Akidah

Percaya pada hari dan bulan tertentu

Kinta Mahadji - December 26, 2020

Assalamualaikum ustad, saya mau bertanya. Bagaimana pandangan islam tentang adanya hari atau tanggal dan bulan yg baik dan buruk menurut hitungan bulan jawa. Apakah itu sesuai dengan ajaran islam? Apakah termasuk perbuatan yg syirik ustad jika kita mengganggap akan ada sesuatu yg buruk jika kita tidak mengikuti sesuatu sesuai hari dan tanggal yg baik menurut perhitungan bulan jawa tersebut?

Wa alaikumus salam wr wb.

Nikmat dan kemalangan semuanya berasal dari Allah. Allah tidak mungkin salah dalam memberikan nikmat dan kemalangan. Logikanya, selain Allah tidak akan pernah bisa memberikan manfaat dan mudharat, baik itu dokter, guru, dosen, tentara, apalagi batu atau hari. Dokter memberikan manfaat ilmu kesehatan, pada hakikatnya berasal dari Allah dan idzin dari Allah. Dokter adalah sebab. Obat adalah sebab atau sarana. Dokter bukan Allah.

Begitu pun dengan hari dan waktu, mereka semua makhluk ciptaan Allah, tidak bisa memberikan manfaat atau mudharat secara hakikat.

Disamping itu, ada yang namanya sunnatullah (sebab akibat). Kepala bisa pecah terbentur aspal yang keras akibat kecelakaan karena tidak memakai helm saat berkendara roda dua. Pecahnya kepala tersebut bukan karena sang pengendara mengoperasikan kendaraaannya pada hari tertentu. Masa iya sih karena berkendara hari Senin atau Selasa, atau Rabu bisa menjadi alasan karena hari tersebut adalah hari kemalangan (sial) menurut hitungan-hitungan tertentu.

Satu lagi, jika memang hari atau waktu tertentu bisa dihitung sebagai hari sial, apa manfaatnya tawakkul ? satu lagi deh, jika memang hari atau waktu tertentu berdasarkan perhitungan seseorang bisa menyebabkan sial, kenapa hasilnya berbeda satu sama lain? Kenapa hasil hitungannya tidak seragam? Mungkin ada horoscop Jepang, Jerman, Amerika, Cina dan lain-lain yang hasilnya tidak sama terhadap perhitungan hari sial ?

Percaya bahwa waktu atau hari bisa menyebabkan sial  merupakan korban dari pengaruh syaithan yang tugasnya mempengaruhi orang agar takut dan sedih. Mudharat atau keburukan itu hanya terjadi karena kehendak Allah, bukan kehendak makhluk. Syaithan berupaya agar orang-orang beriman tidak lagi bertawakkul kepada Allah.

إِنَّمَا ٱلنَّجْوَىٰ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ لِيَحْزُنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَيْسَ بِضَآرِّهِمْ شَيْـًٔا إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ  وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.” (Q.S. Al-Mujadilah : 10)

Syaithan juga membuat manusia was-was, ragu-ragu dan cemas. Semua itu bertujuan agar manusia tidak lagi beriman dan yakin kepada Allah Yang Maha Memberikan Manfaat dan Mudharat.

ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ

“Yang membisikkan ke dalam dada manusia.” (Q.S. An-Nas : 5)

Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada Thiyarah (menganggap sial terhadap sesuatu tanpa sebab akibat).

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا طِيَرَةَ وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ

“Sesungguhnya  Abu Hurairah(5) berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada thiyarah (menganggap sial pada sesuatu sehingga tidak jadi beramal) dan yang baik adalah Alfa`lu.” Para sahabat bertanya; “wahai Rasulullah apakah Al fa`lu itu?” beliau menjawab: “Yaitu kalimat baik yang di dengar oleh salah satu dari kalian.” (HR. Bukhari)

Apakah Thiyarah bisa berakibat syirik ? Tentu saja, mempercayai makhluk bisa memberikan manfaat dan mudharat termasuk perbuatan syirik dan yang melakukannya wajib bertaubat.

Wallahu A’lam.