Fiqih Muamalah

Bakti sama orang tua

Kinta Mahadji - December 18, 2019

Assalamu alaikum. Maaf, saya idzin bertanya ustad :
Ibu saya baru meninggal 5 hari kemarin, tepatnya Minggu, 8 Desember 2019, pukul 08.30 WIB, karena sakit 5 tahun (kena stroke sebelah) tapi masih bisa jalan cuman kaki sebelah diseret, yang parahnya 5 bulan terakhir, sudah tidak bisa apa2, sehingga, untuk makan/minum, mandipun di kasur dan selama ini yang paling banyak membantu adalah istri, meskipun mengurus anak2 juga ( 4 orang) yang paling besar baru kelas 6 SD, sudah pikun juga. sayangnya selama sakit saya kurang perhatian kepadanya, saya jarang sekali bawa ke rumah sakit, bahkan mungkin baru 1 kali saja berobat, karena kesibukan saya kerja (pulang ke rumah 1 minggu sekali) sabtu dan minggu ada dirumah tapi kenapa selalu malas untuk ajak ibu kerumah sakit atau ke alternatif. Mohon penjelasan dari Ustad, apakah saya termasuk anak durhaka, terus bagaimana sekarang utuk bertaubat dan mohon ampun kepada Allah, juga kepada Ibu saya, sekarang saya sering menangis… apalagi bila mengingat masa2 dulu ketika ibu sakit juga ketika masih sehat…. Terima kasih

Jawaban :

Wa alaikumus Salam Wr. Wb.

Kami turut berduka cita atas wafatnya ibunda. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau. Senantiasa diberikan kasih sayang  dan diterima amal-ibadahnya oleh Allah SWT.

Apakah Bapak termasuk anak durhaka ? tentu tidak. Masuk katagori durhaka ketika anak membentak orang tua, menyakiti hati orang tua dan lain sebagainya. Bakti Bapak ketika orang tua sakit sudah terwakili oleh istri bapak. Mungkin dari segi psikologis Bapak Muhammad Orip merasa kurang perhatian dan kurang bakti kepada Almarhumah. Merasa demikian sangat bagus tentunya, bahkan harus.

Apakah bakti sang anak sudah putus ketika orang tuanya sudah wafat ?  Tentu tidak. Dalam hadis disebutkan sebagai berikut :

عن أبي أسيد الساعدي -رضي الله عنه- قال: بَينَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ الله -صلى الله عليه وسلم- إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَة، فَقَال: يا رسول الله، هَل بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيءٌ أَبُرُّهُمَا بِهِ بَعدَ مَوتِهِما؟ فقال: «نَعَم، الصَّلاَةُ عَلَيهِما، والاسْتِغْفَارُ لَهُما، وإِنْفَاذُ عَهدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِم الَّتِي لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا، وإِكرَامُ صَدِيقِهِما». – رواه أبو داود وابن ماجه وأحمد

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya. (yaitu) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan kawan keduanya.” (HR. Abu daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Wallahu a’lam.

Ridwan Shaleh