Artikel Islam

Support Dari Rasulullah Agar Rajin Bersedekah

pusatkajianhadis - June 17, 2020

Pada bahasan kali ini kita akan memaknai sedekah dalam pengertian memberikan sebagian harta yang kita miliki kepada individual atau lembaga sosial. Walapun sejatinya sedekah itu bentuknya tidak hanya harta.

Banyak sekali Ayat Al-Qur’an atau Hadis Rasulullah yang membahas anjuran dan manfaat sedekah. Dalam artikel ini akan dibahas beberapa hadis yang dianggap  mewakili, In Sya Allah.

Hadis pertama :

Hasad (iri)  Kepada Orang Yang Gemar Membaca Al-Qur’an dan Gemar Bersedekah Atau Infaq

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا حَسَدَ إِلَّا عَلَى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَقَامَ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يَتَصَدَّقُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ

“Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri ia berkata; Telah menceritakan kepadaku Salim bin Abdullah bahwasanya; Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal, yaitu; Seorang yang diberi karunia Alquran oleh Allah sehingga ia membacanya (shalat dengannya) di pertengahan malam dan siang. Dan seseorang yang diberi karunia harta oleh, sehingga ia menginfakkannya pada malam dan siang hari.” (HR. Bukhari no. 4637, Muslim no. 1350, Tirmidzi no. 1859, Ibn Majah 4199 dan Ahmad no 5361 ).

Jika kita perhatikan teks hadis dengan teliti, mungkin sepintas kita bertanya-tanya, bukankah hasad (iri) itu perbutann tercela dan sangat dilarang? Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya “Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim” mengomentari hadis ini sebagai berikut:

“Hasad terbagi dua, Hakikat dan Majaz. Adapun hasad dari segi hakikat adalah mengharap hilangnya kenikmatan yang dimiliki seseorang, ini jelas haram hukumnya menurut konsensus seluruh ulama berdasarkan teks nash Yng shahih. Adapun dari segi majaz, hasad arinya adalah ghibthah, yaitu berharap (bercita-cita) memperoleh nikmat seperti yang dimiliki orang lain tanpa menghilangkan ni’mat tersebut darinya. Jika hasad majazi untuk hal yang berkaitan dengan kedunian, hukumnya mubah (boleh), jika berkaitan dengan urusan keta’atan, hukumnya adalah mustahab (dianjurkan). Jadi maksud hasad dalam hadis ini adalah tidak ada ‘ghibthah’ yag disukai kecuali ‘ghibthah’ kepada dua hal tersebut.”

Jika kita fahami lebih jauh, melaui hadis ini Rasulullah Shalla Allahu Alaihi Wa Sallam  sangat menginginkan dan memberikan semangat dan dukunga kuat  (support) kepada umatnya agar menjadi individu yang gemar membaca Al-Qur’an dan gemar bersedekah.

Hadis Kedua :

Gemar memberi makan dan menebar salam

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid dari Abu Al Khair dari Abdullah bin ‘Amr; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam apakah yang paling baik?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Bukhari no. 11, Muslim no. 56, Abu Daud no. 4520, Abu Daud no. 1776, Nasa’I no. 4914, Ibn Majah no. 3244, Darimi 1991, Ahmad Ahmad no. 6293).

“Islam apakah  yang paling baik?”  Maksudnya adalah amalan apakah yang paling baik dalam agama Islam? Atau bisa juga dimaksudkan perilaku muslim apakah yang paling baik? Rasulullah menjawab dua hal, memberi makan dan menyebarkan salam. Kok simpel sekali ya? Bukankah ada amalan lain yang sekiranya lebih besar seperti Shalat Tahajjud tiap malam, Puasa Sunnah Nabi Daud, Haji dan Umrah, atau Jihad?

Sebagaimana kita ketahui, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Salaam adalah sosok uswatun hasanah yang sangat bijak. Beliau mengajarkan sesuatu dengan metode sederhana namun sangat mudah difahami oleh lawan bicara. Menurut salah satu pendapat, Rasulullah Shalla Allahu Alaihi Wa Sallam menyampaikan hadis ini ketika beliau baru tiba di Madinah. Perkara penting di Madinah saat itu adalah masalah persatuan, persaudaraan dan syi’ar Islam. Ketika Beliau diitanya mengenai amalan dalam Islam yang paling baik, beliau menjawab sesuai dengan kebutuhan umat saat itu. Gemar sedekah makanan dan menyebarkan salam diantara mereka, baik kepada orang yang dikenal atau tidak,  tentu saja menjadi maslahat bagi penduduk Madinah asli (Anshar) dan pendatang (Muhajirin). Mereka semua melebur  dalam persaudaraan karena diikat oleh Islam. Luar biasa bukan? Itulah salah satu keistimewaan Rasulullah, berbicara singkat, namun padat makna dan tepat sasaran. Ya, Jawami’ Al-Kalim namanya !

Lalu, apakah hadis di atas masih relevan saat ini? ya tentu saja! Inti hadis di atas adalah ajaran humanisme dan universal. Gemar memberi (giving) baik makanan atau harta dan gemar menebarkan salam adalah perbuatan mulia yang akan berlaku sepanjang zaman. Selain ringan dikerjakan dan mengandung syi’ar, kedua perbuatan tersebut mendapatkan pahala yang besar  di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hadis ketiga :

Tangan diatas lebih mulia dari tangan yang dibawah

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا شَدَّادٌ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ أَنْ تَبْذُلَ الْفَضْلَ خَيْرٌ لَكَ وَأَنْ تُمْسِكَهُ شَرٌّ لَكَ وَلَا تُلَامُ عَلَى كَفَافٍ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى

“Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami dan Zuhair bin Harb dan Abd bin Humaid mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Syaddad ia berkata, saya mendengar Abu Umamah berkata; Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika kamu mensedekahkan kelebihan hartamu, itu lebih baik bagimu daripada kamu simpan, karena hal itu akan lebih berbahaya bagimu. Dan kamu tidak akan dicela jika menyimpan sekedar untuk keperluan. Dahulukanlah memberi nafkah kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Tangan yang di atas adalh lebih baik, daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim no. 1718, Tirmidzi no. 2265 dan Ahmad no. 8388).

Hadis di atas juga merupakan perintah sedekah wajib (zakat) dan ancaman bagi yang tidak memberikannya. Zakat wajib dikeluarkan jika memenuhi persyaratan. Pada hakikatnya, harta yang dizakatkan adalah kelebihan dari harta yang dimiliki seseorang. Kelebihan tersebut merupakan hak penerima zakat. Jika tidak dikeluarkan atau ditahan, maka pelakunya tentu sudah melakukan kezhaliman karena menahan hak orang lain.

Jika sudah dikeluarkan zakatnya dan ternyata yang mempunyai harta merasakan masih ada kelebihan karena keperluan hidupnya dan orang yang menjadi tanggungannya masih tercukupi, maka kelebihan tersebut sanagt dianjurkan untuk disedekahkan. Bahkan semakin besar juga semaikin baik jika memang semua kebutuhan sudah terpenuhi. Keluarga dekat dan kerabat yang dhu’afa adalah prioritas pemerima sedekah kita.

Ujung dari hadis ini adalaah statement Rasulullah Shalla Allahu Alahi Wa Sallam yang begitu indah, ‘Tangan di atas Lebih baik dari tagan yang di bawah”. Makna majaz ini tentunya merupakan support dari Rasulullah agar kita menjadi seorang muslim yang gemar bersedekah dan membantu sesama.

Wallahu A’lam.

Ridwan Shaleh

Referensi :

  • Fath Al-Bari Bi Syarh Shahih Al-Bukhari
  • Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim
  • Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud
  • Tuhfat Al-Ahwadzi Bi Syarh Jami’ Al-Tirmidzi
  • Hasyiyah Al-Sindi Ala Al-Nasa’i
  • Hasyiyah Al-Sindi Ala Ibni Majah