Artikel Islam

Diantara Hikmah Bersabar

pusatkajianhadis - February 20, 2020

Kita sering mendengar kata sabar dalam kehidupan sehari-hari. Kata ini tidak bisa lepas dari kehidupan kita di dunia. Di dalam Al-Qur’an, kata sabar disebutkan sebanyak 104 kali dengan berbagai bentuk, baik kata kerja (fi’il) dan kata benda (isim). Terlalu luas dan panjang sebetulnya jika kita membahas perkara sabar.  Apakah yang dimaksud dengan sabar dan apa hikmah dibaliknya ?

Allah bersama orang-orang yang sabar 

Allah SWT berfirman :

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. (Q.S Al-Baqarah : 153)

Allah beserta orang-orang yang sabar maksudnya adalah Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya yang bersabar.

Sabar merupakan sinar (cahaya yang menerangi)

عَنْ أبي مَالكٍ الْحَارِثِ بْنِ عَاصِمٍ الأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَان، وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائعٌ نَفسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا .- رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Malik al-Harits Ibn Ashim al-Asy’ari ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bersuci adalah sebagian dari iman, dan Alhamdulillah itu memenuhi timbangan, Subhanallah dan Alhamdulillah itu dapat memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, sabar merupakan sinar, al-Quran adalah merupakan hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap manusia bekerja, maka ada yang menjual dirinya dan ada pula yang menghancurkan dirinya.” (HR Muslim)

Hadis di atas menerangkan tentang keluhuran beberapa amal yang mudah dikerjakan namun memperoleh pahala yang sangat besar. Allah Maha Kaya segala-galanya, kaya akan rahmat-Nya dan pahala yang  akan diberikan kepada para hamba-Nya. Salah satu yang disebut dalam hadis di atas adalah keutamaan bersabar. Rasulullah  SAW mengajarkan kepada kita bahwa sabar merupakan cahaya (sinar yang menerangi). Imam Nawawi mengatakan bahwa  maknanya adalah sabar yang disukai oleh syariah, yaitu sabar dalam taat kepada Allah, sabar untuk tidak bermaksiat, sabar untuk meninggalkan yang makruh. Sabar merupakan hal terpuji dan mengantarkan pelakunya  untuk selalu konsisten terhadap kebenaran dan selalu mendapatkan petunjuk. Imam Nawawi juga meyebutkan beberapa komentar ulama tentang makna sabar, diantaranya :

  1. Ibrahim Al-Khawas : Sabar adalah berdiri kokoh membela Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  2. Ibnu Atha’ : Sabar adalah menerima ujian dari Allah dengan adab yang baik.
  3. Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq : Hakikat sabar adalah tidak menentang sesuatu yang sudah ditakdirkan, adapun mengadu kepada Allah karena tertimpa bala’ tidklah menafikan sabar itu sendiri. Sebagaimana Allah mengisahkan kesabaran Nabi Ayyub As dalam menerima ujian.

Dari penjelasan para ulama di atas, sabar bisa saja diartikan dengan tahan uji atau stabilnya kondisi seseorang ketika berada pada posisi yang tidak nyaman. Dengan demikian, orang yang sabar mempunyai karakteristik, diantaranya : kuat, tahan uji, stabil dan lapang dada. Hal ini diperkuat dengan salah salah satu hadis shahih berikut :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ أنّ رسُولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :لَيْسَ الشَّدِيْدُ بالصُّرَعَةِ، إنَّمَا الشَدِيْدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ. – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurariah ra. yang berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam gulat, akan tetapi, orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya di waktu sedang marah. (Muttafaq ‘alaih)

Allah menguji kesabaran seorag hamba untuk meninggikan derajatnya

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ خَيْرَ عَجَّلَ لَهُ العُقُوبَةَ في الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ .وَقالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ، وَإنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْماً ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ .- رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ، وَقَالَ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ

Dari Anas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jikalau Allah menghendaki kebaikan pada seseorang hamba-Nya, maka ia menyegerakan hukuman atas dosanya di dunia. Sedangkan jika Allah menghendaki keburukan pada se-seorang hamba-Nya, maka Dia menunda hukuman atas dosanya hingga hari kiamat. Dan Nabi saw. bersabda (juga riwayat Anas ra.) : “Sesungguhnya besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya cobaan. Jika Allah menyukai suatu kaum, niscaya Dia akan memberinya cobaan. Barangsiapa yang menerimanya, maka ia akan mendapat ridha Allah, dan barangsiapa yang marah terhadapnya maka ia mendapatkan kemarahan-Nya.” (HR.  al-Tirmizi dan beliau berkata bahwa ini Hadis Hasan).

Allah membersihkan kita dari dosa yang kita perbuat dengan cara menyegarakan hukuman di dunia . Hukuman tersebut Allah berikan dalam bentuk yang tidak kita sukai seperti penyakit, paceklik, kebankrutan dan lain-lain. Jika dicermati, hukuman tersdebut sebetulnya  sama dengan ujian. Hamba Allah yang sabar dalam menerima hukuman atau ujian dari Allah,maka dosanya dihapus. Penyegeraan hukuman dan ujian dari Allah adalah bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hambanya agar tahan uji dan naik derajat. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُصِبْ مِنْهُ

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki akan memperoleh kebaikan, maka Allah akan memberikan cobaan kepadanya.”(HR al-Bukhari) .

Contoh yang mudah saja, seorang tidak akan langsung memperoleh gelar akadimik sebelum mengikuti ujian yang harus ditempuh. Semakin tinggi gelar akademik, maka semakin tinggi pula penghargaan atau apresiasi yang diberikan kepada sang pemilik gelar. Bentuk apresiasinya bisa berupa jabatan atau gaji yang tinggi karena keahliannya.  Bagaimana jika Allah yang mengaperiasinya ? Sudah tentu sangat tinggi, yaitu berupa tingkatan surga yang tinggi yang tidak bisa ditukar dengan jabatan atau honor tertinggi di dunia sekali pun.

Wallahu a’lam

Ridwan Shaleh