Fiqih Ibadah

Pahala

Kinta Mahadji - October 29, 2020

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh. Ustadz, setiap orang yang melakukan sesuatu yang bersifat ibadah akan mendapatkan pahala dan mendapatkan ridho dari Allah swt. Pertanyaan saya apakah hal-hal yang tidak bernilai pahala itu sama saja tidak mendapatkan ridho Allah swt.? Mohon pencerahannya. Terima kasih. Wassalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh.

Jawaban :

Wa alaikumus salam wr wb.

Pahala itu didapatkan karena niat ikhlas karena Allah. Karena Allah diartikan mencari ridha’nya. Walapun secara fisik pekerjaan yang mengandung pahala atau suatu ibadah dilakukan, namun tidak mendapat pahala dan ridha Allah. Apa contohnya ? Shalat, shadaqah, haji, puasa, zakat dan ibadah lainnya yang dikerjakan karena ingin dipuji orang (riya’). Begitu juga hijrah yang sejatinya bernilai ibadah dan mendapatkan pahala yang sangat besar namun niatnya hanya ingin memperoleh dunia semata, maka sia-sia hijrahnya di mata Allah SWT.

Kita tentu mengetahui salah satu hadis yang sangat masyhur sebagai berikut :

يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu Anhu diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa yang dia diniatkan” (HR. Al-Bukhari)

 

Begitu juga suatu perbuatan yang secara fisik tidak bernilai ibadah bisa juga mendapatkan pahala jika diniatkan ingin mencari pahala. Makan atau minum, itu perbuatan jaiz (boleh) dan tidak ada nilai pahala. Makan dan minum yang berpahala itu  jika sebelumnya membaca do’a. Anda membeli ulekan dari seorang bapak tua yang keliling dari kampung ke kampung di terik matahari dengan niat menolong, itu juga bernilai pahala.

Lawan dari ibadah adalah maksiat. Pelaku maksiat bukan hanya tidak mendapatkan pahala, justru sebaliknya, mendapatkan dosa dan murka Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Wallahu A’lam.