Category: Tsaqofah

  • Hadis Ramadhan: Belum Mendapatkan Ampunan

    Hadis Ramadhan: Belum Mendapatkan Ampunan

    Belum Mendapatkan Ampunan

    Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:
    Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. Dan celakalah seseorang, Bulan Ramadhan menemuinya kemudian keluar sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam Surga (karena baktinya ke orang tua).
    [HR. Tirmidzi 3468]

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Hadis Ramadhan: Pahala Memberi Makan Orang Yang berpuasa

    Hadis Ramadhan: Pahala Memberi Makan Orang Yang berpuasa

    Ramadhan: Pahala Memberi Makan Orang Yang berpuasa

    :حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحِيمِ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    .مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

    .قَالَ أَبُو عِيسَى: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

    Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abdurrahim, dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman, dari ‘Atha’, dari Zaid bin Khalid Al Juhani berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun”

    Abu ‘Isa berkata: “Ini merupakan hadits hasan shahih.”

    (HR. Tirmidzi no. 735).

    Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Di bulan inilah kita dilatih oleh Allah untuk menjadi hamba yang semakin intens berhubungan langsung kepada Allah dan juga intens berhubungan dengan sesama muslim. Islam tidak hanya menginginkan umatnya shaleh secara individual tapi juga shaleh secara sosial.

    Terhadap muslim yang sudah meraih pahala berpuasa, Allah juga membuka peluang bagi para hamba-Nya untuk melipatgandakan pahala yang semakin besar dengan cara memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka. Dan hebatnya lagi, pahala memberi makan orang berbuka itu sebanding dengan pahala puasa orang yang diberi makannya itu tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Kita ambil contoh, si Fulan memberi makan orang yang ingin berbuka puasa sebanyak 10 orang, maka si fulan mendapakan pahala puasa 11 kali, satu kali karena puasanya ditambah 10 kali pahala memberikan makanan. Ingat, itu baru pahala standar! Bisa jadi pahalanya lebih besar dan berlipat lagi karena kemuliaan bulan Ramadhan. Wallahu A’lam.

    Selain limpahan pahala yang diperoleh, memberi makan orang yang berbuka puasa merupakan salah satu amal ibadah yang penuh hikmah, diantaranya adalah mempertebal Ukhuwah Islamiyah. Jika kebiasaan positif ini dilakukan terus selama Ramadhan, maka terbentuklah sifat dermawan dan tingginya jiwa sosial kaum muslimin di luar bulan Ramadhan.

    Jika ada penawaran dari pengurus masjid atau mushalla yang biasanya menawarkan proposal untuk kegiatan berbuka puasa bersama (Ifthar Jama’i), terima saja! Itu rezeki buat kita untuk mengamalkan hadits di atas.

    Wallahu A’lam.

     

    Simak Kajian Lengkap Pahala Memberi Makan Orang Yang berpuasa pada video di bawah ini:

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Mendapat Dua Kegembiraan dan Disisi Allah Aroma Mulutnya Lebih Harum dari Minyak Kasturi

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman:
    Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali shaum, sesungguhnya shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan shaum itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan shaum, maka janganlah dia berkata rafats dan bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan Aku orang yang sedang shaum.

    Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang shaum akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya, yaitu apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Rabnya dia bergembira disebabkan ibadah shaumnya itu.
    [HR. Bukhari 1771]

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Ada Malam Lailatul Qadar

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda:
    Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, di dalamnya Allah mewajibkan kalian berpuasa, di dalamnya pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka ia telah kehilangan pahala seribu bulan.
    [HR. Ahmad 6851]

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Dibebaskan Dari Siksa Api Neraka

    Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw. bersabda:

    Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan. [HR. Tirmidzi 618]

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Hadis Ramadhan: Bersegeralah Ketika Berbuka

    Hadis Ramadhan: Bersegeralah Ketika Berbuka

    Bersegeralah Ketika Berbuka

     

    حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

    .لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bion Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Abu Hazim, dari Sahal bin Sa’ad, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”.

    (HR. Bukhari no. 1821).

    Agama Islam adalah agama yang sangat penuh dengan kebaikan bagi pemeluknya. Walaupun puasa Ramadhan merupakan kewajiban, Allah tidak semerta-merta menjadikan puasa itu sesuatu yang membebankan bagi yang melaksanakannya.

    Salah satu contoh adalah anjuran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyegerakan berbuka puasa. Dalam hadits lainnya, kaum muslimin dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur. Menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur tentu banyak kebaikan dan hikmah. Diantara kebaikan dan hikmah tersebut adalah:

    Menjadikan tubuh lebih kuat dan segar saat berpuasa karena mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka di waktunya.

    Tubuh segar dan kuat kembali setelah berbuka dengan segera sehingga siap menjalankan ibadah lainnya seperti shalat tarawih yang cukup menguras energi.

    Menjadi syi’ar Islam dan mengikuti Sunnah Rasulullah dan para sahabat, karena dulu umat Yahudi dan Nasrani biasa mengakhirkan berbuka.

    Waktu menjelang berbuka adalah waktu mustajab untuk berdo’a.

    Catatan:

    Berbukalah dengan makan dan minum secukupnya dan jangan berlebihan agar tidak menimbulkan rasa malas untuk shalat Isya dan Tarawih berjama’ah. Berbuka puasa bersama boleh saja, tapi jangan mengabaikan shalat Maghrib, Isya’ dan Tarawih.

    Menurut pengalaman, banyak orang yang hanya ikut berbuka puasa bersama namun pada akhirnya mengabaikan kewajiban pokok sebagai seorang muslim.

    Wallahu A’lam.

    Simak Kajian Lengkap Bersegeralah Ketika Berbuka pada video di bawah ini:

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Hacked by Poloss | W.P.E.F. Team

    Berkah Sahur

    Dari Anas ibn Malik ra, Nabi saw. bersabda:
    Bersahurlah kalian, karena didalam sahur ada barakah.
    [HR. Bukhari 1789]

    Simak Kajian Lengkap untuk Berkah Sahur pada video di bawah ini:

    Download Aplikasi Hadis-hadis Ramadhan:
    https://bit.ly/apphadisramadhan

    🗳️ Mari terus dukung dakwah Pusat Kajian Hadis melalui :
    Bank BSI
    No. Rek. 10 15 18 4888
    a.n. YAY Pusat Kajian Hadis

    Donasi online
    https://donasi.pkh.or.id

    📲 Pusat Kajian Hadis
    https://wa.me/62818996994

  • Bagaimana Bacaan Al-Fatihahmu?

    Bagaimana Bacaan Al-Fatihahmu?

    Al-Fatihah merupakan surat paling utama di dalam Al-Qur’an dan mempunyai banyak sekali keutamaan (fadhilah). Bukan hanya muslim, tidak sedikit dari kalangan nonmuslim yang juga mengetahui surat ini dan ada juga dari mereka yang hafal layaknya muslim walaupun bacaannya tidak sefasih yang muslim.

    Artikel singkat ini setidaknya membicarakan beberapa fakta tentang surat Al-Fatihah, diantaranya:

    Tidak pernah bosan walapun dibaca ribuan bahkan jutaan kali.

    Entah berapa kali kita membaca Al-Fatihah dari sejak kecil hingga saat ini? Adakah diantara kita yang pernah mengatakan bosan membacanya? Begitu juga semua surat di dalam Al-Qur’an, walapun dibaca berulang seumur hidup, namun tidak pernah membosankan. Inilah salah satu fakta tak terbantahkan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat! Bandingkan dengan lagu-lagu yang menurut kita enak didengar, namun membosankan jika kita dengar berulang-ulang.

    As-sab’ul Matsani yang menyebabkan shalat menjadi sah.

    Salah satu nama lain dari surat Al-Fatihah adalah As-Sab’ul Matsani ( tujuh ayat yang berulang-ulang). Firman Allah:

    وَلَقَدْ ءَاتَيْنَٰكَ سَبْعًا مِّنَ ٱلْمَثَانِى وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْعَظِيمَ

    “Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.” (Q.S. Al-Hijr: 87).

    Yang dimaksud dengan As-Sab’ul Matsani pada ayat tersebut adalah surat Al-Fatihah. Dalam Tafsir Al-Jalalain ditulis sebagai berikut:

    قال صلى الله عليه وسلم هي الفاتحة رواه الشيخان لأنها تثنى في كل ركعة

    “Rasulullah bersabda banwa dia (As-Sab’ul Matsani) adalah surat Al-Fatihah sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan  Muslim.”[1]

    Dengan demikian, apapun shalatnya, baik wajib maupun sunnah, baik satu rakat maupun 1000 rakaat sekalipun tidak akan sah dilakukan jika di setiap rakaatnya tidak ada bacaan Al-Fatihah.

    Jangankan tidak dibaca, salah membaca Surat Al-Fatihah di dalam shalat juga mempengaruhi ke-absahan shalat. Salah huruf, salah syakal, tidak mentasydidkan huruf bertasydid, salah panjang pendek dan kesalahan  yang menyebabkan rusaknya bacaan Al-Fatihah seseorang juga bisa menyebabkan shalat menjadi tidak sah.[2]

    Mau tidak mau, siapapun kita harus betul-betul belajar membaca Al-Fatihah dengan baik dan benar. Sebaiknya periksakan bacaan Al-Fatihah kita kepada para ahli Qur’an. Jangan sepelekan! Bagaimana jadinya jika shalat yang kita lakukan selama hidup kita ternyata tidak sah. Shalat yang tidak sah sudah pasti ditolak! Berani?

    Do’a Terkabul Karena Membaca Al-Fatihah

    Hadis Rasulullah SAW:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ { الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ { إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ } قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ { اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ } قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

    Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka shalatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna” Tiga kali. Ditanyakan kepada Abu Hurairah, ” Kami berada di belakang imam?” Maka dia menjawab, “Bacalah Ummul Qur’an dalam dirimu, karena aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’ Maka Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Pemilik hari kiamat.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiku.’ Selanjutnya Dia berkata, ‘HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan.’ Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’. Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’ Allah berkata, ‘Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’.” (HR. Muslim 598).

    Kurang apa lagi? Biasakanlah membaca Al-Fatihah sebelum berdo’a agar apa yang kita minta dikabulkan oleh Allah SWT.

    Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang menyinggung keistimewaan surat Al-Fatihah yang akan dibahas di lain kesempatan, Insya Allah.

     

    Wallahu A’lam

     

    Ridwan Shaleh

     

    [1] Fakhruddin Qibawah, Tafsir Al-Jalalin Al-Muyassar, (Beirut: Maktabah Libnan, 2003), Hlm. 266

    Bukan hanya Tafsir Jalalain saja, hampir semua kitab tafsir juga memberikan keterangan demikian.

     

    [2] LIhat Kifayat Al-Akhyar, Taqiyuddin Ad-Dimasyqi, (Beirut: 2001, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah) hlmn 158

  • Tafsir Q.S. Al-Humazah

    Tafsir Q.S. Al-Humazah

    Sabab An-Nuzul (sebab turunnya) Surat Al-Humazah:

    Para ulama berbeda pendapat mengenai sebab nuzul surah ini, yaitu: [1]

    • Riwayat Ibn Hatim: diturunkan berkenaan perbuatan (ulah) Ubay Ibn Khalaf
    • Riwayat Ibn As-Suddi: diturunkan berkenaan dengan perbuatan Al-Akhnas Ibn Suraiq
    • Riwayat Ibn Jarir: diturunkan berkenaan perbuatan Jamil Ibn Amir Al-Jumahi
    • Riwayat Ibn Al-Mundzir dari Ibn Ishaq: diturunkan karena ulah Umayyah Ibn Khalaf yang setiap kali melihat Rasulullah SAW, dia selalu mencaci dan mencela beliau SAW.

    Jika merujuk kepada Tafsir Al-Jalalain, seluruh riwayat di atas tentunya tidak saling kontradiksi, sebab Imam Jalaluddin Al-Mahalli mengatakan bahwa surat ini diturunkan untuk mengutuk orang-orang yang sering kali berbuat ghibah kepada Nabi SAW dan kaum mukminin seperti Umayyah Ibn Khalaf, Al-Walid Ibn Al-Mughirah dan selain keduanya.[2] [3]

     

    Q.S. Al-Humazah ayat 1 :

    وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ

    “ Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.”

    Ayat ini diawali dengan kata “ويل”, kata “wail” merupakan kata yang bermakna do’a kehancuran[4] yang ditujukan untuk seseorang. Jika kata wail berasal dari Allah, maka maknanya adalah kutukan kehancuran atau kebinasaan bagi seseorang dalam hidupnya.

    Kata wail juga dimaknakan sebagai lembah yang ada di neraka Jahannam.[5]

    Kata wail juga bisa diartikan sebagai salah satu kata yang dimaksudkan untuk merendahkan orang atau kalimat yang bermakna keputus-asaan atau juga kalimat yang bermakna buruknya pekerjaan seseorang.[6]

    JIka melihat ragam tafsir para ulama mengenai kata wail pada ayat ini, maka kata tersebut merupakan ancaman atau kutukan, ancaman neraka, ancaman kehancuran dan kebinasaan hidup  dari Allah  kepada orang-orang yang mengumpat, menggunjing, mencela dan menghina orang-orang yang beriman, yang berjuang menegakkan agama Allah sebagaimana Allah mengancam orang-orang yang melakukan hal tersebut kepada Rasulullah SAW dam para sahabat.

    Salah satu hikmah paling dalam yang bisa kita tadaddburi dari ayat ini adalah betapa besarnya dosa menggunjing, mencela dan menghina para alim ulama dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah, baik yang melakukan hal itu adalah muslim maupun non muslim, naudzubillah !

    “Kalo kate orang betawi sih, kualat ame kyai!”

     

    Q.S. Al-Humazah Ayat 2

    ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

     “Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”

    Setelah kita mengetahui bahaya besar Humazah, Allah SWT melanjutkan peringatannya kepada kita semua bahwa yang melandasi sikap Humazah adalah hobi mengumpulkan uang. Ketertarikan pada hobi inilah yang membuat seseorang selalu ingin menumpuk hartanya dan takut berkurang.[7]

    Ketika obsesinya tercapai, dia merasa besar, sombong dan maunya merendahkan orang lain saja! Dia akan sangat terganggu dengan kehadiran orang-orang  baik disekitarnya. Dia khawatir dengan kemunculan orang-orang dermawan, orang jujur dan pejuang Amar Ma’ruf Nahi Munkar! Dia khawatir jika kehadiran mereka ini menjegal langkahnya untuk menjadi orang yang bisa berbuat sesuka hati. Ia khawatir jika mereka bisa menghilangkan “pengaruhnya” di depan publik sehingga tidak lagi leluasa menghujat, membunuh karakter orang yang dia benci dan tidak bisa menjatuhkan lawannya. Orang-orang seperti ini sangat kikir bin medit alias pelit (saudara kembarnya koret) jika diminta membantu kegiatan sosial keagamaan karena dianggap tidak ada sisi keuntungan untuk dirinya.  Berbanding terbalik jika ada orang yang menawarkan jasa “dongkrak popularitas”. Untuk yang ini, dia tidak segan-segan mengeluarkan “cuan segunung” karena dianggap sangat menguntungkan dirinya. “Cuan segunung kaga masalah. Duit segitu bakal balik ke gue berlipat-lipat! Hobah!” itulah kalimat yang selalu terngiang-ngiang di benak si Humazah.

    Penjelasan saya ini bukan untuk menggiring pembaca jadi takut kaya, bukan! Kaya boleh, tapi jangan jadi konglomerat gagal seperti Qarun yang dijebloskan oleh Allah ke dasar bumi. Kaya boleh, tapi jangan kaya si Abu Lahab, Umayyah Ibn Khalaf dan Al-Walid Ibn Al-Mughirah yang kerjaannya selalu menjatuhkan Rasullah. Tulisan  ini merupakan peringatan sekaligus motivasi agar umat Islam menjadi umat yang kuat ekonominya, kuat ilmunya, kuat politiknya, kuat kualitasnya dan jangan mau jadi “kambing conge” si Humazah-himazah ini.

     

     Q.S. Al-Humazah ayat 3

    يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ

    “Dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”

    Ayat ini masih melanjutkan ciri-ciri dari para pengumpat. Jika ayat 2 menerangkan bahwa mereka sangat cinta dunia dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekayaan, maka ayat 3 ini melanjutkan efek dari cinta dunia level akut tersebut.

    Si pengumpat ini mengira bahwa harta yang dia dapatkan itu bisa membuatnya kekal alias tidak mati. Prasangka itu terjadi karena terlalu panjang angan-angan.[8] Saakan-akan jika hartanya banyak, dia merasa gagah terus, jaya terus, kuat terus, berpengaruh terus, kaya terus sehingga dia lupa bahwa rambut semakin beruban, penglihatan sudah semakin lemah dan kulit semakin keriput. Sekalipun dia berasa sudah tua, dia akan selalu mencari cara agar awet muda dengan uangnya. Dengan uangnya itu, masalah keriput bisa diatasi dengan operasi plastik. Masalah ubanan bisa dicat! Masalah lamur bisa dilaser koq! Inilah yang membuat dia lupa dengan “ketuannya”. Inilah yang dimaksud bahwa ia menyangka dengan kekayaan yang dimiliki seolah-olah dia tidak akan mati.

    Pola sangka atau pola fikir semacam ini sangat berbahaya! Semakin tua semakin lacur! Semakin tua semakin korup! Semakin tua semakin zhalim! Semakin tua semakin glamour! Akhirnya mati dalam keadaan zhalim, mati dalam keadaan lacur, korup dan hedon!

    “Lih, nyang engkong kage demenin nih, ade orang tue bangke kaye engkong tapi lagunye masih kaye anak mude aje.  Masih demen nongkrong aje, masih seneng dugem aje. Masih seneng nyawer aje! Masih ganjen aje. Masih banting gaple aje. Harusnye orang kaye die nih pantes banget kalo sarungan, peci, koko trus betah di masjid. Pantes banget dah orang kaye die dzikir sambil nunggu Izroil silaturahim!” kata kong Ali kepada cucunya, Malih.

     

    Q.S. Al-Humazah Ayat 4

    كَلَّا لَيُنۢبَذَنَّ فِى ٱلْحُطَمَةِ

     “Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huṭamah.”

     Q.S. Al-Humazah Ayat 5

    وَ مَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْحُطَمَةُ

    “Dan tahukah kamu apakah (neraka) Huṭamah itu?”

     

     Q.S. Al-Humazah Ayat 6

    نَارُ ٱللَّهِ ٱلْمُوقَدَةُ

    “(Yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan,”

     

     Q.S. Al-Humazah Ayat 7

    ٱلَّتِى تَطَّلِعُ عَلَى ٱلْأَفْـِٔدَةِ

    “yang (membakar) sampai ke hati.”

     Q.S. Al-Humazah Ayat 8

    إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ

     “Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka,”

     Q.S. Al-HUmazah Ayat 9

    فِى عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍۭ

     “(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”

    Setelah Allah SWT menerangkan ciri Hammaz dan Lammaz (pencela dan pengumpat), Allah memperingatkan kita agar tidak meniru mereka. Kata “kalla” merupakan kata yang bermakna sanggahan terhadap apa yang diyakini atau disangka oleh Hammaz dan Lammaz sebagaimana ayat sebelumnya.[9] Yang Namanya salah atau keliru, ya jangan ditiru! Mereka sudah pasti nantinya akan dicampakkan ke Huthamah, yaitu neraka Jahannam. Huthamah merupakan salah satu dari nama neraka. Dinamakan Huthamah karena setiap apa saja yang dilemparkan ke dalamnya akan hancur berkeping-keping.[10]

    Api Huthamah membakar semua anggota tubuh penghuninya dan apabila api itu sampai ke hatinya dan mencapai kerongkongannya, maka kembalilah api itu ke tubuhnya dan begitu seterusnya![11] Mereka tidak bisa keluar dari Huthamah karena ditutup rapat-rapat oleh Allah SWT. Setiap saat mereka dibakar dalam keadaan terpangggang di tiang-tiang yang panas.

     

     Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

    [1]  Lihat Lubab Al-Mnaqul Fi Asbab An-Nuzul Lis- Suyuthi, Muassasah Al-Kutub Ats-Sihafiyyah, Beirut: 1422 H, hal 305.

    [2] Lihat Tafsir Jalalain

    [3] Lihat Tafsir Al-Bahr Al-Muhit Li Abi Hayyan Al-Andalusi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beitut: 1413 H, Huz 8, hal. 509

    [4] Lihat Hasyiyah As-Shawi Al-Maliki, Dar Al-Jil, Beirut: t.t. Juz 4, hal. 332

    [5] Banyak mufassir yang mnafsirkan kata wail dengan mkna tersebut, diantaranya Jalaluddin Al-Mahalli dalam Tafsir Jalalain dan As-Samin Al-Halabi dalam kitabnya Umdat Al-Huffazh,

    [6] Lihat Al-Lubab Fi Ulum Al-Kitab Li Ibn Adil Ad-Dimasyqi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut: 1419 H, Juz 20, hal. 490

    [7] Lihat Tafsir Fenomenal Mafatih Al-Ghaib, Al-Imam Fakhruddin Al-Razi. Dar Al-Fikr, Beirut: 1401 H, Jz 32 hal. 92

    [8] Lihat Mafati Al-Ghaib, Fakhruddin Ar-Razi, Dar Al-Fikr, Beirut: 1401 H, Juz 32 hal. 93.

    [9] Lihat Tafsir Jalalain Q.S. Al-Humazah ayat 4

    [10] Lihat Tafsir Al-Baghawi dan jga Ibn Katsir.

    [11] Lihat Tafsir Ibnu Katsir

  • Malu dan Tidak Tahu Malu

    Malu dan Tidak Tahu Malu

    Jika Allah tidak menganugerahkan rasa malu kepada manusia, maka manusia tak ubahnya seperti hewan. Lihatlah hewan, seberapapun mahal harganya, dia tetap telanjang dan kawin dimana saja, tak perlu privasi!

    Baca juga: Adab Menghadiri Walimah (Resepsi Pernikahan)

    Islam bukan hanya agama yang mengatur dan menstimulus hubungan seorang hamba kepada Allah saja. Islam juga mengatur dan mengajarkan akhlak yang baik kepada manusia agar elok dalam bersosialisai maupan bertransaksi (muamalah). Akhlak, etika, attitude atau apa saja istilahnya memang dipandang penting dalam Islam. Berahlak yang baik merupakan fitrah dan bertujuan memuliakan hamba itu sendiri agar terhormat secara alami tanpa harus dipoles dengan gendutnya saldo rekening, jabatan atau busana dan alat kecantikan yang harganya selangit itu! Akhlak itu spontan, tanpa rekayasa, tanpa basa-basi dan tanpa harus berganti warna seperti bunglon dan attraktif bak kutu loncat.

    Semakin modern zaman dan semakin canggihnya teknologi seharusnya semakin tinggi pula nilai kepribadian dan akhlak seseorang. Jika di zaman purba orang  bisa maklum jika busana atau pakaian yang dikenakan seadanya bahkan nyaris hampir telanjang. Tapi lihatlah sekarang, cara berpakaian sebagian kaum wanita saat ini masih saja seperti mereka yang hidup di zaman batu!

    Tidak berhenti sampai di situ, saat ini banyak pula orang yang tidak tabu lagi mendukung LGBT. Lihatlah betapa masivnya kampanye LGBT di hampir seluruh belahan bumi. Telinga mereka seperti telinga baja, tak ada pengaruh sedikitpun ketika diperingatkan bagaimana kerasnya adzab Allah kepada kaum Sodom! Mereka tidak malu dengan ayam jantan yang hanya mau kawin dengan ayam betina saja.

    Yang anehnya, Para Pejuang Martabat Manusia Normal tidak luput dari hujatan dan tuduhan intoleran terhadap kaum LGBT. Usaha untuk menyadarkan saudara-saudara kita agar kembali kepada fitrah dan jalan Allah dinarasikan sebagai usaha yang bertentangan dengan HAM! Upaya untuk membentengi generasi muda dari bahaya LGBT juga tidak luput dari narasi anti HAM!

    Dan satu hal yang juga patut disesalkan, tidak sedikit infotainment yang memberi ruang gerak lebih leluasa kepada artis-artis transgender. Sekalinyapun non transgender, tidak sedikit pula yang menampilkan host kemayu dan mendayu-dayu. Terkesan sekali jika mereka yang transgender dan kemayu itu berkelas, banjir iklan dan laku di pasaran! Salah siapa? Salah yang nontonlah! Seharusnya yang model-model begini tidak layak ditonton masyarakat. Alihkan saja ke chanel lain agar tayangan mereka sepi iklan dan anjlok rating!

    Salah satu upaya umat Islam untuk membentengi generasi muda dari bahaya prostitusi, LGBT, narkoba dan lain-lain adalah pembinaan akhlak dan spiritual yang lebih intens lagi. Tanamkan budaya malu untuk bermaksiat kepada Allah dan malu untuk berlaku amoral dan tidak baik sebagaimana pesan Rasulullah dalam satu hadis:

     

    عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

    Dari Rib’i bin Hirasy telah menceritakan kepada kami Abu Mas’ud dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya yang diperoleh manusia dari ucapan kenabian yang pertama adalah jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari, Abu Daud, Ibn Majah dan Ahmad).

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh