.
    9. Menerima kewajiban secara langsung dari Allah Azza Wa Jalla untuk mendirikan Shalat 50 waktu.
    10. Turun dari Sidrat Al-Muntaha. Ketika bertemu kembali dengan Nabi Musa As terjadilah dialog yang intinya Nabi Musa mengusulkan agar Rasulullah meminta keringanan kepada Allah agar Shalat tidak dilaksakan 50 waktu.
    11. Rasulullah melaksanakan usul dari Musa As dan Allah menguranginya 5 waktu.
    12. Nabi Musa masih merasa keberatan dan meminta agar dikurangi lagi. Begitu seterusnya sampai Allah menetapkan menjadi 5 waktu yang pahalanya sebanding dengan 50 waktu.
    13. Nabi Musa tetap merasa keberatan dan menyarankan Rasulullah agar dikuragi lagi. Rasulullah merasa malu kepada Allah jika saran Nabi Musa dilaksanakan.

    Ma sya Allah, paling sedikit ada 13 poin yang dihafal secara langsung oleh Anas Bin Malik tanpa coretan pena di atas kertas sedikitpun ! Itulah perjuangan para sahabat belajar kepada Rasulullah dengan sangat sungguh-sungguh. Bagi mereka yang tidak sempat datng menghadiri Majlis Rasulullah, mereka selalu minta diajari oleh sahabat yang datang.

    Salah satu hikmah dari isi hadis di atas adalah betapa pentingnya mendirikan shalat lima waktu. Jika shalat adalah kewajiban biasa, untuk apa Rasulullah menembus langit untuk menerima perintah tersebut secara langsung dari Allah tanpa perantara malaikat ?

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh