Category: Tsaqofah

  • Mau Jadi Orang Baik? Bertakwalah!

    Mau Jadi Orang Baik? Bertakwalah!

    Semua orang pasti ingin menjadi baik karena hal itu merupakan fitrah. Perampok sekalipun ingin jadi baik namun kondisi iman yang sedang turun itulah yang membuatnya mengikuti bujuk rayu syaithon. Lihat saja singa! Sebuas-buasnya singa tidak akan ada sedikitpun keinginan untuk memakan anaknya sendiri.

    Baca juga: Kecerdasan Anas Ibn Malik Dalam Menerima Hadis dan Menyampaikannya

    Melalui hadisnya yang sangat singkat, Rasulullah mengajarkan agar umatnya terus menjadi baik. Pesan singkat namun sangat menyentuh dan aplikatif ini termuat dalam hadis berikut:

    عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

    “Dari Abu Dzar ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku:

    “Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” HR. Tirmidzi)

    Orang yang betul-betul bertakwa sudah pasti baik zahir dan batinnya. Bagus luar dalamnya. Perbuatan baiknya bukan basa-basi atau demi konten semata. Dilihat atau tidak dilihat orang tentu  tidak ada pengaruh baginya. Orang yang bertakwa kapan dan dimana saja sudah pasti ikhlas. Dia akan berusaha terus untuk menjadi hamba Allah yang disiplin dan patuh. Lisannya selalu dijaga agar tidak keluar kata yang sia-sia apalagi untuk mengisi podcast yang mengekploitasi aib masa lalu seperti yang dilakukan oleh oknum-oknum yang gila sensasi minim prestasi itu!

    Manusia tentu tidak luput dari salah dan khilaf. Tidak ada manusia sempurna sekalipun dia seorang syaikh besar. Tapi lihatlah hadis di atas yang memberikan solusi ketika seorang hamba melakukan kesalahan agar segera bertaubat dan memperbaiki dirinya. Ibaratnya, apabila terjatuh, maka segeralah bangun dan lanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati, bukan malah terus tidur!

    Dulu pemabuk, penjudi, pezina, pembohong dan pendosa. Itu dulu! Sekarang menjadi pribadi yang taat ibadah dan maunya menolong orang saja! Tidak betah lihat orang susah, bawaaannya mau bantu saja. Dulu penghambur uang untuk mabuk dan judi, sekarang maunya jadi donator saja, Ma sya Allah!

    Lihatlah sebagian para Sahabat Nabi sebelum menerima Islam sebagai agama dan jalan hidup!  Setelah menerima hidayah dan menjadi orang-orang paling beruntung karena selalu berada di sisi Nabi,  mereka para sahabat tidak lagi memikirkan dirinya saja. Yang dipikirkan adalah bagaimana caranya agar dicintai Allah dan Rasul-Nya. Yang mereka pikirkan dan harapkan adalah bagaimana caranya mati syahid, bukan “mati sangit” yang dialami para teroris yang hobinya berhalusinasi akut tentang surga dan bidadari!

    Dan lihatlah penutup hadis diatas! Pesan Nabi yang begitu indah dan universal, bersosialisi dengan akhlak yang baik. Kepada siapa saja dia berakhlak baik. Di rumah, di lingkungan, di tempat kerja, di stasiun, di bandara dan sampai bermedsos pun dia selalu beraklak dengan baik. Akhlak itu spontan, bukan pencitraan!

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

  • Bersabar Ketika Ditimpa Musibah

    Bersabar Ketika Ditimpa Musibah

    Siapakah orang yang tidak sedih jika tertimpa musibah? Sebagai manusia, tentu menjadi hal yang sangat lumrah ketika seseorang merasa sedih ketika tertimpa musibah. Kesedihan yang dialami oleh saudara kita tentu membuat kita turut berempati dan merasakan duka yang sama.

    Baca juga: Bagaimana Hukum Mengingat Dunia Saat Shalat Karena Besarnya Masalah Yg Di hadapi

    Kaum muslimin ibarat suatu bangunan, saling menguatkan satu sama lainnya sebagaimana yang tergambar dalam suatu hadis:

    عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

    Dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” kemudian beliau menggenggam jari jemarinya.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Ahmad).

    Karena saling menguatkan sesama muslim, maka sudah seharusnya kaum muslimin dan muslimat yang tidak tertimapa musibah membantu sauara-saudaranya yang tertimpa musibah. Bentuk bantuan tentu sangat beragam, bisa dengan materi, tenaga atau paling tidak menguatkan mereka dan juga mendoakan amgar mereka bersabar dan senantiasa dalam lindungan Allah.

    Sebagai muhasabah kita, Al-Qur’an sudah mengabarkan kepada kita agar selalu bersabar ketika menerima musibah atau ujian dari Allah SWT. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 155-157:

    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ﴿١٥٥﴾ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ ﴿١٥٦﴾ أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ ﴿١٥٧﴾

    (155). Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,

    (156). (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

    (157). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

    Dari ayat-ayat tersebut setidaknya kita memahami beberapa hal:

    • Allah sudah pasti menguji orang-orang beriman
    • Kadar ujian yang Allah berikan sebetulnya sedikit sekali dibanding nikmat yang Ia berikan. Namun walapun sedikit, hal itu tentu dirasa sangat besar dan sangat berat bagi manusia.
    • Bergembiralah orang-orang yang sabar dalam menerima ujian karena akan diberikan ganjaran berupa limpahan pahala, ampunan dan rahmat
    • Orang yang bersabar ketika ditimpa musibah adalah orang yang menyadari bahwa semua merupakan ketetapan Allah. Oleh karena itu mereka senantiasa mengatakan bahwa semua yang kami miliki adalah milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali.

    Jika direnungkan, kesabaran adalah energi yang luar biasa untuk menghadapi musibah. JIka tidak ada konsep sabar dalam Islam, tentu banyak orang yang hilang akal, tertekan, depresi, stress, gila, bunuh diri, stoke, putus asa atau bisa saja melakukan sesuatu yang dilarang Allah. Sabar berarti ridha dan ikhlas menerima qadha’ dan qadar. Dari hati yang lapang inilah semangat tetap terus ada sehingga meningkatkan optimisme bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Semua yang hilang karena musibah, akan diganti yang lebih baik oleh Allah sebagaimana petunjuk dari Rasullah SAW:

    عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ { إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاطِبَ بْنَ أَبِي بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِي لَهُ فَقُلْتُ إِنَّ لِي بِنْتًا وَأَنَا غَيُورٌ فَقَالَ أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللَّهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا وَأَدْعُو اللَّهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ

    Dari Ummu Salamah bahwa ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, ‘INAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena mushibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).’ melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.” Ummu Salamah berkata; Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, “Orang muslim manakan yang lebih baik daripada Abu Salamah? Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian akupun mengucapkan doa tersebut. Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ummu Salamah mengkisahkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Hatib bin Abu Balta’ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab, “Bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita, dan aku sendiri adalah seorang pencemburu.” Selanjutnya beliau pun menjawab: “Adapun anaknya, maka kita do’akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya, dan aku mendo’akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu.” (HR. Muslim).

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

  • Selain Pahala, Inilah Manfaat Membaca Al-Qur’an

    Selain Pahala, Inilah Manfaat Membaca Al-Qur’an

    Al-Qur’an merupakan Kalam Allah dan kitab suci dan merupakan petunjuk bagi seluruh manusia. Sudah tentu banyak sekali manfaat yang kita peroleh dari Al-Qur’an selain petunjuk dan pahala bagi para pembacanya.

    Baca juga: AQL Khataman Quran Sambut Kemerdekaan RI

    Berikut sebagian fadhilah yang akan kita bahas melaui tulisan singkat ini.

    Bertawassul dengan Surat Al-Fatihah.

    Bukankah kita sering mendengar para ulama kita membaca Surat Al-Fatihah sebelum berdo’a? Ya, itu bagian dari tawassul agar do’a kita cepat diijabah oleh Allah. Sabda Rasulullah SAW :

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،  قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، قَالَ   اللَّهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي. وَإِذَا قَالَ: مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي .وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي. فَإِذَا قَالَ: إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ. (رواه مسلم).

    Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Allah swt berfirman: Aku bagikan shalat (doa/bacaan salat) antaraKu dan hambaKu dua bagian, dan untuk hambaKu apa yang dia minta. Jika seorang hamba mengucap: الحمد لله رب العالمين (segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam), Allah berfirman: HambaKu telah memuji-Ku. Jika seorang hamba mengucap: الرحمن الرحيم (Yang maha Pengasih lagi maha Penyayang), Allah berfirman: Hamba-Ku memuji-Ku. Jika dia berkata:مالك يوم الدين . Allah berfirman: Jika seorang hamba mengucap: إياك نعبد وإياك نستعين (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Allah berfirman: Ini bagian Aku dan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta. Jika sorang hamba mengucap: اهدنا الصراط المستقيم صراط اللذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين (Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan nikmat kepada mereka, bukan mereka yang dimurkai atau mereka yang sesat) Allah berfirman: Ini bagian hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.”  (HR. Muslim)

    Menyembuhkan Penyakit Lahir dan Batin.

    Ya, ruqyah dengan ayat Al-Qur’an dapat menyembuhkan berbagai penyakit, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani seperti hasad (dengki), ujub (pamer) dan takabbaur (kesombongan).

    Fiman Allah :

    وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

    “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Q.S. Al-Isra: 82).

    Hadis Rasulullah SAW :

    عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ : وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ : ثُمَّ قَالَ :خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ. (متفق عليه)

    Abu Sa’id al-Khudri ra bercerita bahwa : Pada suatu ketika kami dalam perjalanan, kamipun singgah disebuah perkampungan. Tiba-tiba seorang budak perempuan mengadukan bahwa pemimpin mereka sakit dan dukun kampung sedang tidak ada, ia lalu bertanya : Apakah ada diantara kalian yang bisa meruqiyah ? Lalu seorang – diantara kami yang tidak kami ketahui sebelumnya bahwa dia bisa melakukan hal ini- berdiri dan melakukan ruqiyah. Pemimpin yang sakit itupun sembuh, kemudian beliau memerintahkan untuk memberinya 30 ekor kambing dan memberi kami minum susu. Kemudian, ketika kami kembali, kamipun menanyakannya: Apakah kamu pandai mengobati/rukiyah ? atau pernah melakukannya ? Dia menjawab : Tidak, aku tidak pernah melakukannya kecuali dengan membaca ummul Qur’an. Kamipun mengingatkan agar jangan melakukan apapun sampai kita datang kepada Nabi saw atau menanyakannya. Ketika kami tiba di Madinah, kamipun menceritakannya kepada Nabi saw. Baginda bersabda: “Apa yang dia ketahui kalau surah itu ruqiyah ?, Bagikanlah (kambing-kambing itu) dan beri aku sebagian.” (Muttafaq Alaih).

    Rumah dipenuhi cahaya keberkahan dengan membaca Al-Qur’an dan membuat penghuninya tentram dan lapang. Berikut hadis mauquf :

    عَن أبِى هُرَيْرَةَ كَانَ يَقُولُ إِنَّ الْبَيْتَ لَيَتَّسِعُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَهْجُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَكْثُرُ خَيْرُهُ أَنْ يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ وَإِنَّ الْبَيْتَ لَيَضِيقُ عَلَى أَهْلِهِ وَتَهْجُرُهُ الْمَلَائِكَةُ وَتَحْضُرُهُ الشَّيَاطِينُ وَيَقِلُّ خَيْرُهُ أَنْ لَا يُقْرَأَ فِيهِ الْقُرْآنُ

    Dari Abu Hurairah RA berkata : “Sesungguhnya rumah benar-benar menjadi lapang bagi penghuninya, dihadiri para malaikat, dijauhi para syaitan dan banyak kebaikannya (jika ) di dalamnya (rumah itu) dibacakan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya rumah benar-benar sempit bagi penghuninya, dijauhi para malaikat, dihadiri para syaitan dan sedikit kebaikannya (jika) tidak dibacakan Al-Qur’an di dalamnya.” (HR. Ad-Darimi).

    Dan masih sangat banyak fadhilah dan manfaat Al-Qur’an yang belum sempat kita bahas. Jangan malas membaca Al-Qur’an dan jadikanlah ia sebagai wirid dalam kehidupan kita. Dan yang tak kalah pentingnya adalah mempelajari maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

  • Berbicaralah Seperti Rasulullah

    Berbicaralah Seperti Rasulullah

    Manusia adalah makhluk sosial yang sudah pasti membutuhkan satu sama lain. Agar suatu keinginan, maksud dan harapan seseorang dapat dimengerti oleh orang lain, salah satu yang dilakukannnya adalah berbicara. Dan tentunya berbicara merupakan kegiatan pokok manusia dalam bersosialisasi.

    Dari cara bicara, sesorang bisa dinilai akhlak dan kepribadiannya. Lawan bicara semakin nyaman dan dihargai ketika seseorang berbicara dengan tepat dan santun. Berbicara yang santun juga dapat meluluhkan kerasnya hati seseorang. Berbicara yang santun juga dapat meredamkan emosi seseorang. Jika sebaliknya, nasihat sebaik apapun belum tentu bisa diterima apabila disampaikan dengan lisan yang keras, air muka masam, garang dan ketus.

    Bagaimanakah cara berbicara yang baik ? Berbicaralah seperti Rasulullah SAW. Berikut hadisnya[1] :

     

    :عن الحسن بن علي رضي الله تعالى عنهما قال

    «سألت خالي هند بن أبي هالة وكان وصافا، فقلت صف لي منطق رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم متواصل الأحزان، دائم الفكرة، ليست له راحة، طويل السكت، لا يتكلم في غير حاجة، يفتتح الكلام ويختمه (باسم الله تعالى) ويتكلم بجوامع الكلم، كلامه فصل، لا فضول ولا تقصير، ليس بالجافي ولا المهين، يعظم النعمة وإن دقت لا يذم منها شيئا غير أنه لم يكن يذم ذواقا  ولا يمدحه، ولا تغضبه الدنيا ولا ما كان لها فإذا تعدى الحق لم يقم لغضبه شيء حتى ينتصر له ولا يغضب لنفسه ولا ينتصر لها، إذا أشار أشار بكفه كلها، وإذا تعجب قلبها وإذا تحدث اتصل بها، وضرب براحته اليمنى بطن إبهامه اليسرى، وإذا غضب أعرض وأشاح، وإذا فرح غض طرفه، جلّ ضحكه التبسم، يفترّ عن مثل حبّ الغمام

    “Dari Al-Hasan Ibn Ali RA, ia berkata : “Saya pernah bertanya kepada pamanku, Hindun ibn Abi Halah, yang sangat pandai menggambarkan sesuatu. Saya katakan kepadanya: Gambarkanlah kepadaku bagaimana cara Rasulullah berbicara. la berkata: Rasulullah SAW adalah seorang yang tampak selalu prihatin dan senatiasa berpikir. Beliau lebih banyak diam dan berbicara seperlunya. Beliau memulai dan mengakhiri pembicaraan beliau dengan menyebut nama Allah. Ucapan beliau selalu padat, detail, dan jelas, tidak lebih dan tidak kurang, tidak kasar dan tidak merendahkan. Beliau selalu mensyukuri nikmat walaupun sedikit dan sama sekali tidak pernah mencelanya. Beliau tidak pernah mencela dan rnemuji makanan. Urusan dunia beserta isinya tidak pernah membuat beliau marah. Jika kebenaran dilanggar, beliau tidak akan diam hingga kebenaran itu ditegakkan. Beliau juga tidak pernah marah dan tidak pula memperjuangkan kepentingan pribadi. Ketika menunjuk sesuatu, beliau selalu menggunakan seluruh telapak tangannya. Dalam keadaan takjub atau terkejut, beliau selalu membalik (telapak tangan). Ketika berbicara, beliau terbiasa menggunakan tangan untuk memperjelas perkataan dengan cara memukul-mukulkan telapak tangan kanan ke ibu jari kiri. Ketika marah, beliau berbalik dan berpaling. Ketika senang, beliau menundukkan pandangan. Tawa beliau adalah senyuman dan gigi beliau tampak seperti butiran salju.” (HR. Tirmidzi).

    Begitu juga dengan hadis berikut, Nabi SAW selalu menghadapkan seluruh wajah beliau ketika menyimak lawan bicara :[2]

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا فَلَبِسَهُ قَالَ شَغَلَنِي هَذَا عَنْكُمْ مُنْذُ الْيَوْمَ إِلَيْهِ نَظْرَةٌ وَإِلَيْكُمْ نَظْرَةٌ ثُمَّ أَلْقَاهُ

    “Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW membuat cincin dan memakainya. Beliau bersabda: ‘Sejak hari itu cincin ini telah menyibukkan aku dari urusan kalian, aku melihat kepadanya dan melihat kepada kalian.’ Setelah itu beliau membuangnya.” (HR. Nasa’i).

    Beberapa poin yang bisa diambil dari hadis-hadis diatas jika kita ingin meniru sunnah Rasulullah SAW ketika berbicara :

    • Berbicara yang manfaat dan seperlunya.
    • Selalu memulai dan mengakhiri pembicaraan dengan menyebut nama Allah.
    • Pembicaraan bersifat padat, detail dan jelas.
    • Berbicara dengan lembut dan tidak merendahkan lawan bicara.
    • Jika menunjuk sesuatu dalam berbicara, gunakanlah seluruh telapak tangannya, jangan hanya jari telunjuk saja agar jangan terkesan lebih tinggi dari orang lain.
    • Selalu membalikkan telapak tangan jika merasa takjub atau terkejut.
    • Membantu pembicaraan dengan sedikit gerakan tangan agar lebih mudah difahami.
    • Jika merasa marah dengan lawan bicara, hendaklah memalingkan badan. Hal ini dilakukan agar tidak meladeni lawan bicara dan meredam emosi.
    • Merespon dengan ekspresi yang tepat terhadap pembicaraan yang memang lucu dan menyenangkan. Hal ini dilakukan untuk meenghormati dan menyenangkan lawan bicara.
    • Menghadapkan seluruh badan dan wajah kepada lawan bicara. Hindari main HP atau sejenisnya saat menyimak lawan bicara.

    Begitulah gambaran umum akhlak dan ciri khas Rasulullah SAW ketika berbicara kepada siapa saja. Jika seluruh umat Islam mencontoh sunnah Rasulullah SAW ketika berbicara, tentu damai sekali dunia ini. Cara bicara seperti ini berlaku untuk siapa saja, berlaku untuk atasan kepada bawahannya, suami kepada istri dan anak-anaknya, majikan kepada pembantunya, pemimpin kepada seluruh anggotanya dan siapaun dan apapun kedudukannya.

    Sudah saatnya kita menyimak lawan bicara dengan maksimal. Letakkan HP dan Gadget Anda mulai sekarang dan seterusnya ketika rapat, diskusi, ngobrol dan bercengkrama dengan anggota keluarga.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

    [1] Lihat Kitab As-Syamail Al-Muhammadiyah Lit Tirmidzi, hadis no 226.

    [2] Lihat Sunan An-Nasa’I Kitab Perhiasan Bab Nabi membuang cincin dan tak memakainya lagi.

  • Keistimewaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

    Keistimewaan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

    Bagi orang beriman, rindu kepada Rasulullah SAW adalah fitrah. Bagaimana bisa menahan rindu kepada seorang manusia pilihan yang akhlaknya paling mulia? Beliau adalah orang yang paling menginginkan umatnya dalam keimanan dan keselamatan. Beliau sangat penyantun dan penyayang kepada orang-orang beriman. Allah SWT berfirman :

    لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢٨﴾  فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُلْ حَسْبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ ٱلْعَرْشِ ٱلْعَظِيمِ ﴿١٢٩﴾

    (128). “Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

    (129). “Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.”

    Baca juga: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Mengedepankan Solusi

    Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang menggambarkan keindahan akhlak Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang sangat berwibawa dan terhormat. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang Allah tegaskan di dalam Al-Qur’an.

    Agar menambah kecintaan dan kerinduan kita, artikel sederhana ini menyertakan beberapa hadis yang membahas sebagian keistimewaan Rasulullah SAW.

    Ketampanan Rasulullah SAW

    عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ مَا رَأَيْتُ مِنْ ذِي لِمَّةٍ أَحْسَنَ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَعْرُهُ يَضْرِبُ مَنْكِبَيْهِ بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ قَالَ أَبُو كُرَيْبٍ لَهُ شَعَر

    Dari Al Barra’ dia berkata; “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih tampan berpakaian merah dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rambut beliau terurai ke bahunya yang bidang, perawakannya tidak tinggi kurus dan tidak pula pendek.” Abu Kuraib berkata dengan lafazh; ‘Lahu Sya’arun.’ (beliau mempunyai rambut.) (HR. Muslim)

    Ludah Rasulullah SAW

    عَنْ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَهْلِي عَنْ أَبِي قَالَ أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ فَشَرِبَ مِنْهُ ثُمَّ مَجَّ فِي الدَّلْوِ ثُمَّ صَبَّ فِي الْبِئْرِ أَوْ شَرِبَ مِنْ الدَّلْوِ ثُمَّ مَجَّ فِي الْبِئْرِ فَفَاحَ مِنْهَا مِثْلُ رِيحِ الْمِسْكِ

    Dari Abdul Jabbar bin Wa`il ia berkata, Telah menceritakan kepadaku keluargaku dari bapakku Nabi SAW dibawakan ember berisi air, dan beliau pun minum darinya kemudian memuntahkannya kembali ke dalam ember. Setelah itu, beliau menuangkannya ke dalam sumur atau minum air dari ember kemudian memuntahkannya kembai ke dalam Sumur, hingga dari sumur itu keluar bau wangi seperti wanginya Misk. (HR. Ahmad)

    Tanda Kenabian

    عَنْ الْجَعْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ يَقُولُا ذَهَبَتْ بِي خَالَتِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ ابْنَ أُخْتِي وَجِعٌ فَمَسَحَ رَأْسِي وَدَعَا لِي بِالْبَرَكَةِ ثُمَّ تَوَضَّأَ فَشَرِبْتُ مِنْ وَضُوئِهِ ثُمَّ قُمْتُ خَلْفَ ظَهْرِهِ فَنَظَرْتُ إِلَى خَاتَمِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ مِثْلَ زِرِّ الْحَجَلَةِ

    Dari Al Ja’ad bin ‘Abdur Rahman dia berkata; Aku mendengar As Saib bin Yazid berkata; “Aku dan Bibiku pergi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bibi berkata kepada beliau; “Ya Rasulullah, keponakanku sakit.” Maka beliau mengusap kepalaku, kemudian beliau mendoakan keberkahan bagiku. Sesudah itu beliau berwudlu lalu kuminum sisa air wudlunya. Kemudian aku berdiri di belakang beliau. Aku melihat cap kenabian beliau terletak antara kedua bahu kira-kira sebesar telor burung.“ (HR. Muslim)

    Batu Yang Selalu Memberi Salam

    عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ

    Dari Jabir bin Samurah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya akulah yang paling mengenal batu di Makkah. Batu-batu itu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Rasul. Kini aku ingat peristiwa itu.“ HR. Muslim)

    Bulan Terbelah

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِنًى إِذَا انْفَلَقَ الْقَمَرُ فِلْقَتَيْنِ فَكَانَتْ فِلْقَةٌ وَرَاءَ الْجَبَلِ وَفِلْقَةٌ دُونَهُ فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْهَدُوا

    Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Saat kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam di Mina, bulan terbelah menjadi dua bagian, salah satunya di belakang gunung dan yang lain di bawahnya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Saksikan.“ (HR. Muslim)

    Mengetahui Siksa Kubur

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

    Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati dua kuburan, beliau lalu bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa. Dan mereka berdua disiksa bukan karena melakukan dosa besar. Salah seorang di antara mereka disiksa karena suka mengadu-domba sedangkan yang lainnya disiksa karena tidak memasang satir saat kencing.” Kemudian beliau meminta pelepah kurma basah, lalu membelahnya menjadi dua. Kemudian beliau menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: “Semoga pelepah ini bisa meringankan siksa keduanya, selama ia belum kering.“ (HR. Muslim)

    Dan masih banyak hadis-hadis yang berhubungan dengan keistimewaan Rasulullah SAW. Sebelum artikel ini saya selesaikan, saya akan menyampaikan beberapa hadis bagaiman kita memperoleh syafaat Rasulullah SAW, diantaranya :

    Memintakan Al-wasilah untuk baginda setelah adzan berkumandang

    عَن عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

    Dari Abdullah bin Amru bin al-Ash bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila kalian mendengar mu’adzdzin (mengumandangkan adzan) maka ucapkanlah seperti yang dia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku, karena orang yang bershalawat atasku dengan satu shalawat, niscaya Allah akan bershalawat atasnya dengannya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah wasilah untukku, karena ia adalah suatu tempat di surga, tidaklah layak tempat tersebut kecuali untuk seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan saya berharap agar saya menjadi hamba tersebut. Dan barangsiapa memintakan wasilah untukku, maka syafa’at halal untuknya.” (HR. Muslim)

    Berziarah ke makam Rasulullah SAW

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَاءَنِي زَائِرًا لاَ يُعْلَمُ لَهُ حَاجَةٌ إِلاَّ زِيَارَتِي كَانَ حَقًّا عَلَيَّ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ شَفِيْعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

    Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa datang kepadaku yang tidak ada kepentingan kecuali berziarah kepadaku, maka wajib bagiku memberi syafaat kepadanya di hari kiamat” (HR al-Thabrani (HR. Thabrani)

    Memperbanyak Shalawat

    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَرُوِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا وَكَتَبَ لَهُ بِهَا عَشْرَ حَسَنَاتٍ

    Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling dekat denganku pada hari Qiyamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” Abu Isa berkata, ini adalah hadits hasan gharib, telah diriwayatkan dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat satu kali kepadaku, maka Allah akan memberikan shalawat sepuluh kali kepadanya dan dicatat baginya sepuluh kebaikan.” (HR. Tirmidzi)

    Meninggal di Madinah dalam keadaan mu’min

    عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

    Dari Ibnu Umar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mampu untuk mati di kota Madinah, maka hendaknya ia mati di dalamnya, karena sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi siapa saja yang meninggal di dalamnya.” (HR. Tirmidzi)

     

    Wallahu A’lam

    Ridwan Shaleh

    Referensi : App. Potret Pribadi Dan Kehidupan Rasulullah SAW, Dr. KH. Lutfi Fathullah MA

     

  • Al-Qur’an Surat Al-Ashr

    Al-Qur’an Surat Al-Ashr

    Muqaddimah

    Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT secara berangsur-angsur ada yang dibarengi dengan sebab yang melatar belakanginya dan ada pula yang tidak. Kabar tentang turunnya suatu ayat sudah pasti berdasarkan riwayat dari berbagai hadis, baik marfu’ dan minimal mauquf.

    Jika turunnya dibarengi dengan sebab, maka para ulama menyebutnya dengan sabab atau asbabun nuzul . Untuk Surat Al-Ashr ini, penulis belum menemukan informasi sabab nuzulnya, baik melalui pecarian kitab-kitab khusus yang membahas Asbabbun Nuzul seperi :

    • Asbab An-Nuzul Lil Wahidi (Kitab Primer para peneliti asbab an-nuzul)
    • Lubab Al-Manqul Lis Suyuthi (Kitab Primer para peneliti asbab an-nuzul)
    • As-Shahih Al-Musnad Min Asbab An-Nuzul Li As-Syeikh Muqbil Ibn Hadi Al Wadi’i
    • As-Shahih Min Asbab An-Nuzul Ii As-Syeikh Isham Ibn Muhsin Al-Humaidan
    • Al-Muharrar Fi Asbab Nuzul Al-Qur’an Li As-Syeikh Khalid Ibn Sulaiman Al-Muzaini
    • Al-Isti’ab Fi Bayan Al-Asbab Li As-Syaikh Salim Ibn Id Al Hilali

    Dan juga kitab tafsir berbasis riwayat seperti :

    • Tafsir At-Thabari
    • Tafsir Ibn Katsir
    • Tafsir Al-Baghawi
    • Tafsir Ibn Abi Hatim Ar-Razi
    • Ad-Dur Al-Mantsur Lis Suyuthi
    • Tafsir Ibn Abbas Wa Marwiyaatih Min Kutub As-Sunnah Li Ad-Duktur Abd Al-Aziz Ibn Abdillah Al-Humaidi
    • Tafsir Ibn Juraij, dll

    Surat Al-Ashr ini diturnkan di Makkah, 14 kata dan 68 huruf.[1] Al-Allamah As-Shawi Al-Maliki mengatakan bahwa Surat Al-Ashr dan Al-Kautsar merupakan surat terpendek di dalam Al-Qur’an. Walapun dua surat ini lafazh-lafzhnya pendek, nama maknanya sangat luas tanpa batas.[2]

    Yang sangat menarik dari surat ini diantaranya adalah :

    • Allah bersumpah dengan objek makhluk. Mengapa tidak bersumpah dengan ke-Agungan sifat-Nya? Hal ini akan kita bahas menurut Ilmu Al-Qur’an khususnya Bab Qasam
    • Isi sumpah yang sangat dahsyat dan menjadi automatic sensor bagi orang-orang beriman dalam menjalani kehidupan.
    • Keutamaan surat Al-Ashr berdasarkan riwayat

    Q.S. Al-Ashr Ayat 1 :

    وَٱلْعَصْرِ

    “Demi masa.”

    Ada hal yang sangat menarik dari ayat ini. Allah SWT bersumpah dengan waktu, artinya Allah bersumpah dengan makhluk-Nya. Mengapa Allah tidak bersumpah dengan kemulian diri-Nya saja? Bukankah Allah adalah Tuhan yang mempunyai seluruh kebesaran dan kemulian? Dengan

    Di dalam Al-Qur’an, Allah bersumpah dengan diri-Nya dan juga bersumpah dengan makhluk-Nya. Al-Imam As-Suyuthi dalam kitabnya, Al-Itqan Fi Ulumil Qur’an mencatat bahwa ada 7 ayat di dalam Al-Qur’an dimana Allah bersumpah dengan diri-Nya, yaitu :

    • S. Yunus : 53
    • S. At-Taghabun : 7
    • S. Maryam : 68
    • S. Al-Hijr : 92
    • S. An-Nisa : 65
    • S. Al-Ma’arij : 40
    • S. An-Nahl : 63

    Di selain 7 ayat di atas, sudah pasti Allah bersumpah dengan nama makhluk-Nya.[3]

    Qasam (sumpah) dalam Al-Qur’an dimaksudkan untuk menguatkan atau mengukuhkan sesuatu, menghilangkan keraguan, menguatkan argumentasi dan berita yang disampaikan.

    Di saat Al-Qur’an diturunkan, tentu banyak sekali penolakan atau pengingkaran masyarakah Mekkah yang saat itu berteologi politeisme (menyembah banyak tuhan). Sekalipun ada sebagian yang tidak menolak dengan keras, paling tidak ada keraguan tentang apa yang disampaikan oleh Muhammad SAW.

    Di saat Al-Qur’an diturunkan, mereka baru mendengar berita tentang alam kubur, Hari Akhirat, Hari Kiamat, pertanggung jawaban amal, surga, neraka, kisah-kisah umat terdahulu, norma-norma dan akhlak dan hal–hal lain yang mungkin mereka anggap sesuatu yang baru dan tidak mungkin. Untuk mengukuhkan kebenaran Al-Qur’an, maka banyak sekali ayat-ayat yang terdapat qasam atau sumpah.[4]

    Kembali pada surat Al-Ashar ayat 1 yang kita bahas ini, bahwa Allah bersumpah dengan waktu. Ketika Allah bersumpah dengan makhluknya, maka Allah memuliakan makhluk tersebut atau Allah bermaksud mengingatkan betapa besar manfaat makhluk yang Allah jadikan sumpah tersebut. Sebagai contoh misalnya و السماء  (demi langit), و الأرضِ (demi bumi), و الشمسِ (demi matahari) dan lainnya.

    Jika Allah bersumpah demi masa atau waktu, maka tersadarlah kita bahwa waktu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Jika tak pandai menggunakan wakyu, maka sia-sialah umur dan hidup kita. Dengan waktu, kita bisa mengagendakan kegiatan atau acara. Dengan waktu kita bisa melakukan amal kebaikan dan sesuatu yang banyak manfaat. Waktu luang adalah kesempatan untuk beribadah dengan nyaman dan mudah. Rasulullah Saw bersabda :

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

    Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.”(HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibn Majah, Ad-darimi dan Ahmad)

    Ingat, satu detik dalam hidup kita mempunyai dua peluang sekaligus, kebaikan atau keburukan ! Satu detik bisa menyelamatkan kehidupan kita di akhirat. Gara-gara satu detik, orang bisa masuk surga karena taubatnya sebelum mati diterima oleh Allah !

    Jangankan masalah agama, dalam menghargai waktu, orang-orang barat mengatakan : Time Is Money ! jangan begitu ! Yang benar adalah Time Is Barokah !

    Q.S. Al Ashr Ayat 2

    إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ

    “Sungguh, manusia berada dalam kerugian,”

    Inilah isi sumpah Allah (muqsam alaih). Manusia itu merugi di dalam hidupnya kecuali mereka yang melakukan berbagai hal yang nanti akan diterangkan oleh Allah pada ayat berikutnya.

    Al-Mawardi dalam kitabnya An-Nukat Wal Uyun menukil penafsiran dari berbagai ulama bahwa maksud dari kata “Khusr” ada empat :[5]

    1. Kehancuran, (menurut As-Saddi), artinya “Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kehancuran.”
    2. Keburukan, (menurut Zaid Ibn Aslam), artinya “Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keburukan.”
    3. Kekurangan, (menurut Ibn Syajarah), artinya “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kekurangan.”
    4. Hukuman, (menurut Sayyiduna Ali RA), artinya “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam hukuman.”

    Menurut salah satu riwayat dari Imam As-Syafi’I, beliau menafsirkan kata “khusr’ dalam ayat ini dengan “kelalaian.”[6]

    Jika dikaitkan dengan muqsam bih (sesuatu yang dijadikan sumpah) pada ayat 1 dalam surat Al-Ashr ini, maka makna pada ayat dua ini adalah, “Sesungguhnya manusia selama hidupnya sepanjang tahun sampai wafat benar-benar dalam kerugian, kehancuran, keburukan, kekurangan, kelalalian dan mendapat hukuman dari Allah kecuali mereka yang Allah kecualikan dalam ayat berikutnya.

    Q.S. Al-Ashr Ayat 3

     

    إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

    “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

    Dalam ayat ini, orang yang selamat dalam hidupnya adalah mereka yang :

    • Beriman
    • Beramal shaleh
    • Saling berwasiat (memberi nasihat) dalam hal kebenaran dan kesabaran.

    Orang yang beriman dan beramal shaleh tidak akan merugi karena mereka menukar kebahagian dunia untuk kebahagian akhirat yang abadi. Sedangkan orang yang saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran selamat dalam kehidupannya karena mereka senantiasa konsisten dalam hal keyakinan dan perbuatan yang benar.[7]

    Beberapa keutamaan (fadhilah) Surat Al-Ashr:

    Al-Imam As-Suyuthi dalam kitab tafsirnya, Ad-Dur Al-Mantsur, menulis sebagai berikut :

    Al Imam At-Thabrani mentakhrij dalm kitabnya Al-Mu’jam Al-Austh dan Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab Al-Iman berdasarkan riwayat dari Abu Malikah Ad-Darimi bahwa dua orang sahabat Nabi berjumpa, maka tidak akan berpisah sebelum salah satu dari mereka membaca surat Al-Ashr, baru kemudian setelah itu salah satu dari mereka memberi salam.[8]

    Ibnu Katsir juga mencatat dalam kitabnya bahwa Al Imam As-Syafii berkata : “Apabila manusia mentadabburi surat ini (Surat Al-Ashr), maka cukuplah bagi mereka.”[9]

    Penutup :

    Jika tidak mau rugi dalam hidup di dunia ini, maka cermatilah surat Al-Ashr. Hargai dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya. Jadilah pribadi yang beriman, beramal saleh dan saling menasihati dan berwasiat dalam hal kebenaran dan kesabaran. Di akhirat kelak hanya dua pilhan, mau tempat yang mana ? Surga atau neraka ?

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

    Referensi :

    • Al-Bayan Fi Add Ay Al-Qur’an Li Al Imam Abu Amr Ad-Dani
    • Hasyiyah Ash-Shawi Al-Maliki
    • At-Itqan Fi Ulum Al-Qur’an Lis-Suyuthi
    • Mabahits Fi Ulum Al-Qur’an, Manna’ Al-Qatthan
    • An-Nukat Wal Uyun Tafsir Al-Mawardi
    • Tafsir Al Imam As-Syafi’I, Disertasi Dr. Ahmad Ibn Musthafa Al-Farran
    • Tafsir Al-Baidhawi
    • Ad-Dur Al-Mantsur Lis Suyuthi
    • Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Libni Katsir

     

     

     

    [1] Al-Bayan Fi Add Ay Al-Qur’an, Al Imam Abu Amr Ad-Dani, Markaz Al-Makhtuthat Wa At-Turats Wa Al-Watsa’iq, Kuawit, 1414 H, , hal 287

    [2] Lihat Hasyiyah Ash-Shawi Al-Maliki

    [3] Lihat At-Itqan Fi Ulum Al-Qur’an Lis-Suyuthi, Mujamma’ Malik Fahd, KSA,  Jilid 1 hal 675

    [4] Lihat Mabahits Fi Ulum Al-Qur’an, Manna’ Al-Qatthan, Maktabah Wahbah, hal 285

    [5] Lihat An-Nukat Wa Al-Uyun, Al Imam Al-Mawardi,Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Lebanon,t.t., Juz 6, Hal. 334

    [6] Lihat Tafsir  Al Imam As-Syafi’I, Disertasi Dr. Ahmad Ibn Musthafa Al-Farran, Dar Al-tadmuriyah, Riyadh, 1427 H, hal. 1461

    [7] Lihat Tafsir Al-Baidhawi, Dar Ihya Al-Turats Al-Arabi, Beirut, tt, Jilid 5 hal 336

    [8] Lihat Ad-Dur Al-Mantsur Lis Suyuthi, Dar Al-Fikr, t.t., juz 8, hal 621

    [9] Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Libni Katsir, Dar Ibn Al-Jauzi, 1431 H, Juz 7, hal 648

  • Adab Menghadiri Walimah (Resepsi Pernikahan)

    Adab Menghadiri Walimah (Resepsi Pernikahan)

    Adab Menghadiri Walimah (Resepsi Pernikahan)

    حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ ابْنَ عَشْرِ سِنِينَ مَقْدَمَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَكَانَ أُمَّهَاتِي يُوَاظِبْنَنِي عَلَى خِدْمَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَدَمْتُهُ عَشْرَ سِنِينَ وَتُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا ابْنُ عِشْرِينَ سَنَةً فَكُنْتُ أَعْلَمَ النَّاسِ بِشَأْنِ الْحِجَابِ حِينَ أُنْزِلَ وَكَانَ أَوَّلَ مَا أُنْزِلَ فِي مُبْتَنَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِزَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَصْبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَا عَرُوسًا فَدَعَا الْقَوْمَ فَأَصَابُوا مِنْ الطَّعَامِ ثُمَّ خَرَجُوا وَبَقِيَ رَهْطٌ مِنْهُمْ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَطَالُوا الْمُكْثَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ وَخَرَجْتُ مَعَهُ لِكَيْ يَخْرُجُوا فَمَشَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَشَيْتُ حَتَّى جَاءَ عَتَبَةَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ ثُمَّ ظَنَّ أَنَّهُمْ خَرَجُوا فَرَجَعَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا دَخَلَ عَلَى زَيْنَبَ فَإِذَا هُمْ جُلُوسٌ لَمْ يَقُومُوا فَرَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا بَلَغَ عَتَبَةَ حُجْرَةِ عَائِشَةَ وَظَنَّ أَنَّهُمْ خَرَجُوا فَرَجَعَ وَرَجَعْتُ مَعَهُ فَإِذَا هُمْ قَدْ خَرَجُوا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ بِالسِّتْرِ وَأُنْزِلَ الْحِجَابُ

    Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bahwasanya; Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang di Madinah, ia masih anak-anak usia sepuluh tahun. Ia mengkisahkan; ibuku menyuruhku untuk berkhidmat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka aku pun berkhidmat untuk beliau selama sepuluh tahun, maka saat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat aku adalah pemuda yang telah berumur dua puluh tahun. Akulah orang yang paling mengerti tentang hijab saat perintah itu diturunkan. Itu adalah perintah yang pertama kali turun pada pernikahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan Zainab binti Jahsyin. Saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengadakan walimah, beliau mengundang orang-orang dan mereka pun menikmati makanan yang dihidangkan. Setelah itu, mereka pun keluar pergi, kecuali beberapa orang yang masih tetap berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka memperlama duduk di situ. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun beranjak dan keluar, lalu aku pun ikut keluar bersama beliau agar orang-orang itu juga ikut keluar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan, dan aku juga ikut berjalan hingga sampai di ambang pintu rumah Aisyah. Lalu beliau mengira, bahwa mereka yang duduk tadi telah keluar, maka beliau pun kembali lagi dan aku juga ikut kembali hingga beliau sampai di tempat Zainab, dan ternyata orang-orang itu masih ada di situ dan belum beranjak. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun kembali lagi dan aku juga ikut kembali bersamanya. Dan ketika sampai di ambang pintu Aisyah, beliau menduga bahwa mereka pasti sudah pergi, maka beliau kembali lagi dan aku juga ikut kembali bersama beliau, dan ternyata orang-orang itu sudak keluar pergi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan pembatas antara aku dan beliau, maka saat itu diturunkan perintah Hijab. (HR. Bukhari 4768). Diriwayatkan juga oleh Muslim 2565, Tirmidzi 3141 dan Ahmad 11585.

    Keterangan :

    Anas Ibn Malik RA menceritakan bahwa Nabi SAW mengundang para sahabat RA untuk menghindari walimah pernikahan beliau dengan Zainab Binti Jahsy. Rasulullah menghindangkan jamuan dalam walimah tersebut. Namun sayangnya, para sahabat terlalu lama berada di rumah Nabi sehingga beiau merasa tidak nyaman sampai beliau mondar-mandir ke depan rumah Aisyah RA. Tak lama berselang turunlah ayat tentang hijab. Dalam salah satu hadis riwayat Muslim, ayat yang tersebut ialah surat Al-Ahzab : 53, yaitu :

    يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ ٱلنَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نَٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلَٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَٱدْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَٱنتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى ٱلنَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ وَٱللَّهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ ٱلْحَقِّ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ذَٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ ٱللَّهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمًا

    “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil maka masuklah dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”

    Secara singkat, hadis ini mempunyai beberapa pesan, diantaranya :

    • Sangat dianjurkan bagi orang tua agar memerintahkan anaknya berkhidmah kepada para ulama di rumah mereka atau di madrasah mereka. Bisa satu atau dua tahun atau beberpa tahun agar bisa mengambil ilmu dari mereka. Lihatlah bagaimana Anas Bin Malik RA diperintahkan oleh ibunya untuk berkhidmah di rumah Rasulullah SAW.
    • Sunnah mengadakan walimah setelah pernikahan
    • Walimah meyediakan makanan untuk para tamu. Tidak mesti mewah, yang penting pantas atau layak.
    • Hendaklah walimah ditentukan waktunya agar para tamu undangan tidak terlambat datang atau masih di tempat sedangkan waktu walimah sudah berakhir
    • Jangan sengaja datang ketika walimah sudah berakhir karena dikhawatirkan mengganggu pengantin atau keluarga pengantin

    Wallahu A’lam

    Ridwan Shaleh

    Pusat Kajian Hadis

     

  • Shalat dalam Kondisi Perang

    Shalat dalam Kondisi Perang

    Syukur yang tak terhingga bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa usia kemerdekaan RI telah mencapai 77 tahun. Atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, melalui wasilah dan perjuangan para pahlawan bangsa kita memperoleh kemerdekaan. Para ulama, santri dan seluruh rakyat gigih memperjuangkan tanah air. Semoga Allah SWT menjadikan mereka para syuhada dan menempatkan mereka di surga Firdaus, aamiin.

    Di saat perang melawan para penjajah, sangat dimungkinkan para pejuang kita yang mayoritas beragama Islam melaksanakan “Shalat Khauf”, yaitu shalat wajib yang dilaksanakan dalam keadaan genting karena khawatir akan datangnya serangan musuh secara tiba-tiba. Ada baiknya kita kembali membahas diskursus Shalat Khauf memalui artikel kita saat ini.

    Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa : 102) :

    وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوٓا۟ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا۟ فَلْيَكُونُوا۟ مِن وَرَآئِكُمْ وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا۟ فَلْيُصَلُّوا۟ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا۟ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ وَدَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَٰحِدَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَن تَضَعُوٓا۟ أَسْلِحَتَكُمْ وَخُذُوا۟ حِذْرَكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَٰفِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا﴾

    “Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum salat, lalu mereka salat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.”

    Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya Al-Wajiz mengenai ayat ini menyebutkan bahwa :

    نزلت هذه الأية حينما صلى المومنون مع رسول الله صلى الله عليه و سلم الظهر, فقال المشركون : قد كانوا على حال, لو كنا أصبنا منهم غرة¸ قالوا : تأتى عليهم صلاة هى احب اليهم من ابائهم, و هى العصر, فنزل جبريل بهذه الاية بين الظهر و العصر, و هم بعسفان. و على المشركين خالد ابن الوليد و هم بينهم و بين القبلة.

    “Ayat ini turun ketika kaum mu;minin sholat Zuhur berjamaah bersama Rasulullah SAW. Kaum musyrikin berkata: “Mereka telah mengira bahwa kami akan terkena tipu daya mereka.” Mereka berkata: “Telah datang waktu sholat yang lebih mereka cintai daripada orang tua mereka yaitu sholat Ashar.” Lalu kemudian Jibril turun dengan membawa ayat ini pada waktu antara zuhur dan ashar. Mereka berada di lembah usfan dan di depan orang-orang musyrik ada Khalid bin Walid, mereka di antara orang-orang musyrik dan kiblat.”

    Menurut jumhur mufassir, ayat ini menrangkan kaifiyat shalat khauf ketika posisi musuh berada dari arah kiblat.

    Tata Cara Shalat Khauf.

    Jika musuh berada dari arah kiblat :

    Perhatikan hadis berikut :

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْخَوْفِ فَصَفَّنَا صَفَّيْنِ صَفٌّ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعَدُوُّ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ فَكَبَّرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَبَّرْنَا جَمِيعًا ثُمَّ رَكَعَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَرَفَعْنَا جَمِيعًا ثُمَّ انْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ فِي نَحْرِ الْعَدُوِّ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّجُودَ وَقَامَ الصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بِالسُّجُودِ وَقَامُوا ثُمَّ تَقَدَّمَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ وَتَأَخَّرَ الصَّفُّ الْمُقَدَّمُ ثُمَّ رَكَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَكَعْنَا جَمِيعًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ وَرَفَعْنَا جَمِيعًا ثُمَّ انْحَدَرَ بِالسُّجُودِ وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ الَّذِي كَانَ مُؤَخَّرًا فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى وَقَامَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ فِي نُحُورِ الْعَدُوِّ فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السُّجُودَ وَالصَّفُّ الَّذِي يَلِيهِ انْحَدَرَ الصَّفُّ الْمُؤَخَّرُ بِالسُّجُودِ فَسَجَدُوا ثُمَّ سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَلَّمْنَا جَمِيعًا قَالَ جَابِرٌ كَمَا يَصْنَعُ حَرَسُكُمْ هَؤُلَاءِ بِأُمَرَائِهِمْ

    “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami bapakku telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Atha` dari Jabir bin Abdullah ia berkata; “Aku pernah ikut menunaikan shalat Khauf bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami berbaris dua shaf di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan musuh berada tepat antara kami dan kiblat (di hadapan kami). Mula-mula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir, lalu kami semua ikut bertakbir. Kemudian beliau ruku’ dan kami pun ikut ruku’ semua. Kemudian beliau I’tidal (bangkit) dari ruku’, maka kami bangkit pula semuanya. Sesudah itu, beliau turun untuk sujud bersama-sama dengan shaf yang pertama, sedangkan shaf kedua tetap berdiri untuk berjaga-jaga. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama shaf pertama telah selesai sujud dan telah berdiri, barulah shaf kedua turun untuk sujud, dan mereka terus bangun kembali. Sesudah itu, shaf kedua maju ke depan, sedangkan shaf pertama mundur. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ruku’ dan kami ruku’ pula semuanya. Kemudian beliau bangkit dari ruku’, lalu kami bangkit pula semuanya. Kemudian beliau turun untuk sujud diikuti oleh shaf yang berada di belakang beliau. Sedangkan shaf yang setelahnya (tadinya shaf pertama) tetap berdiri untuk berjaga-jaga ke arah musuh. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan shaf yang berada di belakangnya telah selesai sujud, barulah shaf yang kedua turun untuk sujud. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam, dan kami pun mengucapkan salam semuanya.” Jabir berkata; Sebagaimana yang dilakukan oleh para penjaga kalian bersama para pemimpinnya.” (HR. Muslim No. 1387)

    Berdasarkan hadis di atas, maka kaifiyah (tata cara) shalat khauf yang dilaksanakan jika musuh berada dari arah kiblat sebagai berikut :

    1. Imam membagi jamaah menjadi dua shaf, sahaf pertama dan shaf kedua.
    2. Ketika imam takbiratul Ihram, maka seluruh jamaah ikut bertakbir bersama imam.
    3. Ketika imam rukuk, maka seluruh makmum rukuk bersama imam.
    4. Ketika imam bangkit dari rukuk’, makmum semuanya kit bangkit dari ruku’ bersama imam.
    5. Ketika imam sujud, baik sujud petama, duduk diantara dua sujud dan sujud kedua, maka shaf pertama mengikuti imam. Adapun shaf kedua tetap berdiri untuk menjaga datangnya musuh.
    6. Setelah imam dan shaf pertama selesai sujud dan bangkit berdiri untuk melaksanakan rakaat kedua, maka shaf kedua baru menyusul untuk melakukan sujud hingga selesai dan berdiri kembali untuk melaksanakan rakaat kedua.
    7. Di permulaan rakaat kedua, jamaah pada shaf kedua maju menempati shaf pertama dan shaf pertama mundur bergantian ke shaf kedua.
    8. Ketika imam rukuk untuk rakaat kedua, maka semua makmum ikut ruku.
    9. Ketika imam bangkit dari ruku’ (I’tidal), maka semua makmum ikut bangkit dari ruku’.
    10. Ketika imam sujud, baik sujud pertama, duduk diantara dua sujud dan sujud kedua, maka shaf pertama (yang semula adalah shaf kedua) ikut sujud, duduk diantara dua sujud dan sujud kedua.
    11. Ketika imam dan shaf pertama duduk tahiyat, maka shaf kedua (yang semula shaf pertama) baru menyusul melaksanakan sujud, duduk diantar dua suju dan sujud kedua.
    12. Imam bertasyahud akhir bersama seluruh makmum (baik shaf pertama dan kedua, kemudian salam dan seluruh makmum melakukan salam.

    Jika Musuh Berada di Selain Arah Kiblat.

    Hadis Rasulullah SAW :

    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ عَنْ صَالِحِ بْنِ خَوَّاتٍ عَمَّنْ شَهِدَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ ذَاتِ الرِّقَاعِ صَلَّى صَلَاةَ الْخَوْفِ أَنَّ طَائِفَةً صَفَّتْ مَعَهُ وَطَائِفَةٌ وِجَاهَ الْعَدُوِّ فَصَلَّى بِالَّتِي مَعَهُ رَكْعَةً ثُمَّ ثَبَتَ قَائِمًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ انْصَرَفُوا فَصَفُّوا وِجَاهَ الْعَدُوِّ وَجَاءَتْ الطَّائِفَةُ الْأُخْرَى فَصَلَّى بِهِمْ الرَّكْعَةَ الَّتِي بَقِيَتْ مِنْ صَلَاتِهِ ثُمَّ ثَبَتَ جَالِسًا وَأَتَمُّوا لِأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ سَلَّمَ بِهِمْ وَقَالَ مُعَاذٌ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَخْلٍ فَذَكَرَ صَلَاةَ الْخَوْفِ قَالَ مَالِكٌ وَذَلِكَ أَحْسَنُ مَا سَمِعْتُ فِي صَلَاةِ الْخَوْفِ

    “Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik dari Yazid bin Ruman dari Shalih bin Khawwat dari orang yang menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat khauf saat perang Dzatur Riqa’, bahwa sekelompok pasukan berbaris dalam shaf bersama beliau, sedangkan kelompok lain berjaga-jaga menghadap musuh. Beliau lalu shalat beserta kelompok pertama satu raka’at, beliau tetap berdiri sementara kelompok tersebut menyelesaikan shalat mereka masing-masing, setelah itu mereka beranjak dan berjaga-jaga menghadap musuh (menggantikan kelompok kedua). Kemudian datang kelompok lain yang semula berjaga-jada lalu shalat satu raka’at bersama beliau dari shalat beliau yang masih kurang, kemudian beliau duduk. Sedangkan kelompok kedua, menyelesaikan kekurangan raka’at mereka masing-masing, setelah itu beliau salam bersama mereka.” [Mu’adz] mengatakan; telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari Abu Az Zubair dari Jabir ia berkata; “Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di wilayah Nakhl”. Lalu Jabir menceritakan tentang shalat khauf. Malik berkata; “Ini adalah keterangan yang paling baik yang pernah aku dengar tentang shalat khauf.” (HR. Bukhari 3817).

    Berikut kaifiyah shalat khauf jika musuh berada di selain arah kiblat :

    1. Imam membagi dua kelompok jamaah, kelompok pertama dan kelompok kedua.
    2. Imam takbiratul ihram dan mengerjakan rakaat pertama bersama kelompok pertama yang posisinya berada di belaknag imam. Sedangkan kelompok kedua berdiri dan berjaga-jaga menghadap arah datangnya musuh.
    3. Setelah imam beridiri untuk rakaat kedua, imam menahan shalatnya agak lama. Kelompok pertama melaksanakan rakaat kedua secara sendiri-sendiri (tidak mengikuti imam) dan kemudian salam.
    4. Ketika kelompok pertama salam dan imam masih terus berdiri, maka kelompok kedua bertukar posisi dengan kelompok pertama. Kelompok kedua berdiri di belakang imam lalu bertakbiratul ihram untuk ikut shalat bersama imam. Sedangkan kelompok pertama bergantian berdiri berjaga-jaga menghadap arah musuh.
    5. Ketika imam duduk tasyahud akhir, kelompok kedua meneruskan shalatnya untuk rakaat kedua dan dilaksanakan masing-masing (tidak mengikuti imam) hingga duduk tasyahud akhir dan salam bersama imam.

    Jika perang sedang berkecamuk (syiddatul khauf)

    Dalam kondisi darurat seperti ini, maka shalat khauf tidak bisa dilaksanakan berjamaah.

    As-Syeikh Al-Allamah Muhammad Ibn Qasim Al-Ghazzi dalam kitabnya Fath Al-Qarib Al-Mujib (Syarah Matan At-Taqrib) menjelaskan sebagai berikut :

     (وَالثَّالِثُ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ شِدَّةِ الْخَوْفِ وَالتِّحَامِ الْحَرْبِ) هُوَ كِنَايَةٌ عَنْ شِدَّةِ الْاِخْتِلَاطِ بَيْنَ الْقَوْمِ بِحَيْثُ يَلْتَصِقُ لَحْمُ بَعْضِهِمْ بِبَعْضٍ، فَلَا يَتَمَكَّنُوْنَ مِنْ تَرْكِ الْقِتَالِ وَلَا يَقْدِرُوْنَ عَلَى النُّزُوْلِ إِنْ كَانُوْا رُكْبَاناً، وَلَا عَلَى الْاِنْحِرَافِ إِنْ كَانُوْا مَشَاةً (فَيُصَلِّي) كُلٌّ مِنَ الْقَوْمِ (كَيْفَ أَمْكَنَهُ رَاجِلاً) أيْ مَاشِياً (أَوْ رَاكِباً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ وَغَيْرَ مُسْتَقْبِلٍ لَّهَا) وَيُعَذَّرُوْنَ فِيْ الْأَعْمَالِ الْكَثِيْرَةِ فِيْ الصَّلَاةِ كَضَرَبَاتٍ مُتَوَالِيَّةٍ

    “Ketiga : Jika berada dalam keadaan yang gawat sekali karena berkeca muknya peperangan. Ini merupakan petunjuk dari suatu keadaan kritis dalam peperangan antara kaum, sekiranya sebagian daging mereka bertemu dengan daging sebagiannya. Maka tidak memungkinkan bagi kaum meninggalkan medan pertempuran dan tidak dapat turun jika mereka itu berada di atas kendaraan dan tidak dapat membelok jika mereka berjalan kaki. Maka hendaknya tetap mengerjakan shalat dengan berjalan kaki menurut kemampuannya. Atau naik kendaraan dengan menghadap qiblat atau tidak. Dan diampuni melakukan perbuatan-perbuatan di dalam shalat disebabkan karena mereka dalam keadaan ‘udzur, seperti memukul-mukul secara sambung menyambung.”

    Dengan membahas shalat khauf ini, paling tidak kita bisa memahami bahwa shalat berjamaah sangat penting. Dalam situasi yang sangat genting saja, para sahabat shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

    Referensi :

    • Tafsir Al-Wajiz Syeikh Wahbah Az-Zuhaili
    • Syarah Shahih Bukhari Ibn Hajar
    • Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi
    • Fath Al-Qarib Al-Mujib
  • Hijrah, Pemersatu dan Perekat Umat

    Hijrah, Pemersatu dan Perekat Umat

    Satu peristiwa yang jika dikenang dapat meneteskan air mata kita sebagai seorang mukmin. Ya, tak lain peristiwa itu adalah hijrah nya kaum muslimin Makkah ke Madinah yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Jarak Makkah – Madinah tidak dekat, kurang lebih 445 KM. Terbayang betapa kaium muslimin dalam ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa atas keselamatan mereka dalam perjalanan hijrah dengan unta dan dalam keadaan sembunyi-sembunyi.

    Baca juga: Tahun Baru Islam Disambut Muslim Charlotte dengan Renungkan Makna Hijrah

    Hijrah mereka merupakan pengorbanan luar biasa. Mereka harus meninggalkan harta, pekerjaan, rumah dan aset yang mereka miliki. Bukan hanya harta, tapi harus pula meninggalkan keluarga yang belum beriman. Mereka berkorban demi kelangsungan agama Islam agar tetap lestari. Mereka hanya patuh,  mencari ridha dan kasih sayang dari  Allah dan Rasul-Nya. Allah menggambarkan bagaimana pengorbanan para Muhajirin melalui firman-Nya :

    إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah : 218).

    Syeikh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya Al-Wajiz menulis sebagai berikut :

    “Sesungguhnya orang-orang yang berimankepada Allah dan Rasul-Nya, dan berhijrah dari kekufuran menuju Islam, serta berjihad untuk meninggikan kalimat Allah maka bagi mereka itu rahmat (kasih sayang) Allah yang diberikan sebagai suatu kemuliaan dan karunia. Dan Allah itu Maha Pengampun, dan Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya. Ayat ini turun berkenanan dengan  pasukan Abdullah bin Jahsh yang membunuh Al-Hadramiy di bulan Rajab sebelum perang badar. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, Apakah kami bisa mendambakan pahala orang-orang yang berjihad melalui peperangan ini?” Lalu Allah SWT memberitahu mereka bahwa mereka itu sangat mendambakan pahala itu karena keimanan, hijrah dan jihad mereka.”[1]

    Penduduk Madinah yang sudah masuk Islam sebelum kedatangan  kaum Muhajirin sangat ramah dan bersaudara. Mereka membantu semakmimal yang mereka mampu. Mereka mencintai kaum Muhajirin sebagaiman mereka mencintai diri mereka sendiri. Allah memuji kaum Anshar dalam firman-Nya :

    وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

    “Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-Hasyr : 9).”

    Begitu juga dengan hadis berikut :

    عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ أَتَاهُ الْمُهَاجِرُونَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا رَأَيْنَا قَوْمًا أَبْذَلَ مِنْ كَثِيرٍ وَلَا أَحْسَنَ مُوَاسَاةً مِنْ قَلِيلٍ مِنْ قَوْمٍ نَزَلْنَا بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ لَقَدْ كَفَوْنَا الْمُؤْنَةَ وَأَشْرَكُونَا فِي الْمَهْنَإِ حَتَّى لَقَدْ خِفْنَا أَنْ يَذْهَبُوا بِالْأَجْرِ كُلِّهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مَا دَعَوْتُمْ اللَّهَ لَهُمْ وَأَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِمْ

    “Dari Anas berkata: Saat nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tiba di Madinah, kaum muhajirin mendatangi beliau, mereka berkata: Wahai Rasulullah, kami tidak melihat suatu kaum yang lebih banyak berkorban ketika harta melimpah, dan tidak pula lebih banyak menolong ketika dalam keterbatasan, daripada kaum yang kami tinggal di tengah-tengah mereka, mereka mencukupi beban hidup kami, dan mereka menyertakan kami dalam hasil tanaman hingga kami khawatir mereka memborong semua pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak, selama kalian berdoa kepada Allah untuk mereka dan kalian sanjung mereka.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad).

    Melalui hadis di atas, kaum Muhajirin khawatir jika Kaum Anshar memborong pahala karena saking banyaknya amal kebaikan yang mereka lakukan untuk menolong Muhajirin. Rasulullah menghibur Muhajirin agar tidak risau dengan pahala yang akan mereka dapatkan. Rasulullah berpesan kepada Muhajirin agar mereka berdoa kepada Allah untuk kaum Anshar dan menyanjungnya. Karena dengan mendoakan kebaikan untuk mereka, maka hal tersebut kembali menjadi pahala untuk para Muhajirin.[2]

    Begitu juga dengan hadis berikut :

    حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ آخَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنِي وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ الرَّبِيعِ فَقَالَ سَعْدُ بْنُ الرَّبِيعِ إِنِّي أَكْثَرُ الْأَنْصَارِ مَالًا فَأَقْسِمُ لَكَ نِصْفَ مَالِي وَانْظُرْ أَيَّ زَوْجَتَيَّ هَوِيتَ نَزَلْتُ لَكَ عَنْهَا فَإِذَا حَلَّتْ تَزَوَّجْتَهَا قَالَ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ لَا حَاجَةَ لِي فِي ذَلِكَ هَلْ مِنْ سُوقٍ فِيهِ تِجَارَةٌ قَالَ سُوقُ قَيْنُقَاعٍ قَالَ فَغَدَا إِلَيْهِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَتَى بِأَقِطٍ وَسَمْنٍ قَالَ ثُمَّ تَابَعَ الْغُدُوَّ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَلَيْهِ أَثَرُ صُفْرَةٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزَوَّجْتَ قَالَ نَعَمْ قَالَ وَمَنْ قَالَ امْرَأَةً مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ كَمْ سُقْتَ قَالَ زِنَةَ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ أَوْ نَوَاةً مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari kakeknya berkata; ‘Abdurrahman bin ‘Auf radliallahu ‘anhu berkata, ketika kami sampai di Madinah; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara aku dengan Saad bin ar-Rabi’, lalu Saad bin ar-Rabi’ berkata; “Aku adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya, maka aku beri separuh hartaku untukmu, kemudian lihatlah diantara kedua isteriku siapa yang engkau suka nanti akan aku ceraikan untukmu, jika ia telah halal maka nikahilah”. Perawi berkata; “Maka ‘Abdurrahman berkata kepadanya; “Aku tidak membutuhkan itu. Begini saja, apakah ada pasar yang sedang berlangsung transaksi jual beli saat ini?” Sa’ad menjawab: “Pasar Qainuqa’”. Perawi berkata; “Lalu Abdur Rahman pergi kesana, ia membawa keju dan minyak samin. Perawi berkata lagi; “Dia melakukan hal itu pada hari-hari berikutnya. ‘Abdurrahman tetap berdagang disana hingga akhirnya ia datang dengan mengenakan pakaian yang bagus dan penuh aroma wewangian. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah engkau sudah menikah?” Dia menjawab; “Ya, sudah”. Lalu beliau bertanya lagi: “Dengan siapa?” Dia menjawab; “Dengan seorang wanita Anshar”. Beliau bertanya lagi: “Dengan mahar apa engkau melakukan akad nikah?” Dia menjawab; “Dengan perhiasan sebiji emas, atau sebiji emas”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Adakanlah walimah (resepsi) walau hanya dengan seekor kambing”. (HR. Bukhari,

    Begitu lekatnya persaudaraan kaum Anshar dan Muhajirin bagaikan satu bangunan kokoh. Hijrah mempersatukan mereka karena Allah.

    Lalu bagaimana degan umat Islam sekarang ? Apakah kelekatan dan persaudaraan mereka selekat Anshar dan Muhajirin ? Apakah dikatakan lekat ketika masih saja ada yang ribut soal tahlilan, maulidan, qunut subuh dan khilafiyah yang lain ? Apakah dikatakan lekat jika masih saling tuduh ahli bid’ah pada persoalan ijtihad? Apakah dikatakan lekat jika masih saling serang di Medsos hanya karena berbeda pilihan calon presiden? Renungkanlah !

    Selamat Tahun Baru 1444 H.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

     

     

     

    [1] Az-Zuhaili, Wahbah. At-Tafsir Al-Wajiz, Dar Al-Fikr , Damaskus, t.t. Hal. 35

    [2] Lihat Tuhfat Al Ahwadzi Bab Sifat Qiyamah

  • Menghina Nabi Muhammad SAW, Pelanggaran Berat !

    Menghina Nabi Muhammad SAW, Pelanggaran Berat !

    Muhammad, Nama yang sangat Mulia.

    Rasulullah SAW bersabda :

    حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنِي مَعْنٌ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِي خَمْسَةُ أَسْمَاءٍ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللَّهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِي وَأَنَا الْعَاقِبُ

    Telah bercerita kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir berkata telah bercerita kepadaku Ma’an dari Malik dari Ibnu Syihab dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im dari bapaknya radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku memiliki lima nama, Aku adalah (1). Muhammad, (2). Ahmad, (3). aku juga Al Mahiy (penghapus), maksudnya Allah menghapuskan kekafiran melalui perantaraanku, (4). Aku juga Al Hasyir (penghimpun), maksudnya manusia akan berhimpun di bawah kakiku dan aku juga (5) Al ‘Aqib, yang artinya tidak ada seorang nabi pun sepeninggalku. (HR. Bukhari 3268)[1]

    Muhammad artinya terpuji. Apapaun yang dilakukan oleh Rasulullah SAW merupakan hal yang terpuji. Sebelum beliau diutus menjadi rasul, masyarakat Makkah semua sepakat bahwa Muhammad adalah Al-Amin, orang yang dapat dipercaya karena tidak pernah berdusta. Tidak ada seorang pun yang disepakati oleh mereka untuk memindahkan Al-Hajar Al-Aswad kecuali satu nama, Muhammad !

    Ibn Hajar Al-Asqallani mengutip perkataan Iyadh bahwa ada sebagian orang Arab yang menamakan anak mereka Muhammad lantaran mereka mendengar dari para dukun dan pendeta bahwa kelak ada seorang nabi terakhir yang akan diutus yang bernama Muhammad. Mereka berharap bahwa anak merekalah yang dimaksud. Di saat itulah ada enam orang yang bernama Muhammad.  As-Suhaili mengatakan dalam kitabnya “Ar-Raudh” bahwa hanya tiga nama Muhammad yang dikenal bangsa Arab sebelum Rasulullah SAW diutus, yaitu : Muhammad Ibn Sufyan Ibn Mujasyi’, Muhammad Ibn Uhaihah Ibn Al-Jalah dan Muhammad ibn Hamran Ibn Rabiah.[2]

    Beliau juga bernama Ahmad, yang berarti banyak memuji Allah. Dinamkan demikian karena hanya beliaulah yang mencapai “Al-Maqam Al-Mahmud”, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis shahih bahwa beliaulah yang pertama kali membuka pintu surga.[3]

    Beliau juga bernama Al-Mahi, yang bertugas menghapus kekafiran. Dengan dakwah yang luar biasa sabar, beliau mengajak manusia dari kekafiran menuju Islam, agama yang sempurna. Beruntunglah umat Islam seluruh dunia yang berpegang teguh dengan keimanan dan keislaman sampai akhir hayat. Surga hanya bisa dimasuki oleh mereka yang muslim.

    Beliau juga bernama Al-Hasyir, Nabi yang menghimpun manusia di bawah kakinya.[4]

    Beliau juga bernama Al-Aqib, Nabi penutup. Tiada Nabi lagi setelah beliau sampai hari akhir.

    Melalui hadis di atas, kita memahami bahwa beliau merupakan manusia yang paling mulia di bunia ini. Jika ada penistaan atau tindakan penghinaan kepada beliau, tentu merupakan tindakan tindakan yang teramat keji. Menjadikan nama ‘Muhammad” sebagai olok-olok atau menyandingkan nama Belau SAW dengan hal-hal yang tidak patut, tentu menyakiti beliau. Menyakiti Rasulullah tentu menyakiti Allah, juga menyakiti umat Islam seluruh dunia !

    Al-Qur’an Berbicara Tentang Penghina Allah dan Nabi-Nya.

    Q.S. Al-Ahzab : 57

    إِنَّ ٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُّهِينًا

    “Sesungguhnya (terhadap) orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan azab yang menghinakan bagi mereka.”

    Al-Qur’an juga menyinggung mereka yang menyakiti kaum mu’minin. Q.S Al-Ahzab : 58 sebagai berikut :

    وَٱلَّذِينَ يُؤْذُونَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ بِغَيْرِ مَا ٱكْتَسَبُوا۟ فَقَدِ ٱحْتَمَلُوا۟ بُهْتَٰنًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

    “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”

    Tindakan menyakiti bisa berbentuk perkataan atau perbuatan. Jika konteksnya adalah menyakiti Allah, maka yang dimaksud adalah tindakan makhluk yang menyebabkan Allah murka. Sebab secara hakikat, makhluk tidak akan bisa menyakiti Allah. Adapun menyakiti Rasulullah, bisa berupa tindakan atau perbuatan. Adapun maksud dari laknat adalah jauh dari kasih sayang Allah, baik di dunia dan akhirat. Dan jika sudah dilaknat, maka balasan di akhirat adalah adzab beraka yang menghinakan penghuninya. Dahulu mereka dengan sombongnya menghina dan menyakiti Allah dan Rasul-nya, maka di neraka sudah sepantasnya mereka dihinakan.[5]

    Jangan main-main dengan laknat Allah yang Maha Berat Siksaan-Nya dan Maha Menghinakan Makhluk-Nya. !

    Menghina Rasulullah di Indonesia, tentu membuat masyarakat dunia merasa marah, begitu sebaliknya. Tindakan menghina Rasulullah baik yang dilakukan oleh perorangan, komunitas ataupun korporat, tentu sangat tidak dibenarkan dan merupakan tindak kejahatan moral yang serius. Tindakan ini termasuk pelanggaran berat dan tentunya hukumnya juga harus berat. Wal Iyadzu Billah.

     

    Wallahu A’lam.
    Ridwan Shaleh

     

    [1] Diriwayatkan pula oleh Muslim 4342 dan Tirmidzi 2766

    [2] Ahmad Ibn Ali Ibn Hajar Al-Asqallani, Fath Al Bari, Al-Maktabah As-Salafiyah, t.t., Juz 6, hal 556.

    [3] Lihat Tuhfat Al-Ahwadzi bab Asma’ An-Nabi

    [4] Para ulama berbeeda pendapat dalam mengartikan makna Al-Hasyir. Sebagian mereka berpendapat bahwa beliau mengumpulkan seluruh manusia untuk memeluk Islam ketika beliau diutus menjadi Nabi. Sebagian lagi mengatakan bahwa Al-Hasyir bermakna bahwa beliau nanti menjadi saksi untuk seluruh umat manusia di hari kiamat. Lihat Fathul Bari’ sesuia fotnot no. 2

    [5] Lihat tafsir Asy-Sya’rawi