Berita & Kegiatan

Beberapa Prinsip Muamalah Ditinjau Dari Perpektif Hadis

pusatkajianhadis - December 13, 2019

Muamalah (Hubungan Sosial) merupakan kebutuhan dasar manusia sehari-hari berdasarkan Syariah Islam. Muamalah dalam konteks Fiqh adalah hubungan sosial yang berhubungan dengan transaksi ekonomi yang diatur oleh Syariah Islami. Transaksi jual-beli, sewa-menyewa, bagi hasil, syirkah danlainya. Muamalah boleh dengan siapa saja, agama apa saja, suku apa saja selama aqadnya benar, tidak ada unsur tipu menipu, saling ridha dan objeknya halal.

Berikut beberapa prinsip muamalah berdasarkan perspektif hadis :

  1. Berlaku jujur dan tidak boleh curang

عَنْ أَبِي خَالِدٍ حَكِيمِ بنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :البَيِّعَانِ بِالخِيَار مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإنْ صَدَقا وَبيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا .مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Khalid yaitu Hakim Ibn Hizam ra. ia masuk Islam di zaman pembebasan Makkah, sedan ayahnya adalah termasuk golongan pembesar-pembesar Quraisy, baik di masa Jahiliyah ataupun di masa Islam, berkata: Rasulullah saw. bersabda: Dua orang yang melakukan jual beli bebas memilih sebelum keduanya berpisah. Jika keduanya jujur dan berterus terang dalam jual beli, maka keduanya akan mendapatkan berkah. Namun, jika keduanya tidak berterus terang dan berdusta, maka jual beli yang mereka lakukan tidak akan berkah. (Muttafaq ‘alaih).

  1. Jangan bersumpah untuk kebohongan.

عَنْ أَبي أُمَامَةَ إِيَاسِ بْنِ ثَعْلَبَةَ الْحَارِثِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِيءٍ مُسْلِمٍ بِيَمِيْنِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ رَجُلٌ : وَإِنْ كَانَ شَيْئاً يَسِيْراً يَا رَسُولَ الله ؟ فَقَالَ :وَإِنْ قَضِيْباً مِنْ أَرَاكٍ .(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

 Dari Abu Umamah, yaitu lyas Ibn Tsa’labah al-Haritsi ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa yang mengambil haknya seorang muslim dengan sumpah palsu, maka Allah telah mewajibkan neraka untuknya dan mengharamkan surga atasnya.” Kemudian seorang laki-laki bertanya: Sekalipun sedikit, ya Rasulullah? Beliau saw. menjawab: “Sekalipun bendanya itu berupa setangkai siwak.” (HR Muslim).

  1. Berikan amanah kepada ahlinya.

 

عَنْ ابى هريرة قَالَ بيْنَمَا النَّبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ، جاءَهُ أعْرابِيُّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ ؟ فَمَضَى رسُولُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُحَدِّثُ، فقَال بَعْضُ الْقَوْمِ : سَمِعَ مَا قَالَ، فَكَرِه ما قَالَ، وقَالَ بَعْضُهمْ : بَلْ لَمْ يَسْمَعْ، حَتَّى إذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ :أيْنَ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ قَال : ها أنَا يَا رسُولَ اللَّه، قَالَ :إذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانةُ فانْتَظِرِ السَّاعةَ قَالَ: كَيْفَ إضَاعَتُهَا ؟ قَالَ :إذَا وُسِّد الأمْرُ إلى غَيْرِ أهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعة .(رَوَاهُ البُخَارِيّ).

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Pada suatu ketika Nabi saw. dalam sesuatu majelis, sedang memberikan pembicaraan kepada kaum yakni orang banyak, lalu datanglah seorang A’rab yaitu penduduk negeri Arab bagian pedalaman, kemudian orang ini bertanya: Bilakah tibanya hari kiamat. Rasulullah saw. terus saja dalam berbicara itu, sehingga sementara kaum ada yang berkata: Beliau saw. sebenarnya mendengar ucapan orang itu, tetapi beliau benci kepada isi pembicaraannya. Sementara kaum lagi berkata: Ah, Beliau saw. tidak mendengarnya. Selanjutnya setelah Beliau saw. selesai pembicaraannya lalu bertanya: Manakah orang yang menanyakan tentang hari kiamat tadi? Orang itu berkata: Aku, ya Rasulullah. Beliau saw. bersabda: Jika kepercayaan telah diabaikan, maka kiamat tidak akan lama lagi. Orang badui bertanya lagi: Bagaimana kepercayaan itu diabaikan? Beliau menjawab: Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah, kiamat tidak akan lama lagi. (HR al-Bukhari).

  1. Jangan menyalah gunakan amanat.

(عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :آيَةُ المُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا آؤْتُمِنَ خَانَ .(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Tanda orang munafik itu tiga yaitu jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia menyalahi, dan jika dipercaya untuk memegang sesuatu amanat ia berkhianat.” (Muttafaq ‘Alaih)

  1. Tekun dalam bekerja.

عَنْ عَاِئشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ : مَنْ هَذِهِ ؟ قَالَتْ : هَذِهِ فُلَانَةٌ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا قَالَ :مَهُ عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيْقُونَ، فَوَاللهِ لَا يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا.  وَكَانَ أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ .(مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah ra. bahwa Nabi saw. memasuki rumahnya dan di sisi Aisyah itu ada seorang wanita. Beliau saw. bertanya: Siapakah ini? Aisyah menjawab: Ini adalah si Anu. Aisyah menyebutkan perihal shalatnya wanita tadi yang sangat luar biasa tekunnya. Beliau saw. bersabda: Jangan demikian, hendaklah kalian berbuat sesuai dengan kekuatanmu. Sebab demi Allah, Allah itu tidak akan bosan (memberi pahala) hingga kalian bosan (melaksanakan amalan itu). Adalah cara melakukan agama yang paling dicintai oleh Allah itu ialah apa-apa yang dilakukan oleh orang itu terus menerus. (Muttafaq ‘Alaih).

  1. Menggaji karyawan sesuai kesepakatan.

Ancaman bagi yang tidak membayar gaji karyawan.

عَنْ أَبي هُرَيرةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :قَالَ الله تَعَالَى ثَلَاثَةٌ أنا خَصْمُهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ : رَجُلٌ أعطَى بي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرَّاً فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأجَرَ أجِيراً، فَاسْتَوْفَي مِنْهُ، وَلَمْ يُعْطِهِ أجْرَهُ .(رَوَاهُ البُخَارِيّ

Dari Abu Hurairah ra. yang berkata bahwa Nabi saw. bersabda: Allah berfirman: Ada tiga orang yang Aku adalah lawan mereka pada hari kiamat, yaitu seorang yang berjanji atas nama-Ku kemudian mengingkari janji, seorang yang menjual orang merdeka, lalu ia makan hasilnya, dan seorang yang mempekerjakan seorang buruh, lalu buruh itu memenuhi kewajibannya sebagaimana mestinya, sedang orang itu tidak memberikan upahnya. (HR al-Bukhari)

Membayar gaji tidak sesuai perjanjian.

عَنْ ابن مسْعُودٍ، وابنِ عُمرَ، وأنسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالُوا : قَالَ النَّبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم :لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ القِيَامَةِ، يُقَالُ : هذِهِ غَدْرَةُ فُلانٍ). مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibn Mas’ud, Ibn ‘Umar dan Anas ra., berkata: Nabi saw. bersabda: Setiap orang yang tidak mengingkari janji akan memperoleh sebuah bendera pada hari kiamat, dikatakan: Inilah pengingkaran fulan. (Muttafaq ‘Alaih)

Kisah orang yang menjaga gaji karwayannya selama sekian tahun.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمنِ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُوْلُ :اِنْطَلَقَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ الْمَبِيْتُ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوْهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ، فَقَالُوا : إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّاأَنْ تَدْعُوَا اللهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ .  قَالَ َرَجَلٌ مِنْهُمْ : اللَّهُمَّ كَانَ لِيْ أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيْرَانِ، وَكُنْتُ لَا أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلاً وَلاَ مَالاً، فَنَأَى بِي طَلَبُ الشَّجَرِ يَوْماً فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهمَا حَتَّى نَامَا، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أُوقِظَهُمَا وَأَنْ أغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبَثْتُ – وَالْقَدَحُ عَلَى يَدِي – أَنْتَظِرُ اسْتِيْقَاظَهُمَا حَتَّى بَرِقَ الْفَجْرُ وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ، فاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا . اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيْهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ، فَانْفَرَجَتْ شَيْئاً لَا يَسْتَطِيْعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهُ .قَالَ الآخر : اللَّهُمَّ إنَّهُ كانَتْ لِيَ ابْنَةُ عَمّ ، كَانَتْ أَحَبَّ النّاسِ إليَّ – وفي رواية : كُنْتُ أُحِبُّها كأَشَدِّ مَا يُحِبُّ الرِّجَالُ النساءَ – فأَرَدْتُهَا عَلَى نَفْسِهَا فامْتَنَعَتْ منِّي حَتَّى أَلَمَّتْ بها سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ فَجَاءتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمئةَ دينَارٍ عَلَى أنْ تُخَلِّيَ بَيْني وَبَيْنَ نَفْسِهَا فَفعَلَتْ، حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا – وفي رواية: فَلَمَّا قَعَدْتُ بَينَ رِجْلَيْهَا، قالتْ: اتَّقِ اللهَ وَلاَ تَفُضَّ الخَاتَمَ إلاّ بِحَقِّهِ، فَانصَرَفْتُ عَنْهَا وَهيَ أَحَبُّ النَّاسِ إليَّ وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أعْطَيتُها . اللَّهُمَّ إنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابْتِغاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فيهِ ، فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، غَيْرَ أَنَّهُمْ لا يَسْتَطِيعُونَ الخُرُوجَ مِنْهَا . وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ وأَعْطَيْتُهُمْ أجْرَهُمْ غيرَ رَجُل واحدٍ تَرَكَ الَّذِي لَهُ وَذَهبَ، فَثمَّرْتُ أجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنهُ الأمْوَالُ، فَجَاءنِي بَعدَ حِينٍ، فَقالَ: يَا عبدَ اللهِ، أَدِّ إِلَيَّ أجْرِي، فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أجْرِكَ: مِنَ الإبلِ وَالبَقَرِ والْغَنَمِ والرَّقيقِ، فقالَ: يَا عبدَ اللهِ، لاَ تَسْتَهْزِىءْ بي ! فَقُلْتُ: لاَ أسْتَهْزِئ بِكَ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتَاقَهُ فَلَمْ يتْرُكْ مِنهُ شَيئاً . الَّلهُمَّ إنْ كُنتُ فَعَلْتُ ذلِكَ ابِتِغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحنُ فِيهِ، فانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Abdur Rahman, yaitu Abdullah Ibn Umar Ibn al-Khaththab ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu berangkat bepergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua untuk bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu. Mereka berkata bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari batu besar ini melainkan jika kalian berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik. Seorang dari mereka itu berkata: Ya Allah. Aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia dan aku tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu bakar sehingga aku tidak pulang kecuali keduanya sudah tidur.  Selanjutnya aku pun terus memerah minuman untuk keduanya itu tapi mereka sudah tidur. Aku enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Gelas itu tetap di tanganku menanti kedua orang tuaku bangun hingga fajar terbit, padahal anak- anak menjerit kelaparan di kakiku. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum air susu itu. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini. Batu besar itupun bergeser, tetapi mereka belum dapat keluar dari gua. Yang lain berkata: Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai seorang sepupu wanita yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia . Dalam sebuah riwayat disebutkan: Aku mencintainya sebagai kecintaan seorang lelaki yang amat sangat kepada wanita  kemudian aku menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, ketika ia ditimpa paceklik, iapun mendatangi tempatku, lalu aku memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia menyerahkan dirinya untukku. Ia berjanji sedemikian itu. Setelah aku dapat menguasai dirinya. Dalam sebuah riwayat lain disebutkan: Setelah aku dapat duduk di antara kedua kakinya – sepupuku itu lalu berkata: Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin melainkan dengan haknya – yakni dengan perkawinan yang sah -, lalu aku pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia dan emas yang aku berikan itu aku biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini. Batu besar itu kemudian bergeser lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar melewatinya. Orang yang ketiga lalu berkata: Ya Allah, aku mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan pergi. Upahnya itu aku perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi aku, kemudian berkata: Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu. Aku berkata: Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya. Ia berkata: Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku. Aku menjawab: Aku tidak memperolok-olokkan engkau. Kemudian orang itupun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keridhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini. Batu besar itu lalu bergeser dan merekapun keluar dari gua itu. (Muttafaq ‘Alaih).

  1. Jangan berbuat Zhalim.

عَنْ أَبي أُمَامَةَ إِيَاسِ بْنِ ثَعْلَبَةَ الْحَارِثِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :مَنِ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِيءٍ مُسْلِمٍ بِيَمِيْنِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ النَّارَ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ رَجُلٌ : وَإِنْ كَانَ شَيْئاً يَسِيْراً يَا رَسُولَ الله ؟ فَقَال وَإِنْ قَضِيْباً مِنْ أَرَاكٍ .(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dari Abu Umamah, yaitu lyas Ibn Tsa’labah al-Haritsi ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang mengambil haknya seorang muslim dengan sumpah palsu, maka Allah telah mewajibkan neraka untuknya dan mengharamkan surga atasnya. Kemudian seorang laki-laki bertanya: Sekalipun sedikit, ya Rasulullah? Beliau saw. menjawab: Sekalipun bendanya itu berupa setangkai siwak. (HR Muslim).

  1. Saling menasihati.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ .مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 Dari Anas ra. dari Nabi saw. bersabda: Tidak sempurnalah keimanan seseorang itu sehingga ia mencintai kepada saudaranya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. (Muttafaq ‘alaih)

Referensi Utama : Aplikasi Selangkah lagi Anda masuk Surga