Category: Berita & Kegiatan PKH

  • Mari Lebih Dekat Lagi Kepada Allah !

    Mari Lebih Dekat Lagi Kepada Allah !

    Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pandemi Covid-19 melanda hampir ke seluruh dunia. Entah sudah berapa angka korban jiwa mapun terdampak virus ini. Walaupun kasat mata, virus ini mengakibatkan kepanikan sehingga warga dunia melalui pemerintahnya melakukan tindakan-tindakan sangat serius untuk menghindari wabah. Sebagai umat Islam, kita tentu menyadari bahwa Covid-19 merupakan musibah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya, Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 155-177 :

    وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

    “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah : 155)

    ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

    “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (Q.S. Al-Baqarah : 156)

    أُو۟لَٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

    “Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 157)

    Berbagai macam ujian yang Allah berikan sebagaimana ayat 155 yaitu sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.

    Al-Imam Al-Syaukani di dalam kitab tafsirnya Fathul Qadir menafsirkan bahwa tujuan Allah menguji kita adalah seberapa jauh kesabaran kita kepada Allah dalam menghadapi Qadha’ (ketetapan yang Allah putuskan). Dan beliau juga menyebutkan bahwa semua bentuk ujian sebagaimana ayat 155 ini adalah diberikan oleh Allah dengan kadar yang sedikit. Tapi biar bagaimanapun, sedikit dari Allah tentu sangat banyak bagi kita.

    Ibnu Jarir Al-Thabari  dan para mufasirin lainnya menafsirkan “sedkit ketakutan dan kelaparan” adalah takut kepada musuh dan kekeringan atau kemarau dahsyat. Untuk konteks saat ini “takut kepada musuh” maknanya bisa diperluas dengan takut kepada sesuatu yang dapat menyerang tubuh manusia dan  berpotensi mematikan, layaknya musuh dalam perang. Saat ini manusia takut dengan Covid-19. Wallahu A’lam.

    Efek dari takut (khawatir) kepada Covid-19 dapat menimbulkan tindakan pencegahan, baik dengan langkah taktis dan sistematis seperti menghentikan aktifitas berkumpul secara masif sampai dengan langkah yang paling dikhawatirkan, yaitu  Lockdown. Kebijakan tersebut tentu berimbas terhadap perputaran roda ekonomi, terutama rakyat menengah kebawah. Dengan begitu ujian selanjutnya adalah “Naqsun minal amwal” (kekurangan harta).

    Kebijakan Lockdown diberlakukan dengan tujuan menolak mafsadat sesuai dengan kaidah fiqh. Tentunya pemerintah mempunyai wewenang dan mengkaji dengan seksama ketika langkah ini harus dilaksanakan.

    Terlepas dilaksanakan atau tidak, intinya Covid-19 berdampak serius, baik dari segi kesehatan jasmani maupun rohani. Ya, inilah ujian yang Allah berikan kepada umat Islam!

    Tidak hanya anjuran untuk tidak berkumpul, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa yang garis besar isinya adalah anjuran untuk tidak menghadiri Shalat Jama’ah lima waktu dan tidak menghadiri Shalat Jum’at di masjid kemudian menggantinya dengan Shalat Zuhur di rumah masing-masing bagi daerah yang rawan tingkat penyebaran Covid-19.

    Umat Islam di Indonesia. Khususnya di DKI Jakarta  meyikapi fatwa MUI terkait Covid-19 ini secara beragam. Ada yang menyetujui dengan mutlak, ada yang tidak menyetujui dan bahkan ada sebagian kecil yang “nyiyir” sambil melontarkan tuduhan yang tidak semestinya. Terlepas dari sikap setuju atau kontra dengan fatwa tersebut, tentu MUI mempunyai wewenang dan tidak serampangan mengeluarkan fatwa. MUI merupakan lembaga resmi yang diakui negara dan berisikan para ulama pewaris para nabi yang tentunya ahli dalam bidang kegamaan, baik Fiqh dan Ushulnya, Al-Qur’an dan Tafsirnya, Hadis dan Ilmu-ilmunya, Aqa’id, Tarikh dan cabang-cabang ilmu agama lainnya. Sekalipun tidak setuju dengan fatwa yang dikeluarkan MUI, paling tidak bersikap menghormati dan jangan “nyiyir”.

    Bagaimana sikap umat Islam menghadapi musibah ?

    Sebagaimana  ujung ayat 155 Surat Al-Baqarah dan dilanjutkan dengan 156, kita bersabar dan mengakui dengan sepenuh hati bahwa segala musibah datangnya dari Allah dan kita mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).

    Bersabar bukan berarti diam tanpa usaha. Bersabar adalah berusaha menghindari wabah dan bersabar atas efek dari wabah.

    Selain ikhtiyar nyata untuk mendapakatkan penjagaan dari Allah dari Covid-19, ada beberapa do’a yang bisa dibaca dan diamalkan, diantaranya :

    1. Membaca do’a berikut setiap pagi dan sore, berdasarkan Hadis Riwayat Tirmidzi :

    بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    Bismillahil Ladzii Laa Yadhurru ma’asmihii Syai’un Fil Ardhi Wa Laa Fis Samaa’i Wa Huwas Samii’ul ‘Aliim.

    “Dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat memberi mudharat baik di bumi mau pun di langit. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Menetahui.”

    • Membaca do’a yang diambil dari gabungan ayat 173 Ali Imran dan ayat 40 surat Al-Anfal, ditambah dengan lafadz hauqalah :

    حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلىٰ وَنِعْمَ النَّصِيْرُ وَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ

    Hasbunallahu Ni’mal Wakiil Ni’mal Maulaa Wa Ni’man Nashiir, Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil Aliyyil Azhiim.

    “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Alah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Agung.”

    • Do’a Nabi Yunus As ketika menghadapi kesulitan (QS. Al-Anbiya; 87) :

    لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

    Laa Ilaaha Illaa Anta Subhaanaka Innii Kuntu Minazh Zhaalimiin.

    “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim”.

    • Doa dengan terlebih dahulu merendahkan diri di hadapan Allah dengan memuji-Nya agar Allah berbelas kasih kepada kita dan mennyingkirkan wabah :

    تَحَصَّنَا بِذِى الْعزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعْتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْنَا عَلَى الْحَيِّ الَّذِى لاَ يَمُوْتُ اَلَّلهُمَّ اصْرِفْ عَنَّا البَلاَءَ الْوَبَاءَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    Tahasshannaa Bi Dzil ‘Izzati Wal Jabaruut, Wa’tashamnaa Bi Rabbil Malakuut, Wa Tawakkalnaa Alal Hayyil Ladzii Laa Yamuut, Ishrif Annal Bala’a Wal Waba’, Innaka ‘Alaa Kulli Syai’in Qadiir.

    “Kami bentengi diri kami dengan pertolongan Dzat yang memiliki kemulian dan kekuasaan, dan kami berpegang teguh dengan dengan Penguasa jagat raya, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, dan kami berserah diri kepada Dzat Yang Maha Hidup yang tak akan mati. Jauhkanlah kami dari cobaan dan wabah. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

    • Berdoa ketika menghadapi keburukan :

    أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ

    A’uudzu Bikalimaatillaahit Taammati Min Syarri Maa Ajid.

    :Aku berlindung kepadam-Mu Yaa Allah melalui kalimat-kalimat-Mu yang sempurna dari segala keburukan yang aku hadapi.”

    Doa-doa dan dzikir di atas adalah do’a yang diajarkan oleh guru kami Dr. KH. A. Lutfi Fathullah, MA, Direktur Pusat Kajian hadis. Dapat diakses dalam bentuk video melalui link berikut: http://warungustad.com/doa-mohon-kesembuhan-dari-covid-19/

    Kita kaum muslimin haruslah mengambil hikmah dari pandemi Covid-19. Diantara hikmahnya adalah betapa besar kekuasaan dan kehendak Allah. Hanya dengan sesuatu yang sangat kecil saja manusia panik, takut dan sangat mengharap pertolongan-Nya.

    Semoga kita semakin dekat kepada Allah dan selalu dalam lindungan-Nya, aamiin.

    Wallahu A’lam

    Ridwan Shaleh

     

  • Allah Menunggu Dengan Cinta

    Allah Menunggu Dengan Cinta

    Adzab Allah sangat pedih, betul memang. Tapi lihatlah cinta-Nya yang teramat dalam kepada para hamba-Nya. Ia mencintai seorang hamba yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Sekotor apapun lumpur dosa seorang hamba yang ingin membersihkan dirinya, ia sambut dengan tangan terbuka dan penuh cinta.

    Firman Allah :

    إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

    “Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah:222)

    Banyak ayat-ayat lainnya yang menggambarkan betapa luasnya kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Begitupun dengan hadis-hadis Rasulullah yang berbicara perihal taubat, ampunan dan kasih sayang Allah. Berikut akan dibahas dua hadis saja yang sekiranya cukup menggugah kita agar selalu kembali kepada Allah SWT.

    Taubat meghapuskan dosa-dosa

    عَنْ أَنسٍ رضِي اللّه عَنْهُ قالَ : سمِعْتُ رَسُولَ اللّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُولُ :قَالَ اللّه تَعَالَى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُك عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي، يا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابٍ الأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيتَنِي لا تُشْرِكُ بِي شَيْئاً، لأَتَيْتُكَ بِقُرابِهَا مَغْفِرَة -رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ وقَالَ : حَدِيثٌ حَسَنٌ

    Dari Anas ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Hai anak Adam, sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu. Seperti apa pun perbuatanmu, Aku tidak peduli. Hai anak Adam, sekiranya tumpukan dosamu mencapai awan di langit, tetapi kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu, Aku tidak peduli. Hai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa nyaris seisi bumi, kemudian engkau menemui-Ku dengan tanpa menyekutukan Aku dengan apa pun, maka Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sebesar dosamu itu.” (HR al-Tirmizi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis Hasan)

    Hadis Qudsi di atas menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ampunan Allah lebih besar daripada siksa-Nya,  rahmat (kasih sayang)-Nya lebih besar daripada kemarahan-Nya.  Hadis di atas juga menunjukkan harapan dan optimisme bagi pelaku dosa bahwa pintu taubat selalu terbuka apabila bertaubat. Sebesar apapun dosa yang dilakukan akan diampuni oleh Allah selama sang hamba mau bertaubat dan tidak mati dalam keadaan berbuat  syirik kepada-Nya. Yang namanya manusia tentu banyak salah dan banyak pula minta ampun kepada Allah. Walaupun hadis  di atas bermakna bahwa Allah selalu mengampuni dosa hamba-Nya apabila bertaubat, namun jangan disalah fahami boleh melakukan dosa seenaknya karena Allah akan mengampuni. Jangan tunda bertaubat dan berfikir bahwa usia kita panjang. Taubat dan maksiat selalu berlomba dengan maut (kematian). Siapakah yang mampu menjamin kita sudah bertaubat sebelum kematian datang ?

    Allah bergembira kepada orang yag bertaubat

    عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ خَادِمِ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  رَضِيَ اللهُ عَنْهٌ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :الَلهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ وقد أضَلَّهُ في أَرضٍ فَلاةٍ . – مُتَّفَقٌ عَلَيْه)

    Dari Abu Hamzah yaitu Anas Ibn Malik al-Anshari ra. pelayan Rasulullah saw. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya dari gembiranya seseorang dari kalian yang menemukan untanya yang telah hilang di gurun sahara.” (Muttafaq Alaih). Selain diriwayatkan oleh Bukhari hadis no. 5834 dan  Muslim, hadis no. 4932 dan 4933, hadis semisal juga diriwayatkan oleh Ahmad, hadis no. 12750.

    Taubat adalah kembali kepada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Kembali kepada Allah dengan berserah diri sepenuhnya dengan penyesalan yang sungguh-sungguh dan  berazam untuk tidak mengulangi dosa yang telah dilakukan. Manusia memang kerap kali berbuat salah, baik yang disengaja mau pun tidak. Tapi dengan Rahmat (kasih sayang) yang dimiliki-Nya, Allah memberikan ampunan bagi hamba-Nya yang benar-benar kembali kepada-Nya. Tiada satu pun makhluk di muka bumi ini yang dapat menandingi Allah dalam segala hal, baik dari segi kasih sayang-Nya, maaf-Nya, kesabaran-Nya dan lain-lainnya. Ada hadis lain yang membuktikan bahwa Allah sangat sabar menanti taubat para hamba-Nya. Allah menunggu dengan cinta-Nya yang begitu besar. Memang benar bahwa Allah murka kepada hamba yang melakukan dosa, tapi dengan cinta dan ampunan-Nya, Ia membuka pintu maaf dan ampunan selebar-lebarnya jika sang hamba ingin kembali kepada-Nya. Rasulullah Saw bersabda:

       اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيْءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِلِيَتُوْبَ مُسِيْءُ اللَّيْلِ حَتَّی تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

     Artinya: “SesungguhnyaAllah azza wa jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang yang berbuat buruk pada siang hari. Dan membentangkannya kembali pada siang hari untuk menunggu taubat orang yang berbuat buruk pada malam hari.” (H.R. Muslim dari Abu Musa RA).

    Selain menunggu dengan cinta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat bergembira ketikah amba-nya benar benar bertaubat. Kegembiraan Allah tersebut digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam dengan sangat indah. Dalam hadis diatas, kegembiraan Allah melebihi gembiranya seorang yang menemukan unta dan perbekalannya yang hilang di padang pasir. Betapa gembiranya seorang yang hampir saja putus harapan. Unta dan perbekalan yang sangat diandalkan ketika berada di tempat tandus dan sangat sepi namun hilang entah kemana. Tapi keputus-asaan hilang sirna berganti kegembiraan yang teramat sangat ketika unta itu kembali menghampiri pemiliknya. Bahkan ada hadis semisal yang meriwayatkan bahwa saking gembiranya pemilik unta, samapai-sampai ia salah ucap tidak senganja mengatakan :

    اللهم أنت عبدي وأناربك

    Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku tuhan-Mu.” (HR. Muslim dari Anas RA)

    Oleh karena itu, berilah semangat dan dorong saudara kita yang beranggapan bahwa Allah tidak mau menerima taubat karena kesalahan dan dosa hamban-Nya  yang begitu besar. Berikanlah keyakinan kepadanya bahwa Allah menunggu taubat seorang hamba dengan cinta dan kasih sayang-Nya.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

  • Workshop Digitalisasi Hadis UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta 2020

    Workshop Digitalisasi Hadis UIN Sunan Kalijaga Jogyakarta 2020

    Bogor, 6 Januari 2020. Pada tanggal 6 -28 Januari 2020 telah diselenggarakan workshop digitalisasi hadis mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di Pesantren PKH Cinagara, Bogor.

    Workshop dibagi dalam 3 gelombang, masing-masing gelombang dilakukan dalam kurun waktu 7 hari. Selama 7 hari mahasiswa jurusan ilmu hadis diberikan materi tentang pengantar desain aplikasi, aplikasi pengolah grafis Adobe Fireworks, Meme Dakwah, Google Docs, CMS tematik PKH sampai membuat proses bundling menjadi sebuah aplikasi yang siap di install dan digunakan di perangkat Android.

    Mahasiswa mengikuti sesi workshop di aula

    Dalam materi pengantar desain aplikasi, mahasiswa diajarkan dasar ilmu dan konsep desain grafis, UI dan UX serta peng-aplikasiannya. Target dari materi ini mahasiswa mampu membuat desain aplikasi Arbain Nawawi berdasarkan materi dan konsep desain yang telah disampaikan sebelumnya.

    Sebagai penunjang proses desain, mahasiswa diajarkan cara menggunakan aplikasi Adobe Fireworks sebagai alat bantu dalam membuat desain, seperti: desain aplikasi, meme dakwah, icon, mainbanner dan lain sebagainya.

    Dengan fasilitas CMS PKH, mahasiswa dimudahkan dalam menyusun dan meng-input konten hadis sampai meng-aplikasikan desain yang sudah dibuat sebelumnya. Dengan bantuan aplikasi ini juga, mahasiswa tidak perlu mempelajari proses programing untuk membuat sebuah aplikasi Android, mereka cukup fokus untuk menyiapkan konten.

    Mahasiswa setoran hafalan hadis setelah sholat subuh

    Dimulai angkatan 2020, Workshop PKH mengenalkan materi baru yaitu Google Docs Collaboration. Dalam materi ini mahasiswa diajarkan bagaimana memaksimalkan aplikasi google docs untuk melakukan kerja kelompok (kolaborasi), sehingga waktu pengerjaan bisa menjadi lebih singkat dan efektif.

    Selain workshop, diselingi juga dengan olahraga memanah.

    Selain workhop digitalisasi, mereka juga diwajibkan menghafal hadis termasuk matan, yang diambil dari 40 hadis yang mudah dihafal. Sebagai penghilang penat, kami juga mengadakan acara Cerdas Sirah, yaitu acara cerdas cermat yang materinya diambil dari Sirah Nabawiyah. Dan sebagai kegiatan penutup, mahasiswa melakukan perjalanan ke air terjun Cikaracak yang berada tidak jauh pesantren PKH.

    Photo bersama mentor dan Pak Fatih

    Dengan semangat pemuda, Alhamdulillah mahasiswa dapat menyelesaikan beberapa tugas pembuatan aplikasi. Berikut aplikasi yang selesai dibuat selama mengikuti workshop:

    A. Aplikasi Arbain Nawawi (Personal)

    B. Aplikasi Hadis Tematik  (Kelompok)

    1.  Gelombang pertama:

    • 40 hadis tentang Jihad
    • 40 hadis tentang Bencana
    • 40 hadis tentang Mahabbah
    • 40 hadis tentang Psikologi
    • 40 hadis tentang Air
    • 40 hadis tentang Kesejahteraan Sosial
    • 40 hadis tentang Zikir dan Doa
    • 40 hadis tentang Wanita
    • 40 hadis tentang Hewan
    • 40 Hadis tentang Etika Sosial

    2.  Gelombang kedua:

    • Hadis seputar Kematian
    • Kumpulan Hadis Air
    • Adab bermasyarakat ala Rasulullah SAW
    • Hadis – hadis energi
    • Kumpulan Hadis Hewan
    • Kumpulan Hadis Disabilitas
    • Seputar Hadis Keluarga
    • Kumpulan Hadis Adabul Yaumiyah

    3.  Gelombang ketiga:

    • Hadis-hadis Pangan
    • Hadis-Hadis kesehatan
    • 40 Hadis Qudsi
    • 40 Hadis Parenting
    • 40 Hadis tentang Air
    • Hadis-Hadis Ekonomi
    • Etika Keseharian Ala Nabi
    • 40 Hadis tentang Toleransi Beragama
    • Hadis-hadis Iqtisadi
    • 40 Hadis tentang Lingkungan
    • Pemanfaatan Sumber Daya Alam

    Untuk melihat semua aplikasi yang pernah dibuat di pesantren PKH silakan kunjungi Google Play pesantren PKH.
    Untuk melihat aplikasi Android Pusat Kajian Hadis, silakan kunjungan Google Play PKH.

     

     

     

  • Beberapa Hal Penting Mengenai Safar

    Beberapa Hal Penting Mengenai Safar

    Safar artinya bepergian jauh dari tempat dimana seorang bermukim ke luar daerah. Safar tentu mempunyai tujuan dan maksud tertentu yang tujuannya adalah kebaikan bagi yang melakukannya. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang muslim mengenai safar seperti yang akan dibahas dalam tulisan ini berdasarkan hadis-hadis Rasululllah Shallallahu Alai Wa Sallam.

    Berdo’a Sebelum Bepergian (Safar)

    عَنْ ابنِ عمر رَضِيَ الله عَنْهما، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجاً إِلَي سَفَرٍ، كَبَّرَ ثَلَاثاً، ثُمَّ قَالَ :سُبْحَانَ الَذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ . اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ في سَفَرِنَا هذا البرَّ والتَّقوى، ومِنَ العَمَلِ ما تَرْضى . اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنّْا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ، وَالخَلِيفَةُ فِي الَأهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ المَنْظَرِ، وَسُوءِ المُنْقَلَبِ فِي المالِ وَالَأهْلِ وَالوَلَدِ  وَإِذَا رَجَعَ قَالهُنَّ وَزَادَ فِيِهِنَّ : آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ .- رَوَاهُ مُسْلِمٌ

    Dari Ibn Umar ra. bahwa Rasulullah saw. apabila berada di atas punggung untanya untuk keluar berpergian, maka Beliau saw. itu bertakbir dulu sebanyak tiga kali, kemudian mengucapkan yang artinya: “Maha Suci Dzat yang menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya, kami mohon kepada-Mu dalam bepergian kami ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, ringkan perjalanan ini kepada kami dan dekatkan jaraknya untuk kami. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan, wakil dalam keluarga. Ya Allah, sesungguhnya, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, pandangan yang menyedihkan, dan buruknya keadaan ketika kembali, baik mengenai harta, keluarga atau pun anak.” Dan ketika pulang, beliau mengucapkan doa tersebut dan menambahnya dengan yang artinya: “Kami semua telah kembali, senantiasa bertaubat, senantiasa beribadah, senantiasa memuji kepada Tuhan kami.” (HR Muslim no. 2392 ). Hadis semisal juga diriwayatkan oleh  Abu Daud, hadis no. 2232; al-Tirmizi, hadis no. 3369; Ahmad, hadis no. 6086; al-Darimi, hadis no. 2557.

    Bepergian (safar) hukumnya adalah mubah (boleh) selama tidak melanggar syariah Islam.  Bepergian atau safar jarak jauh mempunyai risiko yang tidak sedikit. Selain harus menyiapkan bekal yang cukup, safar tentu menggunakan alat transportasi untuk memudahkan perjalanan. Walau menggunakan alat transportasi yang canggih sekalipun, tetap saja masih ada risiko yang bisa saja terjadi. Jatuhnya pesawat karena cuaca ekstrim, tenggelamnya kapal, tabrakan kereta dan bus dan hal-hal lainnya yang cukup menegangkan. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada kita berdo’a kepada Allah dan meminta perlindunagnnya agar selamat dalam perjalanan.Ada beberapa hikmah yang kita bisa ambil dari hadis di atas:

    1. Laut, darat dan udara mempunyai potensi yang membahayakan bagi mereka yang mengadakan perjalanan. Namun semua potensi memabayakan tersebut ditundukkan dan dijinakkan oleh Alla agar kita mudah dan nyaman mengadakan perjalanan. Ombak besar, bergeraknya tanah dan angin kencang semuanya ditundukkan oleh Allah karena kasih sayang-Nya.
    2. Kita memohon kepada Allah agar safar yang kita lakukan memiliki manfaat dan keberkahan.
    3. Kita memohon Allah menjaga kita selama perjalanan. Jika dijaga Allah, kita tidak mendapatkan mudharat sedikitpun.
    4. Selain Allah menjada kita, kita juga memohon pula agar Allah menjaga keluarga dan harta yang kita tinggalkan di rumah. Oleh karena itu, biasakanlah berdoa sebelum melakukan perjalanan.
    5. Ketika sudah kembali ke rumah, Rasulullah mengajarkan kita untuk bersyukur dan berdo’a agar kita dibimbing dan diberikan kekuatan oleh Allah agar selallu menjadi hamba yang senatiasa bertaubat, beibadah dan memuji kebesaran-Nya.

    Segera pulang ke rumah jika urusan telah selesai

    عَنْ أَبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ :السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ، وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ مِنْ سَفَرِهِ، فَلْيُعَجِّل إلَى أَهْلِهِ .- مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

    Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bepergian itu sebagian dari siksa, karena dapat menghalangi orang dari makan, minum, dan tidurnya. Karena itu, apabila seorang di antara kalian telah menyelesaikan urusannya dalam bepergian, maka hendaklah segera kembali kepada keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih). Selain diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadis no. 1677 dan Muslim, hadis no. 3554, hadis semisal juga diriwayatkan oleh Ibn Majah, hadis no. 2873; Ahmad, hadis no. 6927, 9363, 10041; Malik, hadis no. 1552; al-Darimi, hadis no. 2554.

    Betapa bijaksananya Rasulullah SAW. Ketika maksud dan tujuian kita bersafar sudah tertunaikan, Beliau SAW mengajarkan kita  segera pulang ke rumah menemui keluarga. Selama kita belum pulang dari safar, tentu istri dan anak-anak kita khawatir akan keselamtan kita. Mereka selalu berdo’a agar kita sehat, selamat dan dimudahkan segala urusan. Dengan kepulangan kita dan bertemu mereka, tentu mereka merasa tenang dan sirnalah kekhawatiran.

    Selain memberikan rasa tenang kepada keluarga, pulang dengan segera bertujuan untuk menghindari hal-hal yang kurang penting dan dapat melalilakn ibadah kita kepada Allah. Berbeda jika kita berada di rumah, hal-hal yang sunnah lebih mudah dan nyaman dikerjakan dibanding safar. Jangankan ibadah sunnah, yang wajib saja seperti shalat dan puasa terdapat dispensai atau rukhshah ketika dalam keadaan safar. Selain itu, lebih cepat pulang ke rumah bertujuan agar kita bisa beristirahat lebih banyak dari lelahnya perjalanan jauh. Istirahat yang cukup menghasilkan badan yang segar dan semangat bertambah untuk melakukan ibadah dan hal-hal penting lainnya yang bermanfaat.

    Wallahu a’lam.

    Ridwan Shaleh

     

  • Bekerja Dalam Pandangan Islam

    Bekerja Dalam Pandangan Islam

    Bekerja memang sudah menjadi tuntutan bagi setiap muslim yang mempunyai tanggungan. Bukan hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan, bekerja merupakan salah satu sarana untuk berkarya dan menjaga kehormatan. Islam tentu memberikan apresiasi yang sangat tinggi bagi mereka yang bekerja dengan baik. Bahkan bekerja bisa menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk beribadah kepada Allah.

    Bekerjalah dan jangan jadi pengemis.

    عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الله الزُّبَيْرِ بنِ العوَّامِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُم أَحبُلَهُ ثُمَّ يَأْتِيَ الجَبَلَ، فَيَأْتِيَ بحُزْمَةٍ مِن حَطَب عَلَى ظَهِرِهِ فَيَبِيْعَهَا،

    (فَيَكُفَّ اللهُ بِهَا وَجْهَهُ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ .(رَوَاهُ البُخَارِيّ

    Dari Abu Abdillah, yaitu al-Zubair ibn al-Awwam ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sekiranya seseorang di antara kalian mengambil tambang lalu pergi ke gunung, kemudian ia datang kembali dengan membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lalu menjualnya, kemudian dengan cara sedemikian itu Allah mencukupkannya, itu lebih baik daripada meminta-minta   kepada orang, bisa jadi ia diberi, dan bisa jadi ia tidak diberi. (HR al-Bukhari  no. 1378, Ibn Majah no. 1826  dan Ahmad no. 1333)

    Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh makhluknya. Cara menjemput rezeki yang Allah berikan haruslah dengan cara yang halal. Allah dan Rasul-Nya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada hamba-Nya yang maksimal berikhtiar dan sabar. Allah memberikan pahala dua kali, pahala ikhtiyar halal dan pahala kesabarannya.  Allah  menambahkan lagi pahala jika bersyukur dengan apa yang dihasilkannya, besar atau kecil, sedikit atau banyak. Selain pahala yang diperoleh, Allah juga memberikan keberkahan kepadanya.

    Hadis di atas menggambarkan betapa ikhtiyar dengan keras walau pun hasilnya tidak sebanding dengan kuatnya usaha tetap lebih baik dari pada meminta-meminta. Meminta-meminta dibolehkan ketika dalam kondisi darurat dan hanya sementara, bukan profesi tetap seperti yang terjadi zaman sekarang ini. Bahkan peminta-minta kerap menipu dengan cara berpakaian kumuh dan wajah memelas seakan-akan menahan lapar, padahal dari hasil mengemisnya ia mendapatkan uang yang sangat banyak bahkan mampu membeli rumah dan kendaraan !

    Para Nabi Juga Bekerja Mencari Rezeki.

    عَنْ المِقدَامِ بن مَعْدِ يكَربَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَاماً خَيْراً مِن أَنَ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ الله دَاوُدَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ . رَوَاهُ البُخَارِيّ.

    Dari al-Miqdam Ibn Ma’dikariba ra. dari Nabi saw., bersabda: Tidaklah seseorang makan suatu makanan, yang lebih baik daripada ia memakan hasil kerja tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud as. biasanya memakan hasil kerja tangannya sendiri. (HR al-Bukhari no. 1930, Ibn Majah no. 2129, Ahmad no. 16.552 dan 16.560)

    Hadis diatas bermakna bahwa Allah dan Rasul-Nya sangat menghargai ikhtiar seorang hamba dalam mencari rezeki. Orang yang mencari nafkah halal untuk memenuhi kebutuhan keluarganya merupakan bentuk tanggung jawab yang nyata. Kebalikannya, orang yang malas mencari nafkah tentu dibenci oleh Allah dan Rasul-nya karena ia meninggalkan kewaiban dan tangung jawab.

    Islam mengajarkan agar pemeluknya memiliki kehormatan dan kemuliaan. Islam memerintahkan agar orang-orang beriman membangun generasi yang kuat dari segala sisi, terutama kuat iman, kuat ilmu, ekonomi, sosial, budaya dan lainnya.  Allah SWT berfirman :

    وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

    “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (Q.S. An-Nisa: 9)

    Selain memberikan apresiasi bagi orang yang rajin mencari nafkah halal, hadis di atas juga bermakna bahwa bekerja adalah salah satu wasilah untuk memperoleh karunia Allah berupa rezeki. Kekayaan tang didapat bukanlah semata-mata hasil usaha seorang hamba secara mutlak.

    Para nabi yang sudah pasti rajn beribadah dan doa mereka dikabulkan saja tidak malas bekerja. Mereka bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Hadis di atas merupakan tamparan keras bagi mereka yang hanya berdo’a tapi malas bekerja. Ibn Hajar Al-Asqallani mengatakan bahwa terdapat riwayat Ibnu Abbas dalam Al-Mustadrak walaupun lemah secara sanad bahwa Nabi As berprofesi sebagai ahli pandai besi, Nabi Adam As bertani, Nabi Nuh As berdagang dan Musa As menggembala kambing. Oleh karena itu, siapa pun kita tidak boleh malas untuk bekerja.

    Wallahu A’lam.

    Ridwan Shaleh

     

  • Menangis Karena Al-Qur’an

    Menangis Karena Al-Qur’an

     

    Al-Qur’an merupakan petujuk bagi manusia. Perintah, larangan, aturan hidup, kisah-kisah umat terdahulu dan hal-hal lainnya tertuang melaui Kalam Suci-Nya yang begitu menyentuh dan sangat indah dari segi sastra. Orang-orang beriman sangat sensitif hatinya jika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan. Seringkali kita menyaksikan para Imam shalat menangis ketika memimpin shalat jama’ah, terlebih di Al-Masjid Al-Haram dan Al-Masjid Al-Nabawi.

    Allah Azza Wa Jalla berfirman :

     إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (Al-Anfal: 2).”

    قُلْ ءَامِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوْ لَا تُؤْمِنُوٓا۟ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ مِن قَبْلِهِۦٓ إِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا ﴿١٠٧﴾ وَيَقُولُونَ سُبْحَٰنَ رَبِّنَآ إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا ﴿١٠٨﴾   وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ﴿١٠٩﴾`

    “Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud. Dan mereka berkata, “Mahasuci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.S Al-Isra’: 107-109)

    Rasulullah SAW pernah menangis ketika mendengar bacaan Al-Qur’an

    حَدَّثَنَا صَدَقَةُ أَخْبَرَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبِيدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ يَحْيَى بَعْضُ الْحَدِيثِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَأْ عَلَيَّ قُلْتُ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ قَالَ فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ حَتَّى بَلَغْتُ { فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا } قَالَ أَمْسِكْ فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

    Telah menceritakan kepada kami Shadaqah Telah mengabarkan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Sulaiman dari Ibrahim dari ‘Abidah dari ‘Abdullah berkata; Yahya -sebagian Hadits- dari ‘Amru bin Murrah dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Bacakanlah Al Qur’an kepadaku! Aku berkata; Bagaimana aku membacakan kepadamu, padahal Al Qur’an diturunkan kepadamu? Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.” Lalu aku membacakan kepada beliau surat An Nisa hingga tatkala sampai ayat; Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu (An Nisa; 41), ” beliau berkata; ‘Cukup.’ Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis). (HR. Bukhari No. 4216)

    Begitu juga dengan Abu Bakar RA

    حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَذَكَرْنَا الْمُوَاظَبَةَ عَلَى الصَّلَاةِ وَالتَّعْظِيمَ لَهَا قَالَتْ لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأُذِّنَ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ وَأَعَادَ فَأَعَادُوا لَهُ فَأَعَادَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ فَصَلَّى فَوَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ كَأَنِّي أَنْظُرُ رِجْلَيْهِ تَخُطَّانِ مِنْ الْوَجَعِ فَأَرَادَ أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَتَأَخَّرَ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَكَانَكَ ثُمَّ أُتِيَ بِهِ حَتَّى جَلَسَ إِلَى جَنْبِهِ قِيلَ لِلْأَعْمَشِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بِصَلَاتِهِ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ بِرَأْسِهِ نَعَمْ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ بَعْضَهُ وَزَادَ أَبُو مُعَاوِيَةَ جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي قَائِمًا

    Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats berkata, telah menceritakan kepadaku Bapakku berkata, telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Ibrahim dari Al Aswad berkata, “Kami pernah bersama ‘Aisyah ketika kami menceritakan tentang masalah menekuni shalat berjama’ah dan mengutamakannya. Maka Aisyah pun berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang sakit yang membawa pada ajalnya, waktu shalat tiba dan dikumandangkanlah adzan. Beliau lalu bersabda (kepada para isterinya): “Suruhlah Abu Bakar untuk memimpin shalat bersama orang-orang.” Lalu dikatakan kepada beliau, “Sesungguhnya Abu Bakr adalah orang yang lemah dan mudah menangis (saat membaca Al Qur’an). Dia tidak akan mampu menggantikan posisi Tuan untuk memimpin orang-orang shalat.” Beliau kembali mengulangi ucapannya, dan mereka juga memberi jawaban yang sama. Hal itu terus berulang hingga tiga kali, akhirnya beliau pun bersabda: “Kalian ini seperti isteri-isteri Yusuf! Perintahkanlah Abu Bakr agar memimpin shalat.” Maka keluarlah Abu Bakr memimpin shalat jama’ah. Beliau kemudian merasa agak segar badannya, sehingga beliau keluar ke masjid dengan diapit oleh dua orang, seolah aku kedua kaki beliau menyentuh tanah karena sakit. Melihat kehadiran beliau, Abu Bakar berniat untuk mundur namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencegahnya dengan isyarat agar ia tetap pada posisinya. Kemudian beliau di dudukkan di sisi Abu Bakar.” Dikatakan kepada Al A’masy, “Apakah beliau shalat kemudian Abu Bakar shalat mengikuti shalatnya beliau, dan orang-orang shalat dengan mengikuti shalatnya Abu Bakar?” Lalu Al A’masy menjawab ‘Ya’ dengan anggukkan kepalanya.” Abu Daud juga meriwayatkannya dari Syu’bah dari Al A’masy sebagiannya, dan Abu Mu’awiyah menambahkan, “Beliau shalat dengan duduk di sebelah kiri Abu Bakar, sementara Abu Bakr shalat dengan berdiri.” (HR. Bukhari No. 624)

    Begitu pula dengan Ubay Ibn Ka’ab RA, beliau juga menangis

    حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ قَالَ سَمِعْتُ شُعْبَةَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُبَيٍّ إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ { لَمْ يَكُنْ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ } قَالَ وَسَمَّانِي قَالَ نَعَمْ فَبَكَى

    Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Ghundar berkata, aku mendengar Syu’bah, aku mendengar Qatadah dari Anas bin Maik radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ubbay: ” Allah memerintahkanku agar membacakan “lam yakunil ladziina kafaruu min ahlil kitaab”.. -al-Qur’an Surah al-Bayyinah–. Ubay bertanya; “Apakah Allah menyebut namaku?”. Beliau mejawab: “Ya”. Ubay pun menangis. (HR. Bukhari No. 3525

    Bukan hanya orang Islam, Raja Najasyi yang beragama Nasrani beserta para rahibnya menangis tatkala mereka mendengar  beberapa ayat Surat Maryam yang dibacakan oleh Ja’far Ibn Abdul Mutthalib RA. Peristiwa tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Maidah ayat 83 :

    وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ تَرَىٰٓ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ ٱلدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا۟ مِنَ ٱلْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ

    “Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).”

    Sekarang tinggal kita, bagaimana ?

    Menangis bukan hal yang wajib ketika membaca atau mendengar ayat Al-Qur’an. Namun menyimak bacaan Al-Qur’an disertai dengan  mentadabburinya sangat dianjurkan. Dengan memahami dan meresapi makna ayat-ayat Al-Qur’an, orang beriman sangat takut dengan ancaman dan siksa neraka dan merasa dirinya kecil di hadapan Allah SWT. Adakalanya kita manusia merasa besar dengan harta kita, jabatan kita, popularitas kita, strata sosial kita dan lain-lainnya. Dengan mentadabburi Al-Qur’an, in sya Allah hati kita akan bersih dan menangis dengan spontan, tidak dibuat-buat.

    Jika hati tidak tersentuh dengan ayat-ayat Allah, bisa jadi faktornya adalah :

    1. Jarang atau malas membaca atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an
    2. Tidak bisa membaca Al-Qur’an dan tidak mau belajar membacanya. Alangkah ruginya jika mati dalam keadaan tidak bisa membaca Al-Qur’an.
    3. Tidak faham isi kandungan Al-Qur’an dan malas mempelajarinya.
    4. Faham isi Al-Qur’an, tapi tidak mau mengamalkannya.
    5. Angkuh dan keras hati.

    Siapa pun kita,  marilah kita tanamkan semangat dan keinginan dari diri kita untuk senantiasa mempelajari, memahami dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an. Semoga kelak Al-Qur’an menjadi sebab penolong kita di Akhirat, aamiin.

    Wallahu a’lam.

    Ridwan Shaleh

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Workshop Digitalisasi Hadis – IAIN Samarinda 2019

    Workshop Digitalisasi Hadis – IAIN Samarinda 2019

    Bogor, 13 Oktober 2019. Pada tanggal 6 -13 Oktober 2019 telah diselenggarakan workshop digitalisasi hadis mahasiswa IAIN Samarinda di Pesantren PKH Cinagara, Bogor.

    Dalam kurun waktu 7 hari mahasiswa jurusan ilmu hadis diberikan materi tentang pengantar desain aplikasi, aplikasi pengolah grafis Adobe Fireworks, Meme Dakwah, CMS tematik PKH sampai membuat proses bundling menjadi sebuah aplikasi yang siap di install dan digunakan di perangkat Android.

    Dalam materi pengantar desain aplikasi, mahasiswa diajarkan dasar ilmu dan konsep desain grafis, UI dan UX serta peng-aplikasiannya. Target dari materi ini mahasiswa mampu membuat desain aplikasi Arbain Nawawi berdasarkan materi dan konsep desain yang telah disampaikan sebelumnya.

    Sebagai penunjang proses desain, mahasiswa diajarkan cara menggunakan aplikasi Adobe Fireworks sebagai alat bantu dalam membuat desain, seperti: desain aplikasi, meme dakwah, icon, mainbanner dan lain sebagainya.

    Dengan fasilitas CMS PKH, mahasiswa dimudahkan dalam menyusun dan meng-input konten hadis sampai meng-aplikasikan desain yang sudah dibuat sebelumnya. Dengan bantuan aplikasi ini juga, mahasiswa tidak perlu mempelajari proses programing untuk membuat sebuah aplikasi Android, mereka cukup fokus untuk menyiapkan konten.

    Selain workhop digitalisasi, mereka juga diwajibkan menghafal hadis termasuk matan, yang diambil dari 40 hadis yang mudah dihafal. Sebagai penghilang penat, kami juga mengadakan acara Cerdas Sirah, yaitu acara cerdas cermat yang materinya diambil dari Sirah Nabawiyah. Dan sebagai kegiatan penutup, mahasiswa melakukan perjalanan ke air terjun Cikaracak yang berada tidak jauh pesantren PKH.

    Dengan semangat pemuda, Alhamdulillah mahasiswa dapat menyelesaikan beberapa tugas pembuatan aplikasi. Berikut aplikasi yang selesai dibuat selama mengikuti workshop:

    A. Aplikasi Arbain Nawawi

    B. Aplikasi Kelompok Hadis Tematik 

    Penasaran dengan hasilnya, silakan download langsung via google play.

     

     

  • Ya Allah, Pertemukanlah Kami dengan Bulan-bulan Mulia !

    Ya Allah, Pertemukanlah Kami dengan Bulan-bulan Mulia !

    Hadis Al-Imam Al-Bukhari No. 4294

    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ ابْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad Ibn Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami  Ayyub dari Muhammad Ibn Sirrin  dari Ibn Abu Bakrah  dari Abu Bakrah dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya waktu berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya’ban.’

    Hadis semisal juga diriwayatkan oleh Muslim no. 3.179 dan Ahmad No. 19.492

    Hadits di atas merupakan penjelasan (tafsir) dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam terhadap ayat 36 surat At-Taubah :

    إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ

    “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

    Sebagaimana teks hadis di atas, bahwa 4 (empat) bulan yang dimuliakan adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan berturut-turut) dan terakhir adalah bulan Rajab. Allah berpesan kepada kita agar tidak menzhalimi (menyakiti) diri sendiri pada bulan yang empat itu. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa berbuat zhalim haram dilakukan kapanpun, setiap waktu, bukan hanya terbatas pada empat bulan tersebut. Akan tetapi jika kita berbuat zhalim atau bermaksiat di bulan haram, dosanya dilipatgandakan sebagaimana dilipatgandakannya dosa untuk orang yang berbuat zhalim dan maksiat di Tanah Haram. Tentu sebaliknya, beribadah dan beramal shaleh di bulan mulia, pahalanya dilipatgandakan oleh Allah SWT. (lihat Tafsir Jalalain, Ibn Katsir, Al-Baghawi dan lain-lain).

    Selain itu, menurut sejarah, banyak terjadi peristiwa-peristiwa penting di bulan-bulan Haram. Misalnya. Nabi Musa Alaihis Salam dan kaumnya yang beriman diselamatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya pada tanggal 10 Muharram. Nabi Ismail ditebus dengan qibas pada tanggal 10 Dzulhijjah. Begitu juga dengan Nabi Nuh Alaihis Salam. Qatadah Rahimahullah, seorang pakar Tafsir Al-Qur’an, murid utama Sahabat Abdullah Ibn Mas’ud Radhiyallahu Anhu Meriwayatkan bahwa Nabi Nuh Alaihis Salam menaiki perahu dengan membaca Bismillahi Majreeha Wa Mursaha. Kapal berangkat pada tanggal 10 Rajab (bulan haram), berlayar di atas air bah selama 150 hari. Kemudian Allah SWT memerintahkan langit agar tidak lagi menurunkan hujan. Begitu pula dengan bumi, Allah perintahkan bumi agar menelan airnya. Karena air surut sedikit demi sedikit, maka perahu tersebut tersangkut di atas bukit “Judiy” pada tanggal 10 Dzulhijjah (bulan mulia). Karena air masih tinggi, Nuh As menunggu proses surutnya air dan bertahan di perahu selama satu bulan. Begitu air benar-benar surut, maka Nuh As dan kaumnya yang beriman turun dari perahu pada tanggal 10 Muharram (bulan mulia).

    Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mempertemukan kita kembali pada 4 bulan mulia yang akan datang, aamiin.

    Wallahu a’lam.

    Ridwan Shaleh

    Referensi :

    • Fath Al-Bari’
    • Tafsir Ibn Katsir
    • Tafsir Al-Baghawi
    • Tafsir Al-Jalalain
    • Tafsir Mafatih Al-Ghaib (Fakhruddin Al-Razi
    • Tafsir Al-Lubab Fi Ulum Al-Kitab

     

     

    .

  • Workshop Guru Tahfizh Al-Qur’an Profesional

    Workshop Guru Tahfizh Al-Qur’an Profesional

    Pusat Kajian Hadis (PKH) bekerja sama dengan Yayasan Dana Abadi Karya Bakti (DAKAB) menyelenggarakan Workshop Guru Tahfizh Al-Qur’an Profesional. Worshop dilaksanakan di Villa Yayasan DAKAB selama dua hari, Sabtu-Minggu, 14-15 September 2019, diikuti oleh 11 Madrasah/Sekolah, yaitu :

    1. SMP MADINA ISLAMIC SCHOOL
    2. SMP AZHARI RASUNA ISLAMIC SCHOOL
    3. SMPIT AS-SALAM
    4. SMPIT AN-NIZHOMIYAH
    5. SMP KHOIRUR ROZIQIN
    6. MTSN 41 AL AZHAR ASY-SYARIEF
    7. MTSN 4 JAKARTA SELATAN
    8. MTSN 39 JAKARTA UTARA
    9. MTSN 17 JAKARTA TIMUR
    10. MTSN 36 JAKARTA BARAT
    11. MAN 7 JAKARTA SELATAN

    Materi Worksop Guru Tahfzih Al-Qur’an Profesional meliputi :

    1. Problematika Tahfizh Al-Qur’an dan Keistimewaannya.

    Materi ini membahas secara detail segala macam problematika yang terdapat di sekolah penyelenggara Program Tahfizh. Narasumber membantu para peserta untuk menganalisa dan mengidentifikasi problematika yang ditemukan, baik dari sisi metodologi, sumber daya guru, kebijakan sekolah, siswa dan segala hal yang mempengaruhi potensi maju dan mundurnya program tahfizh. Setelah menganalisa dan mengidentifikasi, para peserta mengikuti sharing antar guru tahfizh untuk menemukan solusi yang tepat.

    1. Pengembangan Wawasan Ilmu Tajwid Khusus.

    Pada sesi ini para peserta diberikan materi ilmu tajwid tingkat lanjutan. Materi ini diberikan dengan tujuan agar guru lebih mudah mengajarkan Tahsin Qira’ah Al-Qur’an kepada anak didik, baik kecakapan didaktik praktik dan teoritis. Materi yang disampaikan narasumber mencakup : Membedah Huruf Hija’iyah Melalui Makhraj Dan Sifatnya, Qira’ah Gharibah dan Pemantapan Qira’ah Individual.

    Jadwal kegiatan workhop  sangat padat, namun seluruh peserta sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara dan materi yang disampaikan oleh Ust. Ridwan Shaleh, Al-Hafizh.

    “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa mengikuti Workshop Guru Tahfizh Al-Qur’an Profesional. Seluruh materi yang disampaiakn sangat menyentuh persoalan dan sangat subtansial, baik secara teknis maupun non teksnis. Selain itu, materi ilmu tajwid yang disampaikan oleh Ustadz Ridwan sangat luar biasa. Materi tajwid yang disampaikan sangat detail dan sangat mudah difahami. Selain melatih pelafalan makhraj dan sifat huruf, narasumber juga memberikan materi Qira’ah Gharibah yang tidak umum, lain dari biasanya. Dan yang kami lebih salut, beliau menyampaikan materi yang cukup berat ini  tanpa terkesan menggurui sedikitpun. Selain kepada narasumer, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pimpinan PKH, Al-Mukarram DR. KH. Ahmad Lutfi Fathullah beserta staf, juga kepada Ketua Pelaksana Harian Yayasan DAKAB, yang tercinta Ibunda Hj. Susan Narulita beserta staf dan tentunya kepada ketua panitia, Ust. Tarsim Fillah, S.Kom dan semua rekan panitia. Semoga ilmu yang kami peroleh bermanfaat guna mengembangkan Program Tahfizh Al-Qur’an di lembaga kami masing-masing, aamiin”, ujar salah satu peserta workhop.

     

     

     

  • PPL Mahasiswa IAIN SALATIGA

    PPL Mahasiswa IAIN SALATIGA

    Sedikitnya 25 mahasiswa dan 5 (lima) Dosen Pendamping bersilaturahmi ke Pusat Kajian Hadis pada hari ini, Rabu, 4 September 2019.

    Rombongan merupakan utusan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga Fakustas Ushuluddin, Adab dan Humaniora yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) selama beberapa hari.

    Kunjungan Silaturahmi dan PPL di Pusat Kajian Hadis diterima langsung oleh Kyai Lutfi dan Tim PKH. Para mahasiswa dibekali wawasan mengenai Hadis dan Ilmu Hadis oleh Pak Kyai. Selain wawasan, Pak Kyai selalu memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar terus berkarya untuk  berkhidmah kepada Allah, Rasul-Nya, agama  dan bangsa.